Ilustrasi bepergian dengan mobil(SHUTTERSTOCK)
Pernahkah kalian merasa perjalanan pulang lebih cepat daripada berangkat, padahal waktu dan jarak tempuhnya sama? Perasaan itu juga dialami astronot Alan Bean dalam misi Apollo 12 pada 1969. Ia merasa pulang ke Bumi lebih cepat, padahal jaraknya sama dengan keberangkatan ke Bulan.
Fenomena ini dikenal sebagai "efek perjalanan pulang". Sejumlah studi menunjukkan bahwa perasaan tersebut nyata dan dialami banyak orang.
Dikutip dari NPR, salah satu penjelasan paling populer adalah perjalanan pulang terasa lebih cepat karena rutenya sudah familiar.
Artinya, seseorang lebih mengenali tempat-tempat yang dilewati sehingga merasa perjalanan berlangsung lebih cepat.
Namun, teori ini ditanggapi berbeda oleh Niels van de Ven, psikolog dari Universitas Tilburg, Belanda. “Ketika saya naik pesawat terbang, saya juga merasakan hal ini, padahal saya tidak mengenali apa pun dalam perjalanan itu,” kata van de Ven. Melalui pengalamannya itu, ia meragukan bahwa keakraban dengan rute adalah penyebab utama.
Ia pun melakukan serangkaian eksperimen untuk memahami lebih jauh efek perjalanan pulang ini.
Eksperimen dengan bersepeda
Salah satu eksperimen dilakukan dengan melibatkan sejumlah pesepeda yang menuju pekan raya. Para peserta diminta menempuh rute yang sama saat pergi. Setelah itu, mereka dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama diminta pulang melalui rute yang sama, sedangkan kelompok kedua mengambil rute berbeda dengan jarak yang persis sama.
Jika teori keakraban benar, maka hanya kelompok dengan rute sama yang akan merasa perjalanan pulang lebih singkat. Namun, hasil eksperimen justru menunjukkan kedua kelompok sama-sama merasa perjalanan pulang lebih cepat.
Menurut van de Ven, penjelasan yang lebih masuk akal terletak pada ekspektasi seseorang sebelum melakukan perjalanan.
“Sering kali kita melihat orang-orang terlalu optimistis ketika mereka mulai bepergian,” ujarnya. “Jadi ketika mereka menyelesaikan perjalanan pergi, mereka merasa perjalanan itu memakan waktu lebih lama dari yang mereka perkirakan.”
Sebaliknya, saat akan kembali mereka cenderung tidak berekspektasi sehingga perjalanan pulang terasa lebih cepat. “Ini semua tentang ekspektasi Anda, apa yang Anda pikirkan saat tiba,” kata Michael Roy, psikolog dari Elizabethtown College sekaligus rekan penulis dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Psychonomic Bulletin and Review.
Meski demikian, Roy menyebut bahwa ekspektasi bukan satu-satunya penjelasan atas fenomena ini. “Kami tidak mengatakan ini satu-satunya penyebab. Kemungkinan besar ada penyebab lain juga,” katanya.
Salah satunya adalah teori dari Richard A Block, psikolog dari Montana State University. Dia berpendapat bahwa kenapa perjalanan pulang lebih cepat mungkin disebabkan berkurangnya tekanan saat kembali dari tujuan. “Ketika Anda memiliki tujuan, Anda ingin tiba tepat waktu,” tulis Block melalui e-mail.
“Tetapi ketika Anda pulang, hal itu tidak terlalu penting. Ketika perhatian tidak teralihkan, waktu terasa berjalan lebih lambat. Namun, saat pulang, kondisi lebih santai membuat waktu terasa berlalu lebih cepat, ungkapnya. Efek perjalanan pulang sejatinya hanyalah ilusi psikologis.
Akan tetapi, menurut van de Ven, ilusi ini justru bisa memberi perasaan positif ketika seseorang sampai di rumah. “Pada akhirnya, efek pulang ini memberi Anda perasaan positif begitu Anda tiba di rumah, jadi saya tidak yakin apakah Anda ingin efek itu hilang,” ujarnya
Sumber: kompas.com
