fbpx

0
0
0
s2sdefault

"Hukum Sontoloyo" atau "Hukum Mati"

 

Kasus Suap APBD Provinsi Jambi, mantan Gubernur ZZ dituntut hukuman 8 tahun penjara dan denda 1M.

Jika menangani para koruptor dengan "Hukum Sontoloyo" bukan dengan "Hukum Mati", maka korupsi dan suap akan terus saja marak, tidak pernah surut walau sudah banyak yg ott.

Tuntutan hukum penjara untuk mantan Gubernur Jambi ZZ cuma 8 tahun, dan nantinya jika sudah jadi narapidana paling hanya menjalani 1/2 dari masa hukumannya setelah potong sana potong sini, potong komisi dan potong remisi.

Semua yg ott atau tersangka korupsi tidak ada yang diborgol tangannya, tidak ada yg terlihat rasa malu, senyam senyum melambaikan tangannya, dasar Sontoloyo.

Para capres dan caleg tidak satupun yg berkomitmen penegakan hukum dengan membuat UU Hukum Mati Koruptor.

Para capres dan caleg hamya sibuk menjual dirinya untuk dilirik dan dipilih oleh rakyat. Apakah rakyat juga sudah jadi "Rakyat Sontoloyo" memilih capres dan caleg  "Sontoloyo" yg tidak serius memberantas korupsi.

Jika tidak mau disebut "Ralyat Sontoloyo" maka jangan pilih capres dan caleg yg tidak komitment Hukum Mati Koruptor

.Palu Hakim2 thumbnail

0
0
0
s2sdefault
0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

Momen saat Suharto mendatangi Iwan Adranacus di ruang sidang. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Solo - Pemandangan mengharukan terlihat sebelum persidangan kasus dugaan pembunuhan yang dilakukan bos pabrik cat Iwan Adranacus. Ayah korban Eko Prasetio, Suharto justru memeluk hangat Iwan.

Suharto yang melihat Iwan duduk di kursi di barisan depan langsung menghampirinya. Iwan menunjukkan wajah kaget karena tiba-tiba Suharto memeluk, bahkan mencium pipi dan kening Iwan.

Suharto mengucapkan telah memaafkan dan mengikhlaskan kejadian yang menimpa anaknya. Sedangkan Iwan kemudian menyampaikan permintaan maaf atas tindakannya.

Usai persidangan, Suharto mengatakan pelukannya kepada Iwan tersebut dilakukan secara spontan. Dia berharap dengan memaafkan justru akan mendapatkan kebaikan.

"Itu tadi spontan. Mudah-mudahan dengan saya memaafkan, akan diberi yang terbaik. Karena hidup ini sementara, yang langgeng itu akhirat," kata Suharto kepada wartawan di Pengadilan Negeri Surakarta, Selasa (6/11/2018).


Dia juga mengaku ikhlas atas kepergian anaknya yang bernama Eko Prasetio itu. Dia yakin anak hanyalah titipan dari Tuhan.

"Ya saya menyadari bahwa anak saya hanya titipan dari Allah SWT, sudah takdir anak saya meninggal seperti itu," ujar dia.

Adapun dalam kasus ini, Iwan Adranacus diduga melakukan pembunuhan dengan cara menabrakkan mobilnya kepada pemotor bernama Eko Prasetio pada 22 Agustus 2018 lalu di Jalan KS Tubun, samping Mapolresta Surakarta.

Berawal dari cekcok karena masalah lalu lintas, keduanya melakukan aksi saling kejar. Hingga akhirnya Iwan menabrak Eko dari belakang hingga tewas. (bai/sip)
 
0
0
0
s2sdefault
0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

 Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemilik maskapai penerbangan Lion Air, Rusdi Kirana bertemu dengan ratusan anggota keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP dalam konferensi pers penjelasan evakuasi korban di Hotel Ibis Cawang, Jakarta Timur, Senin (5/11/2018).

Mengenakan kemeja putih, Rusdi bersama Dirut Lion Air Edward Sirait dan jajaran direksi maskapai penerbangan Lion Air memasuki aula yang sudah dikerumuni keluarga korban. Mereka duduk di barisan paling depan.

Hadir Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Dirut Lion Air Rudi Lumingkewas, Kepala Badan Nasional Pencarian, Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya M Syaugi.

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault

Surat terbuka kepada semua pihak berwenang yang dapat mengusut kasus ini.

Kasus recehan, cuma ribuan, tapi bukan tidak mungkin bisa mencapai triliunan.
Ini bukan Hoax, ini fakta, bisa dibuktikan.

Indosat Bekerjasama Dengan Provider Layanan SMS Konten Mengambil Pulsa Untuk Layanan Yang Tidak Dipakai Customer.

0
0
0
s2sdefault

0
0
0
s2sdefault
 

 

Dream – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengunduh informasi dalam Flight Data Recorder (FDR) pesawat Lion Air JT610.

Data dalam black box itu menunjukkan adanya kerusakan teknis pada pesawat yang jatuh ke perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin 29 Oktober 2018 lalu itu.

0
0
0
s2sdefault