mod_btcterminal
>_ SITINDAON TERMINAL QUANT ENGINE
UPDATED MANUALLY
CURRENT QUANT MARKET PHASE
Bear
High Risk
AGGREGATE CAP ATH
$115,758.20
MAX RECORDED VOLUME
$874,240,269,350
MACRO HORIZON RISK RADIAL PROGRESS (0-100)
50.97%
POST-HALVING MULTI-CYCLE GROWTH CURVES
POST-HALVING MULTI-CYCLE VOLUME CURVES
>_ SYSTEM DOCUMENTATION
ⓘ CURRENT QUANT MARKET PHASE
Describes the current structural Bitcoin market regime
derived from multiple long-term macro indicators.
ⓘ AGGREGATE CAP ATH
Estimated maximum aggregate market capitalization
target generated by the valuation models.
ⓘ MAX RECORDED VOLUME
Highest normalized trading volume observed across all
historical Bitcoin cycles.
ⓘ RISK RADIAL PROGRESS
Indicates how mature the current market cycle is,
measured from 0 to 100.
ⓘ POST-HALVING GROWTH CURVES
Normalizes every Bitcoin halving cycle from Month 0,
allowing direct comparison of price performance.
ⓘ POST-HALVING VOLUME CURVES
Compares normalized trading volume after each halving
to reveal long-term participation trends.
Last Update :
2026-07-17 12:31:36
Personal Research Only
Not Financial Advice
Personal Research Only
Not Financial Advice
Search
- Details
- Category: Inspirasi dan Inspiratif
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1360
Cerita Sukses: Kisah Yoovidhya, Tukang Obat yang Jadi Juragan Kratingdaeng
Senin, 07 Jan 2019 07:48 WIB

Chaleo Yoovidhya. Foto: Dok. Reuters
Jakarta - Tahu minuman berenergi Kratingdaeng atau Red Bull? Jika ya, Chaleo Yoovidhya lah pemiliknya. Keluarga ini mendirikan Red Bull pada 1987 lalu di Thailand. Chaleo sudah meninggal pada 2012 lalu.
Mengutip Forbes, Jumat (4/1/2019), Chaleo sempat menduduki orang terkaya nomor 4 di Thailand pada periode 2012. Pria ini mempelajari obat-batan di apotek milik sang kakak. Hingga akhirnya ia memiliki perusahaan farmasi pada era 60an bertama TC Pharmaceutical Industries.
Chaleo berupaya keras untuk membuat minuman berenergi ini bisa menembus pasar internasional. Hingga akhirnya pada 1982 datang seorang pengusaha asal Austria bernama Dietrich Mateschitz datang kemudian mencoba dan sangat jatuh cinta dengan minuman milik Chaleo.
Mereka akhirnya sepakat dan Chaleo bekerja sama dengan Dietrich dengan komposisi saham 50:50 pada 1987 dan akhirnya produk bisa menembus Eropa dan 1997 masuk ke Amerika Serikat (AS).
Promosi yang dilakukan oleh Chaleo dan Dietrich sangat berbeda dengan produk lain. Mereka memasang botol raksasa di atas mobil yang berkeliling kota. Minuman ini sempat menjadi pesaing Coca Cola hingga Pepsi.
Kini bisnis raksasa itu dijalankan oleh anak serta cucunya. Putra sulung Chaleo bernama Chalerm pegang 2% saham perusahaan. Kemudian, berikutnya merupakan direktur pelaksana Red Bull Thailand.
Anak laki-laki Charlem, Varit memegang kendali di pabrik anggur dan dealer Ferrari milik keluarga mereka. Keluarga ini juga memiliki bisnis rumah sakit mewah.
Namun Vorayuth saat ini menjadi buronan Interpol karena dugaan pada kasus tabrak lari yang sangat fatal 2012 lalu.
Tak sampai di situ, keluarga ini juga masuk dalam daftar Panama Papers. Di mana keluarga ini memiliki hampir setengah lusin perusahaan anonim yang tidak membayar pajak selama dua dekade. Dalam sebuah keterangan, Red Bull menyatakan masalah tersebut adalah bersifat pribadi dan tidak akan mempengaruhi perusahaan.
Pada 2017 keluarga Yoovidhya menduduki posisi ke 22 orang terkaya di Asia. Jumlah hartanya mencapai US$ 13,1 miliar atau setara dengan Rp 189,95 triliun (kurs Rp 14.500).
Kemudian di Thailand keluarga ini menduduki posisi orang terkaya nomor empat dari daftar 50 orang terkaya Thailand 50.
(kil/ang)
Mengutip Forbes, Jumat (4/1/2019), Chaleo sempat menduduki orang terkaya nomor 4 di Thailand pada periode 2012. Pria ini mempelajari obat-batan di apotek milik sang kakak. Hingga akhirnya ia memiliki perusahaan farmasi pada era 60an bertama TC Pharmaceutical Industries.
Chaleo berupaya keras untuk membuat minuman berenergi ini bisa menembus pasar internasional. Hingga akhirnya pada 1982 datang seorang pengusaha asal Austria bernama Dietrich Mateschitz datang kemudian mencoba dan sangat jatuh cinta dengan minuman milik Chaleo.
Promosi yang dilakukan oleh Chaleo dan Dietrich sangat berbeda dengan produk lain. Mereka memasang botol raksasa di atas mobil yang berkeliling kota. Minuman ini sempat menjadi pesaing Coca Cola hingga Pepsi.
Kini bisnis raksasa itu dijalankan oleh anak serta cucunya. Putra sulung Chaleo bernama Chalerm pegang 2% saham perusahaan. Kemudian, berikutnya merupakan direktur pelaksana Red Bull Thailand.
Anak laki-laki Charlem, Varit memegang kendali di pabrik anggur dan dealer Ferrari milik keluarga mereka. Keluarga ini juga memiliki bisnis rumah sakit mewah.
Namun Vorayuth saat ini menjadi buronan Interpol karena dugaan pada kasus tabrak lari yang sangat fatal 2012 lalu.
Tak sampai di situ, keluarga ini juga masuk dalam daftar Panama Papers. Di mana keluarga ini memiliki hampir setengah lusin perusahaan anonim yang tidak membayar pajak selama dua dekade. Dalam sebuah keterangan, Red Bull menyatakan masalah tersebut adalah bersifat pribadi dan tidak akan mempengaruhi perusahaan.
Pada 2017 keluarga Yoovidhya menduduki posisi ke 22 orang terkaya di Asia. Jumlah hartanya mencapai US$ 13,1 miliar atau setara dengan Rp 189,95 triliun (kurs Rp 14.500).
Kemudian di Thailand keluarga ini menduduki posisi orang terkaya nomor empat dari daftar 50 orang terkaya Thailand 50.
(kil/ang)