fbpx

0
0
0
s2sdefault

1575875281348Foto: Founder dan owner Roti Eneng, Sarah Diana Oktavia (35) dan roti paling populer dibeli pelanggan Creamy Grilled Cheese. (CNBC Indonesia/Thea)

Tidak jauh dari Taman Gandaria Tengah, ada sebuah kafe rumahan bernama Roti Eneng. Bisa dikatakan lokasi kafe ini tidak lazim, sebab berada di dalam komplek perumahan dan tidak berada di pinggir jalan.

Walaupun lokasi yang tidak lazim untuk berbisnis, nyatanya tidak begitu berpengaruh sebab kafe Roti Eneng tetap ramai dikunjungi. Tim CNBC Indonesia melihatnya sendiri saat berkunjung ke kafe tersebut dan berbincang dengan pemiliknya, Sarah Diana Oktavia (35).



Dengan santai dan sesekali sambil bercanda dengan beberapa karyawan, Diana menceritakan awal sejarah Roti Eneng, dan bagaimana ia bisa merawat bisnis yang dibangun sejak tahun 2014 hingga kini memiliki omzet puluhan juta dalam sehari.

Diana yang merupakan mantan copywriter dan senior kreatif di sebuah agensi, serta host acara petualangan di salah satu stasiun televisi ini memulai bisnis Roti Eneng karena mengaku lelah bekerja di industri kreatif.

"Jadi dulu aku kerja di agensi. Biasa lah kerja di agensi kan lembur melulu dan capek. At some point aku capek ngurusin brand orang lain, tapi aku sendiri gak punya brand yang menjadi legacy-nya aku," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Belajar dari Pemilik Roti Eneng: dari Karyawan ke PengusahaFoto: Varian Roti Eneng, Earl Grey Milk dan Creamy Grilled Cheese. (CNBC Indonesia/Thea Fathanah Arbar)



"Akhirnya aku mikir, apa yang bisa aku bikin. Waktu itu opportunity datang dari ibu dan kakakku yang bikin roti di rumah. Dari roti itu, aku mikir dan coba menggali apa yang aku suka. Karena aku suka dessert, akhirnya aku coba belajar bikin selai. Dari sana aku sering panggang roti untuk dibawa ke kantor," lanjutnya.

Akibat rajin membawa roti panggang dengan selai homemade tersebut, kolega-kolega di kantor lamanya malah mendukungnya untuk berjualan roti-roti tersebut. 

"Yaudah, akhirnya aku coba membuka toko roti. Waktu itu aku juga mendapatkan kesempatan menyewa toko dengan harga murah di Pasar Santa," ungkapnya.

Lalu, nama Roti Eneng sendiri merupakan nama panggilan Diana dari neneknya yang merupakan orang Sunda. "Nama Roti Eneng sendiri menimbulkan kesan hangat. Orang juga kalau mau manggil dan ingatnya juga gampang," imbuhnya.

Ketika ditanya mengapa buka kafe di rumah, Diana menjawab tidak ingin asal memiliki kafe yang bagus, tetapi juga harus ada konsep kafe yang nyaman dan homey.

"Aku pengen sesuatu yang beda, yang lebih homey atau rumahan. Kalau di sini orang datang di depannya ada taman. Abis dari sini bisa main ke taman, bisa ngobrol-ngobrol. Rasanya kayak di Bandung gitu, lebih hijau," ujarnya.

Namun Diana sempat bercerita bahwa ia terkadang rindu berjualan saat di Pasar Santa dahulu. Menurutnya ketika ia berjualan di Pasar Santa, ia merasa dekat dengan para pelanggannya.

"Enaknya waktu kecil gitu kan orang-orang pada datang, kasih support dan semua orang juga pengen ketemu kita juga. Ada juga customer juga nanya-nanya tips buka bisnis, rasanya gimana. Sekarang kan lebih susah untuk kayak gitu," ungkapnya.

Diana sendiri menuturkan pada awal membuka Roti Eneng, Diana bersama suami hanya berjualan pada akhir pekan saja, cukup 3-4 jam. Maklum, waktu itu keduanya juga masih bekerja di perusahaan lain.

"Kebetulan waktu itu antusiasnya cukup tinggi sih. Setiap buka, rotinya pasti habis dan orang-orang bisa antri sampai 30 menit sampai satu jam untuk beli roti," kenangnya.

Lebih lanjut, berbicara soal omzet, Roti Eneng kini bisa meraup Rp 10 juta hingga Rp 20 juta per hari. Berbeda dengan di Pasar Santa yang hanya mendapatkan omzet Rp 3-5 juta per hari.

"Omzetnya sendiri variatif sih. Weekdays dan weekend berbeda. Ada juga hari-hari tertentu yang ramai. Cuma kalau untuk rata-rata antara Rp 10-20 juta per hari," ungkap perempuan kelahiran 24 Oktober 1984 ini.

Omzet Besar Tak Berarti Untung Besar

Namun berbicara soal keuntungan, Diana mengaku Roti Eneng tidak menghasilkan standar keuntungan bisnis makanan yang minimal 50 persen dari omzet yang didapatkannya.

"Jujur, kalau Roti Eneng keuntungannya sih tidak sebesar itu. Karena bahan-bahan yang kita gunakan lumayan mahal, contohnya butter dan produk dairy. Selama 2-3 tahun terakhir, aku tidak pernah menaikkan harga makanan, sedangkan harga butter sendiri sampai sekarang sudah naik 5 kali lipat. Jadi setiap tahun, keuntungan Roti Eneng makin sedikit," bebernya.

Selain keuntungan Roti Eneng yang tidak mencapai 50 persen, Diana juga menghitung keuntungan dari harga per varian rasa roti panggang, makanan, dan minuman yang ada di dalam menu.

"Per varian rasa ada yang untungnya hanya 20%. Kalau ditotal dari omzet, ya enggak 50% yang kita dapatkan," lanjutnya.

Namun di sisi lain, keuntungan yang ia dapat tidak serta merta langsung masuk ke kantongnya. Diana menuturkan, jika ada keuntungan lebih, ia akan berikan kepada karyawannya.

"Kalau aku boleh menambahkan, kenapa kita untungnya tidak besar, karena aku lebih mengutamakan karyawanku. Di sini kita sudah seperti keluarga sih. Dulu sebisa mungkin kalau ada untung lebih, aku kasih bonus ke mereka, dan kalau sekarang sudah bukan bonus lagi tapi gaji mereka layak," ungkapnya.

Menurutnya, memanusiakan karyawan adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan para entrepreneur, guna melancarkan bisnis yang mereka bangun. "Kan ada orang yang mengejar keuntungan besar, tapi dengan menekan cost sumber daya manusianya. Aku percaya kalau tempat kerjanya enak, pasti karyawan akan mendoakan kita," lanjutnya.

Sejauh ini Diana memiliki 13 karyawan, dengan dua perempuan dan sisanya laki-laki. Kebanyakan dari mereka juga sudah bergabung dengan Roti Eneng sejak awal berdiri.

"Mostly dari awal aku buka usaha, mereka sudah bareng-bareng aku. Bahkan ada chef aku yang dari sebelum bukan di rumah ini udah kerja sama aku. Makanya di sini, turnover karyawannya kecil banget. Selama aku buka di sini 3 tahun, turn over-nya itu di bawah 10%," bebernya.

Lalu untuk bisa bertahan walaupun keuntungan tidak mencapai standar 50 persen, Diana menuturkan bahwa ia tidak mengikuti tren yang ada dan hanya membuat rasa makanan yang autentik.

"Aku bikin ini enggak ikut-ikutan trend atau apa. Memang kita yang pertama membuat roti bakar dan minuman kayak choco sea salt, dan marie regal. Jadi ini yang membuat orang kayak, menu-menu ini memang hanya bisa di dapatkan di Roti Eneng," jelasnya.

Lebih lanjut, Diana juga menjelaskan ada beberapa rasa selai buatan Roti Eneng yang masih susah ditiru oleh orang lain, contohnya selai Cheese Butter, Earl Grey, dan Marie Regal.

Tak Mau Buru-Buru Buka Waralaba

Diana mengungkapkan bahwa dirinya masih ragu untuk membuka waralaba Roti Eneng. Sebab tidak mudah menjaga kualitas yang sudah dibangun sejak lama. "Aku enggak mau cuma karena oh pengen buru-buru ekspansi dan punya banyak uang," ujarnya.

"Aku lihat juga banyak bisnis mereka yang enggak sustainable. Ada banyak yang booming di awal tapi tidak sustainable. Aku pengennya bisnis aku sustainable. Penginnya 1-2 tempat saja, tapi tempatnya proper, beda dan unik tapi bisa survive in a long term lah," lanjutnya.

Ia menuturkan, hanya baru ada satu kafe yang mengambil roti dan selai dari Roti Eneng, itu pun merupakan temannya sendiri. "Tapi dia jual tetap dengan nama Roti Eneng di Kemang," tukasnya.

Roti Eneng sendiri sudah memiliki lebih dari 40 menu yang didominasi oleh roti panggang dan pasta. Ada juga berbagai minuman kopi dan non kopi. Jangan lupa, pelanggan juga bisa membeli roti per loaf dengan berbagai selai homemade. Harga menu yang ditawarkan mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 60 ribu untuk makanan dan minuman.

Sumber: cnbcindonesia


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh