Ketidakpastian tersebut adalah masih berlangsungnya perang dagang oleh Amerika Serikat (AS) dan China. Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan ekonomi global lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.
"Masih risiko perang dagang yang berlanjut dan dampaknya ke pertumbuhan ekonomi dunia, di tengah pertumbuhan ekonomi global yang masih relatif lemah," ujar Sri Mulyani di komisi XI DPR, Jakarta, Kamis (13/6/2019).
Sekadar informasi, Indonesia masih mengandalkan komoditas seperti batu bara dan minyak sawit mentah untuk ekspor.
Faktor selanjutnya adalah masih tingginya impor, karena Indonesia membutuhkan investasi untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.
Menurut dia, salah satu indikator investasi yakni Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) ditargetkan Sri Mulyani pada 2020 untuk tumbuh 7-7,4%.
Pertumbuhan investasi di perkiraan tersebut dibutuhkan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi ke rentang 5,3% hingga 5,6% pada 2020. Sedangkan, sumber tekanan terhadap kurs yang ketiga adalah stagnasi harga komoditas yang akan mempengaruhi kinerja ekspor Indoneisa.
"Namun, selain depresiasi, di 2020, ada juga faktor yang akan mendorong apresiasi rupiah seperti tidak berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter The Fed, Bank Sentral AS, dan masuknya arus modal asing seiring membaiknya perekonomian domestik," kata.
(dna/dna)
