Search
- Details
- Category: Inspirasi dan Inspiratif
- By ZA Sitindaon
- Hits: 7
Mana Yang Lebih Baik, Punya Satu Bisnis Atau Beberapa Bisnis Sekaligus.
Saya penganut mazhab satu bisnis sudah cukup. Tiap kali bertemu dengan pelaku usaha yang punya banyak bisnis, kami terkadang berdebat. Mana yang lebih baik, punya satu bisnis atau beberapa bisnis sekaligus.
Argumentasi mereka yang punya banyak jenis usaha mudah ditebak: untuk kesinambungan penghasilan. Jika usaha utamanya menurun, masih ada usaha-usaha lain yang bisa menjadi penopang. Sepi di sini, rame di sana.
Saya tidak mengatakan fokus pada satu bisnis itu lebih baik, ataupun sebaliknya. Tentu setiap pelaku usaha punya karakter masing-masing. Mereka punya pemikiran berbeda, kapasitas berbeda, dan visi yang berbeda-beda.
Saya memilih mazhab satu bisnis karena menyadari kapasitas saya yang terbatas. Bisa sukses dengan satu bisnis saja sudah lebih dari cukup buat saya. Tidak muluk-muluk.
Pernah saya menjalankan tiga usaha sekaligus di satu waktu. Buka warung ayam krispi offline, menjadi reseller baju-baju online, dan merintis usaha Sambel Uleg Saklek. Untungnya tidak sampai full setahun saya menjalaninya. Waktu, tenaga, dan pikiran sungguh terkuras. Namun dengan hasil yang tidak memuaskan.
Baru setelah warung ayam krispi tutup, stress saya banyak berkurang. Dan ternyata dari segi penghasilan justru malah membaik. Saya bisa berfokus pada pemasaran online, menjual baju dan sambel. Menutup warung offline yang menguras energi ternyata keputusan tepat.
Setelah setahun berjalan, Sambel Uleg Saklek mulai menunjukkan potensi yang bagus. Maka saya pun berhenti menjadi reseller baju online. Saya berfokus ke usaha sambel saja. Dengan begini pikiran saya longgar. Saya merasa tenang dan senang menjalankan usaha ini.
Rasa tenang dan senang itu membuat saya memiliki kemampuan ekstra untuk mengasah skill pribadi saya, yaitu menulis. Dari skill inilah saya merintis usaha kedua, penerbitan buku. Dan semakin hari hasil dari skill menulis ini juga semakin berkembang.
Lho, katanya penganut mazhab satu bisnis, kenapa malah punya dua bisnis? Nah, itu juga membingungkan saya.
Penjelasan saya begini. Ketika kita fokus pada satu bisnis, kemudian bisa menjalankannya secara otomatis, maka kita punya kelonggaran dalam hal waktu, tenaga, dan pikiran. Dengan kelonggaran ini kita bisa mengeksplorasi peluang usaha baru yang kita sukai. Nah, perbedaannya ada pada frasa 'kita sukai' ini.
Begitu banyak pelaku usaha yang berupaya keras merintis beberapa usaha sekaligus hanya karena butuh penghasilan. Lalu seiring waktu berjalan, mereka sadar tak ada satu usaha pun yang benar-benar mereka sukai. Mereka akan merasa capek dan semakin capek. Perasaan terpenjara dalam situasi sulit terus memenuhi hati dan pikiran. Dalam kondisi begini hampir mustahil seseorang bisa menemukan solusi, inovasi, apalagi ide-ide baru. Akibatnya hidup sebagai pelaku usaha terasa sangat sengsara.
Dari pengalaman saya belajar, berjalan step by step itu bukanlah kelemahan. Membangun pondasi itu mutlak. Proses itu harus dijalani. Ketika orang terburu nafsu untuk melakukan tindakan besar, dia sering lupa ada hal-hal mendasar yang harus dipenuhi lebih dulu sebelum melompat dan berlari.
Ah, panjang juga tulisan saya. Hehe.. Padahal saya hanya ingin mengatakan, fokus pada satu usaha bisa membuat kita punya energi untuk mengembangkan mindset, potensi, skill, dan pengetahuan. Dengan kata lain investasi pada diri sendiri. Kalau istilah anak muda sekarang, 'investasi leher ke atas'. Bagi saya, investasi ke diri sendiri akan selalu jadi investasi terbaik.