fbpx

0
0
0
s2sdefault

1582542588913

SitindaonNews.Com | Amerika Serikat (AS) membuat gerakan mengagetkan dengan mencabut Indonesia dari dalam daftar negara berkembang.

Hal ini dilakukan AS melalui United States Trade Representative (USTR) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang memandang Indonesia sekarang sebagai negara maju.

Sekedar info, USTR adalah badan pemerintah AS yang bertanggung jawab untuk mengembangkan dan merekomendasikan kebijakan perdagangan kepada Presiden.

Sehingga segala informasi yang disediakan USTR menjadi acuan presiden AS untuk menjalin kerjasama sampai tingkatan mana dengan negara lain.

Dicabutnya Indonesia dalam daftar negara berkembang maka AS saat ini memandang Indonesia bersama Brazil, India dan Afrika Selatan sebagai rekanan penting dalam kerjasama bidang ekonomi yang akan mendapat perlakuan istimewa.

Lantas kenapa AS sampai melakukan hal demikian?

Mengutip Kompas.com, Senin (24/2/2020) yang menerbitkan artikelnya pada 26 Februari 2019 silam, Oxford Economics menyatakan jika pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu yang paling menarik di dunia.

Oford Economics bahkan berani menahbiskan Indonesia lokomotif perekonomian global pada tahun-tahun mendatang.

Didukung sumber daya alam dan manusia yang lebih dari cukup serta semakin tidak tergantung kepada pendanaan asing, Indonesia di masa depan menjadi kunci suksesnya ekonomi dunia dengan pertumbuhan 5,1 persen.

Prediksi lebih berani juga dikeluarkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF).

Indonesia menjadi negara maju karena berani menerobos batasan diri.

IMF menyatakan Indonesia akan menempati posisi ke-6 sebagai negara dengan ekonomi terbesar berdasarkan produk domestik bruto berdasarkan paritas daya beli/PPP pada tahun 2023.

Pada 2023, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,4 persen.

Sedangkan PDB per kapita Indonesia akan mencapai 5.120 per dollar AS, atau Rp 71,6 juta.

Pangsa pasar Indonesia sendiri pada 2023 mencapai 2,8 persen dimana Brasil diposisi ke-8 dengan pangsa pasar 2,34 persen dan Inggris di posisi ke-9 dengan 2,03 persen.

Dengan SDA dan SDM yang melimpah, langkah Indonesia untuk menjadi negera maju sangat terbuka.

Prancis yang awalnya duduk di peringkat ke-6 posisinya bakal didepak Indonesia dimana negeri Napoleon melorot menempati posisi ke-10 dengan pangsa pasar hanya 2 persen.

Nah, AS sudah mengakui jika negeri ini sekarang sebagai bangsa maju walau harus diakui juga jika masalah laten korupsi masih merajalela yang bisa menghambat republik jadi 'Monster' baru perekonomian dunia. (Seto Aji/Sosok.ID)

*Ijonk Aries*

Sumber: intisari.grid.id/ucnews


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh