fbpx

0
0
0
s2sdefault

IMG 20201002 212807Wakil Ketua Tim Pemenangan AMAN,  Turedo Sitindaon

Wakil Ketua Tim Pemenangan AMAN, Turedo Sitindaon menyanggah pernyataan Juru Bicara Pemenangan Bobby-Aulia, Meryl R Saragih mengenai politik dinasti dan sistem meritokrasi. Dikatakan Turedo, politik dinasti memang melekat pada Bobby. Bobby Nasution, kata Turedo, memang dikenal masyarakat Kota Medan masih hanya sebatas menantu Presiden Jokowi. Bobby sendiri mengakui itu di berbagai kesempatan.

"Karena memang Bobby tidak pernah tumbuh dan besar di Kota Medan. Inikan bisa kita lihat di daftar perjalanan hidup dia. Mulai dari sekolah dan bisnis memang dihabiskan di luar Kota Medan. Bahkan Bobby selalu menjadikan status menantu presiden itu sebagai salah satu keunggulan beliau dibandingkan Akhyar. Seperti misalnya bisa menghubungi atau menelpon menteri di pemerintah pusat. Status Bobby sebagai menantu presiden itu adalah sebuah fakta. Jadi top of mind nya Bobby adalah menantu presiden dan itu memang terasosiasikan dengan politik dinasti," kata Turedo dalam keterangan tertulisnya kepada media, Jumat (2/10/2020)

Selain itu, sambung Turedo, pemahaman Meryl mengenai sistem meritokrasi adalah bias. Dimana kemampuan atau kapasitas menjadi sebuah tolak ukur. Dalam teori meritokrasi antitesa/lawannya adalah adanya "privilege" atau sebuah hak istimewa. Kalau bahasa sederhananya nepotisme. Dimana jika seseorang memiliki privilege tersebut maka dapat mengalahkan orang yang memiliki kompetensi dan kapasitas.

Previlege inikan adanya di Bobby, bukan Akhyar. Contoh sederhana saja, privilege dalam hal pengamanan sebagai menantu presiden, itu bahkan diatur dalam Peraturan Pemerintah No 59 Tahun 2013. Dengan menyandang status menantu presiden misalnya dapat menghubungi menteri di pemerintah pusat. Dengan segala privilege yang dimiliki, menurut kami tidak sesuai dengan makna sistem meritokrasi yang digaungkan, kata Turedo.

"Kalau Akhyar jelas dalam visi dan misinya dalam mengelola pemerintahan ke depan akan menerapkan asas good governance dan clean governance. Menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih, dimana sistem meritrokasi sebagai salah satu variabelnya. Karena sistem meritokrasi sebagai ukuran, memang lebih cocok dengan Akhyar. Dimana dalam setiap pencapaian dalam hidupnya, misalnya sebagai Anggota DPRD Medan, bisnis, dan bahkan menjadi Wakil Walikota Medan selalu dicapai dengan kerja keras dan perjuangan bukan karena privilege. Jadi Akhyar tidak asing dengan sistem meritokrasi ini, karena beliau bagian dan pelaku dari sistem itu," tandas Turedo.

Sebelumnya kepada media, Meryl mengatakan, pencalonan Bobby sebagai Wali Kota Medan, bukan soal politik dinasti.

“Siapapun dia, terlepas dari dia anak presiden, menantu presiden atau bahkan rakyat biasapun, asal warga negara Indonesia dan memenuhi syarat-syarat dan mampu untuk memimpin suatu kota, dia layak untuk dicalonkan dan untuk dipilih,” katanya, Kamis (1/10/2020).

Sistem yang ingin dibangun Bobby-Aulia, kata Meryl adalah sistem meritokrasi, merit system. Yakni sistem dimana semua orang, dimana dia bisa, dia mampu, dia bisa mencalonkan diri sebagai pemimpin. “Dan disini Bobby memilih jalur pengabdian melalui politik dengan menjadi calon wali kota Medan,” terang kader PDI-P ini.


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh