fbpx

0
0
0
s2sdefault

1579910616119Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra (tengah) bersama enam direktur lainnya dalam acara temu media di kantor Garuda Indonesia, Tangerang, Kamis, 23 Januari 2020. TEMPO/Francisca

SitindaonNews.Com | PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk akan mencari utang baru untuk menutupi utang lama yang jatuh tempo Mei 2020. Totalnya mencapai US$ 500 juta atau sekitar Rp 6,82 triliun. 

“Kami lagi perpanjang, restructuring, kami akan raise fund lagi,” kata Direktur Utama Garuda Irfan Setiaputra usai bertemu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat, 24 Januari 2020.



Namun Irfan memastikan, utang baru yang akan dicari perusahaan tidak akan sebesar Rp 6,8 triliun. Sebab, sebagian utang lama tersebut akan dibayar dengan kas perusahaan. “Tapi mayoritas tetap (dibayar) dengan utang baru,” kata dia.

Sebelumnya, anggota Ombudsman Alvin Lie mengingatkan sejumlah hal kepada direksi baru Garuda soal utang Rp 6,8 triliun ini. Menurut Alvin, utang ini tidak akan mungkin dibayar dari modal atau hasil bisnis Garuda. Kemungkinan akan dibayar lewat utang baru. “Nah, utang baru ini harus lebih murah dari utang lama,” kata dia.

Tak hanya soal utang, Alvin juga meminta Irfan Cs untuk memperkuat rasa kebersamaan di Garuda Indonesia. Saat ini, kata dia, ribuan karyawan Garuda masih terkotak-kotak. “Ada yang merasa lebih Garuda dari yang lain,” kata dia.

Ketiga, ia meminta Garuda Indonesia juga dijauhkan dari campur tangan politik. Meski menjadi BUMN, kata Alvin, tapi sebaiknya Garuda fokus menjalankan tugas-tugas dari negara.

Keempat, Alvin meminta Garuda Indonesia melakukan peremajaan pesawat. Saat ini, kata dia, rata-rata umur pesawat di Garuda mencapai 8 hingga 10 tahun. Dari aspek keselamatan sebenarnya tidak ada masalah. “Tapi efisiensi dan daya tarik maskapai ini ke depannya jadi menurun,” kata dia.

Sumber: tempo.co


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh