Search
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 26
Umur berapa anak² sebaiknya bisa mulai dididik untuk melawan LGBT?
Pendidikan mengenai nilai-nilai keluarga, moral, dan keyakinan merupakan proses yang bertahap.
Para ahli perkembangan anak menyarankan agar materi yang diberikan selalu disesuaikan dengan daya tangkap dan kematangan emosional anak di setiap jenjang usia.
Berikut adalah tahapan pendekatan yang bisa dilakukan:
1. Usia Dini (3–6 Tahun): Penguatan Identitas Diri
Pada tahap ini, anak belum membutuhkan pemahaman tentang konsep seksualitas yang kompleks. Fokus utama adalah pada pembentukan pondasi.
a. Mengenal Fitrah: Ajarkan perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan secara sederhana melalui ciri fisik dan pakaian.
b. Pendidikan Adab: Tanamkan rasa malu, seperti kebiasaan menutup aurat dan tidak berganti pakaian di depan orang lain.
c. Kedekatan Emosional: Perkuat figur ayah bagi anak laki-laki dan figur ibu bagi anak perempuan agar mereka memiliki model peran yang jelas.
2. Usia Sekolah Dasar (7–12 Tahun): Penanaman Nilai & Batasan
Di usia ini, anak mulai bersosialisasi dan mungkin mendengar istilah-istilah baru dari lingkungan atau internet.
a. Dialog Terbuka: Jika anak bertanya, berikan jawaban jujur namun sederhana sesuai nilai agama dan budaya yang Anda anut.
b. Edukasi Media: Mulailah mendampingi anak saat menggunakan gadget. Jelaskan bahwa tidak semua yang terlihat di layar sesuai dengan prinsip yang dipegang keluarga.
c. Kesehatan Reproduksi: Berikan pemahaman dasar tentang organ reproduksi dan fungsi sosialnya sesuai norma yang berlaku.
3. Usia Remaja (13 Tahun ke Atas): Penguatan Logika & Prinsip
Remaja sudah mulai berpikir kritis dan menghadapi tekanan teman sebaya (peer pressure).
a. Diskusi Kontekstual:** Diskusikan isu LGBT dari berbagai sudut pandang—baik agama, hukum di Indonesia, maupun dampak sosial—secara lebih mendalam.
b. Ketegasan Prinsip: Ajarkan mereka untuk berani berbeda dan teguh pada keyakinan meskipun lingkungan sekitar memiliki tren yang berbeda.
c. Sikap Bijak: Tanamkan bahwa menjaga prinsip tidak harus dilakukan dengan kekerasan, melainkan dengan menjaga jarak dari perilaku yang dianggap menyimpang sambil tetap menjaga etika berkomunikasi.
Hal Penting yang Perlu Diperhatikan:
a. Kepercayaan adalah Kunci: Pastikan anak merasa aman bercerita kepada Anda tentang apa pun yang mereka temui di luar. Jika orang tua terlalu reaktif, anak cenderung akan menyembunyikan informasi.
b. Keteladanan: Anak adalah peniru yang ulung. Keharmonisan hubungan ayah dan ibu di rumah menjadi contoh nyata paling kuat tentang konsep keluarga bagi mereka.
Semoga mencerahkan kita semua.
Sumber: FB DR Berlian Siagian https://www.facebook.com/share/17mrAXbRth/
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 97
Mengapa Banyak yang Menderita Setelah Usianya Diatas 60 Tahun?
Ketika Anda Berusia diatas 60 tahun, anda merasa mulai kesepian. Seluruh hidupmu yang telah anda berikan kepada orang-orang yang kau sayangi, sekarang tidak lagi berada disampingmu, termasuk anak-anakmu sendiri. Mereka semua tidak seperti yang anda harapkan, tidak seperti yang anda yakini dahulu.
Semua kenyataan itu akan merubah dalam dirimu. Anak-anakmu, tidak lagi berada disampingmu. Walaupun mereka mungkin masih menyayangimu, tetapi karena mereka sudah memiliki hidupnya sendiri, mrmiliki prioritasnya sendiri. Mereka sangat sibuk berjuang atas hidup mereka sendiri.
Ingat, Harapannu itu bisa menimbulkan rasa sakit di hari tuamu. Semakin besar harapanmu pada orang lain termasuk anak-anakmu, akan semakin besar rasa kecewa di hari tuamu. Jangan pernah mengharap kebahagiaanmu datang dari orang lain. Kebahagiaanmu harus datang dari dalam dirimu sendiri. Kesadaran ini harus muncul dari dalam Dirimu.
Melatih diri Hati tetap kuat ketika mulai ditingalkan oleh orang-orang yang dulu kau berikan seluruh hidupmu. Satu atau dua orang yang menyayangi di hari tuamu sudah sangat cukup.
Pada usia diatas 60 tahun, keluarga memang masih sangat penting, tetapi kedamaian dan ketentraman hatimu adalah yang paling penting. Rasa kesepian adalah datang dari perasaammu sendiri karena Anda merasa terputus hubungan dengan orang-orang yang Anda Sayangi.
Jangan pernah merasa putus hubungan. Karena pada dasarnya Jiwa adalah sendirian.
Anda datang ke Bumi sendirian, dan akan pergi juga sendirian. Maka dari itu "Jangan mengikatkan diri pada orang lain siapapun juga". Lepaslah semua Kemelekatan, agar supaya Dirimu dapat menemukan kebahagiaan yang sejati. Anda boleh memiliki, boleh menikmati tetapi jangan melekat agar tidak ada lagi rasa takut kehilangan, tidak ada lagi rasa hubungan yang putus. Karena Jiwamu memang hanya seorang diri. Sadari bahwa Semua pencapaianmu sepanjang hidup di Bumi ini nanti akhirnya hanyalah pengalaman Jiwa saja.
R . M. Noto Widjojo https://www.facebook.com/share/p/1CUG8YfvaZ/
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 90
LGBT Merangkai Duka
Dulu takut menjaga anak perempuan. tetapi sekarang lebih takut lagi menjaga anak laki-laki.
--------
Copas tulisan dari dr. Ani Hasibuan, ahli syaraf di RSCM.
Sekedar berbagi cerita dari poliklinik syaraf untuk para orang tua, supaya kita semakin gencar menjaga lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal dan sekolah.
Sejak 1997 saya berurusan dengan para gay. Sampai hari ini belum pernah absen. Mereka pasien terbanyak HIV yang saya tangani. Yang hidup tinggal beberapa sih. Barusan suster saya lapor ada lagi yg meninggal 3 hari lalu, dengan kriptokokus meningitis (infeksi jamur di otak).
Dari pengamatan saya, gay itu ada “kasta”nya.
Ada yang dominan; biasanya yang punya uang & lebih tua secara umur.
Ada yang submissif; kalau saya perhatikan, semacam “piaraan”. Piaraan ini berkasta juga, ada anak muda putih bersih klimis dari kalangan keluarga menengah. Ada juga yang kelas sandal jepit (bukan yang harga 18 ribu ya... )
Perlakuan dari yang dominan pada piaraan juga berbeda, sesuai KW si piaraan. Yang KW ori diperlakukan sangat istimewa.
Waktu saya kerja di klinik HIV RSCM, pernah dapat pasien mahasiswa universitas swasta terkenal di Jakarta yang kena meningitis kriptokokus (jamur otak). Orang tuanya pekerja petrol, tinggal di Dallas, USA. Dia di sini tinggal sendiri. Anaknya tampan, klimis & kelihatan anak baik. Sang dominan sering ikut mengantar kalau kontrol. Jangan kaget ya... dominannya ini seorang aktivitis LSM anti HIV! Itu kalau si pasien saya ini mengeluh sakit kepala, si dominan ini mengelus2 punggung si submissif sambil bilang, “Sakit ya sayang? Yang mana yg sakit? Sabar ya sayang..” (Untung saya masih setia pada sumpah hipocrates. Kalau saya berkhianat, si dominan itu mau saya suntik fentanyl 1000 cc biar mokat, mampus..!).
Tetapi saya pernah juga mendapat seorang dominan yang kena infeksi di medulla spinalis, spondilitis Tuberculosis. Jadi lumpuh kedua kakinya tiba2. Pas dirawat, submissifnya datang menemani. Si submissifnya dibentak2, gak ada sayang2nya. Si submissif ini tampilannya sih kelas sandal jepit, manggil dominannya "Abaaangg...”
(jijik ya mendengarnya ).
Ada juga piaraan bayaran. Satu pasien saya asal Jogja (sekarang sudah meninggal dengan toksoensefalitis; bisul di dalam otak, karena kuman toksoplasma yang sering menempel di badan kucing, anjing). Mengaku dia bayaran, dipiara seorang laki2 Cina utk bayaran 1000 sampai 2000 USD per bulan. Uangnya dia kirim ke Jogja untuk anak & istrinya... Dia ini sejatinya bukan gay, jadi semacam pelacur lelaki (gigolo) yang kerja sebagai caddy lelaki di satu lapangan golf di Tangerang. Waktu ketahuan HIV & tokso, menangis meraung2. Selama dirawat baca Qur’an terus. Kalau saya periksa selalu terisak2 & bilang menyesal. Pas ketemu bininya saya yang berkaca2. Sebab bininya perempuan berhijab rapi dgn dua balita yang juga berhijab.
Ada juga gay kakak adik. Sejak kecil dikasih satu kamar dan satu ranjang oleh emak bapaknya. Pas gede, tau2 yang kakak kena kriptokokus. Dicek HIV positif. Ditanya pasangannya siapa? Dia bilang adiknya. Pas adiknya dicek, positif juga HIV-nya. Kedua2nya sudah meninggal, dalam satu ruang rawat yg sama. Ayahnya sampai anak2 itu dikubur pun enggak pernah mau datang menengok. Kecewa berat.
Hati-hati dengan anak-anak....
Ajarkan mereka untuk bertindak agresif kalau ada yang coba2 menggoda (gay).
Jangan kasih ampun, langsung pukuli beramai2..!! Pengalaman saya dari anak2 yang tegoda para 'penyuka anus' ini, mereka makin agresif kalau yang digoda diam atau menunjukkan rasa takut. Tetapi langsung berhenti kalau yang digoda langsung main fisik. (Beberapa anak muda yang digoda gay konsultasi ke saya bersama ortunya).
Bila anak bepergian, jangan ijinkan kalau sendirian...!
Usahakan beramai2, supaya nyalinya tidak ciut kalau ada gay yang datang menggoda. Mereka bisa menawarkan apa saja; bisa uang, bisa bujuk rayu, bahkan ancaman.
Dari wawancara dengan pasien2 gay, mereka ini tadinya SEMUA pernah mengalami anal seks, sebagian besar secara paksa! Setelahnya mereka akan sangat dijaga & ditemani oleh kelompok gay. Pergaulannya diganti jadi pergaulan gay, dst.
Cerita tentang gay semua berakhir TRAGIS...!!! Belum pernah saya dengar yang berakhir seperti di cerita fairytopia... Misalnya berakhir kayak Cinderella, happily ever after... Kisah para gay berakhir dengan toksoplasmosis, kriptokokus tuberculosis, pnemonia, kandida, dan diujungnya mati sendirian tanpa didampingi kaumnya.
Semoga bermanfaat dan mencerahkan kita semua...
----
Bila Anda menganggap bahwa tulisan ini bagus dan perlu diketahui oleh banyak orang, tolong bagikan kepada teman, kerabat serta handai-taulan yang lain. Demi menyelamatkan generasi penerus bangsa....
Terimakasih dr. Ani Hasibuan.
Semoga informasi ini dapat membantu para orang tua yang awam tentang LGBT...
Sumber: FB DR Berlian Siagian https://www.facebook.com/share/p/1Dsd6J2s3A/
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 33
Perbandingan Risiko Penularan HIV
Mana yang lebih banyak menularkan HIV Lelaki Seks Lelaki atau Lelaki Selingkuh dengan Perempuan Yang bukan Isterinya?
1. Lelaki Seks Lelaki (LSL)
- Secara global, kelompok ini memiliki prevalensi HIV yang jauh lebih tinggi dibanding populasi umum.
- Penularan terutama terjadi melalui hubungan seks anal tanpa kondom, yang secara biologis memiliki risiko transmisi lebih besar dibanding seks vaginal.
