Search
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 2069
HANUM HANYA PUTRI AMIEN RAIS
Respon pertama manusia normal atas sebuah tragedi adalah empati. Inilah yang membedakan kita dengan Hiu. Seekor Hiu akan malah meleleh liurnya jika mencium bau anyir darah.
Respon pertama Hanum Rais mendengar peristiwa penusukan Wiranto adalah mencurigai korban. Hanum mencurigai Wiranto, yang jatuh berdarah ditikam pisau di Pandeglang.
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1751
UU KPK : DILEMA PRESIDEN JOKOWI DAN SOLUSINYA
Saya membayangkan saat ini adalah saat yang paling krusial bagi Presiden Joko Widodo. Silang sengkarut UU KPK ini telah menciptakan sebuah dilema yang pelik buat Sang Presiden.
Tekanan kelompok pro status quo KPK yang disuarakan oleh beberapa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) binaan mereka begitu gencar. Bahkan mereka mengancam kalau sampai 14 Oktober 2019 Presiden tidak mengeluarkan Perppu, mereka akan turun ke jalan lagi dalam jumlah lebih besar. Meskipun saya meyakini dengan pasti, ini bukan suara asli mahasiswa tapi suara bisikan sang "kakak pembina" yang ngumpet di balik tembok kepengecutan mereka.
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1952

MELAWAN ZOMBIE DI NEGERI INI
"Korea Selatan itu negara yang selalu merasa terancam.." Kata temanku waktu kami ngopi bersama.
"Di bidang ekonomi, mereka merasa terancam pada Jepang. Mereka dijajah oleh banyak produk Jepang, mulai dari mobil sampai alat rumah tangga. Karena itu mereka berfikir keras, bagaimana caranya supaya bangsa mereka tidak terjajah oleh bangsa Jepang.
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 827

Tiba-tiba teringat Assad, dia bilang [kepada negara-negara penyokong "jihadis" yang menyerbu Suriah selama 8 tahun], "Terorisme bukan kartu yang bisa Anda mainkan lalu Anda masukkan lagi ke kantong. Seperti kalajengking, ia akan menggigit Anda kapan saja."
Ini nasehat yang juga sangat patut diingat oleh setiap elit di Indonesia. Memelihara kelompok radikal dan menjadikan mereka sebagai kartu politik belaka [indikasinya: tidak pernah mau bertindak tegas, terstruktur, dan sistematis menghadapi radikalis] adalah tindakan berbahaya yang menghancurkan bangsa ini. Dan negara ini bagaikan kapal, kalau tenggelam, semua ikut tenggelam, termasuk yang memeliharanya dan menjadikannya alat politik.
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 662
Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers usai menjenguk Menkopolhukam Wiranto di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (10/10). [Suara.com/Arya Manggala]
"Masalah dalam negeri, masalah politik. Terutama berkaitan situasi eksternal dari sisi ekonomi, yang kita semua hati-hati karena perkembangan ekonomi dunia...
Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (10/10/2019).
Dalam pertemuannya dengan SBY, Jokowi mengaku tak membahas masalah Peraturan pemerintahan pengganti undang-undang (perppu) atas revisi Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Hal ini menyusul banyaknya desakan yang meminta Jokowi mengeluarkan Perppu KPKatas revisi UU KPK.
"Enggak, enggak (membahas Perppu KPK)," ujar Jokowi usai bertemu SBY di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (10/10/2019).
Menurut Jokowi, yang dibahas bersama SBY di antaranya situasi terkini di Indonesia hingga masalah politik.
Masalah dalam negeri, masalah politik. Terutama berkaitan situasi eksternal dari sisi ekonomi, yang kita semua hati-hati karena perkembangan ekonomi dunia. Masalah dunia yang menuju pada resesi. Bicara banyak," ucap dia.
Pertemuan tersebut berlangsung secara tertutup sekitar satu jam lebih.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyebut pertemuan dengan SBY sudah lama direncanakan. Namun kata Jokowi, pertemuan tersebut baru hari ini terealisasi.
"Ini saya dengan Pak SBY sudah janjian lama, tapi belum pas waktunya dan hari ini alhamdulillah pas waktunya dan ketemu," tandasnya.
Sumber: suara.com
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1732
Menko Polhukam, Bapak Wiranto, ditusuk oleh seorang lelaki tak dikenal dengan penampilan berjenggot bercelana cingkrang, dan seorang wanita bercadar setelah mengikuti sebuah acara di Universitas Mathla'ul Anwar, Banten
"Boneka Piaraan"
Mereka yang kemarin mengatakan radikalis di indonesia itu tidak ada, dan abai dg tumbuh kembangnya paham ini sekarang menyaksikan sendiri, seorang Menkopolhukam ditusuk ditengah keramaian, bahkan seminggu sebelumnya seorang pegiat media sosial disekap dan dianiyaya di Masjid.
Para radikalis itu dibiarkan tumbuh kembang selama 20 tahun paska jatuhnya Soeharto, dan sekarang pak JKW kebagian cuci piringnya doang.
Paham ini menyebar masuk kampus, ASN, Polisi, TNI, disemua sendi juga semua lini. Mereka yg apatis dengan gerakan ini, baru akan menyesali ketika semua kebebasan di rampas, keluarga dan sahabatnya menjadi korban dan negara hancur lebur.
Ada yg berpendapat, radikalis itu tumbuh karena kesenjangan kemiskinan dan ke adilan yg tdk merata. Menurutku tidak, Libya itu sangat makmur dan kekayaan terdistribusi dg baik pada rakyatnya, tapi President Moammar Qadafi yg berjasa memerdekakan Libya itu mati dikeroyok rakyatnya sendiri, di gebuki seperti anjing kurap, anusnya ti tusuk, matanya di congkel, di gusur di jalanan, sampe jasadnya rusak tak berbentuk.
Lalu apa hasilnya Libya kini....? lebih majukah ?, lebih makmurkah ?! Tidak...!
Negara itu kini menjadi negara yg tinggal di kapling kapling oleh para pemodal yang kemarin dulu berternak para radikalis - mereka terbahak bahak di depan meja makan dan Libya siap di santap.
wallahua'lam.
Sumber: https://www.facebook.com/100000484892065/posts/3660628133963314/