Anak kedua hakim Jamaludin itu bernama Rajif.

Dia menjelaskannya kepada wartawan saat melihat lokasi penemuan ayahnya sudah dalam keadaan kaku di dalam mobilnya di kebun sawit itu. 

Rajif tiba di lokasi pukul 15.27 wib mengenakan kemeja lengan panjang garis-garis putih biru.

Menurut pria berkacamata itu, kelakuan para tersangka tidak manusiawi dan harus dihukum seumur hidup.

Rajif yang sejak Agustus 2019 tinggal di Jakarta untuk kuliah itu mengaku tidak kenal dengan para tersangka.

JP seminggu sekali datang ke rumah

Dalam rekonstruksi pembunuhan hakim PN Medan, Jamaludin, Zuraida memberikan uang Rp 2 juta kepada Reza untuk membeli barang-barang untuk digunakan dalam pembunuhan. Terungkap Zuraida menjanjikan Rp 100 juta untuk biaya umroh setelah pembunuhan.
 
 Dia mengaku 'ngeh' dengan tersangka setelah ada polisi menunjukkan identitas pelaku.

"Awalnya nggak 'ngeh'. Baru 'ngeh' setelah ada polisi dan wartawan datang. Dulu sering datang ke rumah, tapi tak begitu kenal," katanya.

Tersangka yang sering datang itu adalah JP.

Dijelaskannya, saat dirinya masih di rumah, dia mengetahui bahwa JP sering ke rumah dan main dam batu dengan ayahnya (korban).

"(JP) sering datang ke rumah, setiap hari Kamis malam. Seminggu sekali lah. Rame datangnya. Dia ya masuk ke dalam rumah, main dam batu sama ayah. Sampai tengah malam," katanya.

Ketika ditanya apakah saat itu ZH juga berada di lokasi bersama dengan ayahnya, JP dan lainnya, menurut Rajif, biasanya ZH tidak ikut.

"Itu sebelum saya ke Jakarta. Spesifik tahunnya lupa. Ibu (ZH) waktu itu tidur lah. Kenapa setiap malam Jumat, saya tak tahu," katanya.

Tidak ada gelagat keretakan rumah tangga

Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin dan Rajif, anak hakim PN Medan, Jamaludin (55) berpelukan setelah melihat lokasi penemuan mayat ayahnya di dalam mobil di jurang kebun sawit di Dusun II Namo Bintang, Desa Suka Dame, Kecamatan Kutalimbaru Deli Serdang.
 
 Rajif menambahkan, selama ini antara ayahnya dan ZH tampak tidak ada masalah. Dia tidak melihat adanya gelagat yang mencurigakan.

"Biasa-biasa saja. Kesannya adem-adem aja," katanya.

Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumut Kombes Pol Andi Ryan mengatakan, antara korban dengan tersangka JP kemungkinan kenal. 

Karena sama-sama sebagai orangtua dari murid yang belajar di sekolah yang sama.

"Jadi diundang rame-rame di rumah supaya dekat. Mungkin saja lalu main (dam batu) di situ," katanya.

Di lokasi tersebut, Rajif sempat berpelukan dengan Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin. Martuani menyampaikan sesuatu dengan suara pelan kepada Rajif yang datang bersama dengan kerabatnya yang lain

Sumber: .kompas.com