- Di Indonesia, survei Kemenkes dan UNAIDS menunjukkan prevalensi HIV pada LSL bisa mencapai 10–25% di beberapa kota besar, jauh di atas prevalensi nasional (sekitar 0,7%).
2. Lelaki Selingkuh dengan Perempuan
- Risiko penularan tergantung apakah pasangan selingkuhannya termasuk kelompok berisiko tinggi (misalnya pekerja seks atau pengguna narkoba suntik).
- Seks vaginal memiliki risiko transmisi lebih rendah dibanding seks anal, tetapi tetap signifikan bila tidak menggunakan kondom.
- Prevalensi HIV pada perempuan di populasi umum Indonesia relatif rendah (sekitar 0,3–0,5%), kecuali pada kelompok pekerja seks di mana prevalensi bisa mencapai 5–10%.
- Secara epidemiologis, LSL lebih banyak menularkan HIV dibanding lelaki yang berselingkuh dengan perempuan di populasi umum.
- Namun, lelaki yang berselingkuh dengan perempuan pekerja seks atau pasangan dari kelompok berisiko tinggi juga memiliki risiko yang signifikan.
- Faktor penentu utama bukan hanya orientasi seksual, tetapi praktik seks aman (kondom, tes rutin, pengobatan ARV) dan apakah pasangan termasuk kelompok berisiko tinggi.
Semoga mencerahkan kita semua.
Sumber: FB DR. Berlian Siagian https://www.facebook.com/share/1DVb7622bw/
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 32
MENGOBATI PENDERITA HIV AGAR DAPAT BERTAHAN HIDUP.
ARV (Antiretroviral) adalah jenis obat yang digunakan untuk mengobati infeksi HIV agar dapat bertahan hidup.
Penting untuk dipahami bahwa meskipun ARV sangat efektif, obat ini bukanlah obat yang menyembuhkan HIV dalam arti menghilangkan virus sepenuhnya dari tubuh. Sebaliknya, ARV berfungsi untuk mengendalikan virus agar orang dengan HIV (ODHIV) bisa hidup sehat dan produktif.
Berikut adalah beberapa poin utama mengenai cara kerja dan fungsi ARV:
1. Cara Kerja ARV
HIV menyerang sistem kekebalan tubuh dengan cara mereplikasi (memperbanyak) dirinya di dalam sel darah putih (sel CD4).
ARV bekerja dengan cara:
a. Menghentikan replikasi:
Menghambat virus dalam berbagai tahap siklus hidupnya sehingga virus tidak bisa bertambah banyak.
b. Melindungi sistem imun:
Ketika jumlah virus di dalam darah (viral load) menurun, sistem kekebalan tubuh memiliki kesempatan untuk pulih dan jumlah sel CD4 dapat meningkat.
2. Manfaat Utama
a. Mencegah AIDS: Dengan menekan jumlah virus, ARV mencegah perkembangan infeksi HIV menjadi stadium lanjut atau AIDS.
b. Prinsip U=U (Undetectable = Untransmittable): Jika seseorang meminum ARV secara rutin hingga jumlah virusnya tidak terdeteksi melalui tes laboratorium, maka risiko penularan virus ke pasangan seksualnya secara praktis menjadi nol.
c. Meningkatkan Kualitas Hidup: Memungkinkan ODHIV memiliki harapan hidup yang setara dengan orang tanpa HIV.
3. Penggunaan ARV
a. Terapi Seumur Hidup:
Karena virus HIV tetap "bersembunyi" di dalam reservoir tubuh (sel-sel yang tidak aktif), ARV harus dikonsumsi setiap hari seumur hidup tanpa terputus.
b. Kombinasi Obat:
Biasanya ARV diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat (seringkali disatukan dalam satu pil yang disebut Fixed-Dose Combination) untuk mencegah virus menjadi kebal (resisten) terhadap obat tersebut.
Kesimpulan:
Sekali terjangkit HIV, berarti harus makan obat golongan ARV Seumur Hidup.
Semoga mencerahkan kita semua.
Sumber: FB DR. Berlian Siagian https://www.facebook.com/share/1EdWUbCbX3/