SITINDAON NEWS SITINDAON NEWS

Categories

  • Trending News (723)
  • Tarombo Marga Sitindaon (48)
    • Sukacita & Dukacita (12)
  • Politik & Opini (275)
  • Ekonomi & Bisnis (274)
  • Lifestyle & Health (363)
  • Tekno & Sains (69)
  • Entertaintment (65)
    • Games (0)
  • Food & Travel (94)
  • Budaya (58)
  • Inspirasi dan Inspiratif (135)
    • Jansen Sitindaon (31)
  • Sport (16)
  • Lowongan Kerja (29)
  • International (29)
  • Mimbar HKBP (0)
    • HKBP Pasar Minggu (3)
  • Pilpres 2019 (69)
  • Hukum & Kriminal (15)

Berdiri sejak 2018

  • Login
SITINDAON NEWS SITINDAON NEWS
  • Homepage
  • Tarombo Marga Sitindaon
    • Jansen Sitindaon
  • Siapa kita?
  • MORE

    HOT CATEGORIES

    • Pilpres 2019
    • Our Social Media
    • Games

    USER

    • Login Form
    Show
    • Forgot your username?
    • Forgot your password?
  • WTNG
Berlangganan buletin kami Newsletter
  1. You are here:  
  2. Home
  3. Politik & Opini
  4. Jika Indonesia Dipimpin Kim Jong Un, Negara Kuat, Rakyat Diam

Search

Details
Category: Politik & Opini
ZA Sitindaon By ZA Sitindaon
ZA Sitindaon
06.Feb
Hits: 4

Jika Indonesia Dipimpin Kim Jong Un, Negara Kuat, Rakyat Diam

Ilustrasi Foto Ai

Jika Indonesia Dipimpin Kim Jong Un, Negara Kuat, Rakyat Diam

Tulisan ini lahir karena sebuah request dari akun Ade Muslih. "Assalamu'alaikum Bang. Kalau boleh saya mau request, Abang menjelaskan plus minusnya kalau negara kita dipimpin oleh Kim Jong Un, atau sistem pemerintahannya. Makasih sblmny ya Bang." Baik, saya coba ulas dengan gaya Koptagul, wak!

Nama Kim Jong Un itu bukan hasil pemilu. Bukan produk baliho pinggir jalan. Apalagi hasil survei “elektabilitas naik 0,7 persen”. Ia lahir dari rahim kekuasaan. Lahir 8 Januari 1983, anak Kim Jong Il, cucu Kim Il Sung, di Korea Utara, jabatan tertinggi negara diwariskan seperti rice cooker keluarga. Siapa anaknya, dialah yang pakai.

Negaranya bernama Republik Rakyat Demokratik Korea. Bunyinya demokratis, faktanya komunis. Namanya panjang dan terdengar ramah, isinya singkat dan tegas. Satu pemimpin, satu suara, satu kebenaran. Ideologinya komunisme Juche, artinya berdikari total. Berdiri di atas kaki sendiri, menutup telinga, menutup mata, lalu bilang ke dunia, “Kalian iri.”

Kim Jong Un naik takhta 2011. Masih muda, tapi kekuasaannya matang seperti durian busuk. Sekali jatuh, baunya kemana-mana. Ia pegang partai, militer, dan negara sekaligus. Oposisi? Museum. Pers bebas? Legenda urban. Kritik? Bisa jadi tiket wisata satu arah ke tempat yang tak ada sinyal. Modar.

Sekarang mari kita berandai-andai sambil ngopi, bagaimana kalau Indonesia dipimpin ala Kim Jong Un?

Wah, negara langsung kelihatan rapi. Tak ada demo, tak ada ribut, tak ada netizen bacot. Apa lagi ngatakan planga-plongo, omon-omon. Media sosial sepi, bukan karena warga bijak, tapi karena HP dipakai cuma buat foto pemimpin. Keputusan cepat, kilat, tanpa diskusi. Lagu kebangsaan bisa jadi backsound TikTok resmi negara.

Kedengarannya mantap? Iya. Rasanya aman? Juga iya. Tapi aman seperti apa? Aman seperti ayam di kulkas, tenang, tapi dingin dan tak bernyawa.

Kritik berubah jadi bisik. Satire berubah jadi dosa. Komedian macam Panji harus ikut kursus filsafat dulu sebelum bercanda. Seniman melukis sambil mikir, “Ini aman, tak?” Negara tenang, rakyat senyap, ide-ide dimasukkan mode pesawat.

Padahal Indonesia ini lahir bukan dari keheningan, tapi dari ribut berjamaah. Dari beda pendapat, debat kusir, dan omongan warung kopi yang kadang lebih jujur dari rapat resmi. Demokrasi kita memang berisik. Kadang memalukan. Sering bikin emosi. Tapi di situlah rakyat masih boleh bilang, “Bang, ini ngaco.”

Lalu kita mulai bermimpi, "Coba ada negara ideal…”

Maka muncullah negara utopia. Negara kuat, rakyat makmur, aman, tentram, damai, tak ada korupsi, bebas ngoceh, bebas kritik, bebas satire. Indah sekali. Terlalu indah sampai rasanya seperti iklan perumahan, ‘Lokasi strategis, bebas banjir, harga nego’.

Negara utopia versi waras bukan negara tanpa masalah, tapi negara yang tak memelihara masalah sambil pura-pura kaget. Korupsi dihajar keras, tanpa tanya jabatan, tanpa lihat spanduk. Bukan karena pejabatnya malaikat, tapi karena sistemnya bikin maling kehabisan akal dan alibi.

Anehnya, negara ini justru santai menghadapi kritik. Rakyat boleh ngoceh, nyinyir, kritik, bahkan bikin meme pemimpin. Karena pemimpin tahu, kalau tak kuat ditertawakan, jangan bercita-cita memimpin.

Pemimpin di negara ini bukan dewa. Ia pekerja kontrak. Ada masa jabatan, ada batas wewenang. Setelah turun, tak perlu patung, cukup pulang kampung. Baliho dikurangi, foto wajah tak lagi menghantui tikungan jalan. Tak ada lagi, siap mati-matian.

Ekonomi jalan karena kerja, bukan karena kedekatan. Orang kaya boleh kaya, asal tak beli hukum pakai kuitansi. Orang miskin dibantu bukan dengan janji, tapi akses. Pendidikan mengajarkan berpikir, bukan tepuk tangan. Media bebas, rakyat kritis, negara tak baper.

Lalu datang pertanyaan penutup sambil senyum miring, apakah negara utopia ini nyata, atau cuma mimpi habis makan pedas?

Jawabannya begini, utopia itu memang tak pernah ada. Ia bukan alamat, tapi cermin. Ia diciptakan bukan untuk dihuni, tapi untuk menyindir kita setiap kali kita bilang, “Ah, begini juga sudah lumayan.”

Masalah Indonesia sering bukan karena utopia terlalu tinggi, tapi karena kita cepat puas pada yang setengah-setengah.

Kita punya hukum, tapi sering salah sasaran. Kita bangga kebebasan bicara, tapi cepat tersinggung. Kita ketawa melihat Korea Utara, sambil pelan-pelan mempraktikkan versi trial-nya.

Versi Koptagulnya begini, wak:

Lebih baik negara ribut tapi hidup, dari pada tenang tapi pura-pura bahagia. Lebih baik pemimpin dimeme-in, dari pada rakyat dilatih untuk diam atau dibodohi.

Kita sering mimpi keadilan, tapi dianggap kebanyakan halu. Padahal, sebenarnya yang sedang tidur pulas bukan rakyat, tapi nurani negara.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

#camanewak

#jurnalismeyangmenyapa

JYM

Sumber: FB Rosadi Jamani https://www.facebook.com/share/p/17hFYQ6aLB/

ZA Sitindaon
ZA Sitindaon

No comments

Leave your comment

In reply to Some User
Next article: Makan Bergizi Gratis Untuk Siapa? Next

Popular Posts

  • Cara Mengatasi Internet Telkomsel 'Lemot', Ikuti Langkah-langkahnya Agar Akses Internetmu Lancar
    27.Nov
  • Semrawutnya Parkir di Kawasan Pusat Pasar Medan
    04.Jan
  • Emak Emak Yang Terlibat Menjual Senjata Untuk Aksi Rusuh 22 Mei 2019
    28.May
  • Bokom, Makanan Pengantar Sejarah Aceh Singkil yang tak Lekang Digerus Zaman
    07.Sep

Categories News

  • Lowongan Kerja
  • Trending News
  • Food & Travel
  • Lifestyle & Health
  • Sport
  • Tekno & Sains
  • Entertainment
  • Ekonomi & Bisnis
  • Kisah Insipirasi
  • Budaya
  • Politik & Opini
  • Hukum & Kriminal
  • Mimbar HKBP
  • International

Follow Us

Facebook Sitindaon News Instagram Sitindaon News YouTube Sitindaon News Twitter Sitindaon News Email Berlangganan Buletin Kami

SITINDAON NEWS 1

Sitindaon News menuju Situs Web Portal Berita Online berkelas dunia melalui penyediaan jasa informasi dan berbagai produk multimedia lainnya sehingga terbangun Tugu Namangolu didalam maupun diluar negeri khususnya marga Sitindaon yang nantinya dapat menjalankan fungsi² sosial lainnya bagi masyarakat luas. Berdiri sejak 2018.

Bagikan Share
FacebookFacebook MessengerMessenger TwitterTwitter WhatsAppWhatsApp TelegramTelegram Copy LinkCopy Link