Search
- Details
- Category: Mimbar Kristen
- By ZA Sitindaon
- Hits: 8
Hepeng (Part 2)
Kita sering mendengar narasi gereja adalah milik atau kepunyaan Tuhan. Dan kita setuju atau mengaminkannya. Gereja termasuk HKBP bukan milik pendeta juga bukan milik pimpinan yang sedang menjabat. Bukan juga milik anggota jemaat termasuk yang paling banyak memberi persembahan. (Secara teologis: Tuhan tidak menerima sumbangan). Namun pertanyaan: apakah uang gereja apalagi uang HKBP adalah juga uang Tuhan? Apakah uang yang dihimpun oleh gereja atas nama Tuhan/ Gereja adalah kepunyaan Tuhan? Jika ya, apakah tanda atau buktinya? Jika tidak, gabe jala horas.
Secara teologis gereja sebagai milik kepunyaan Tuhan termasuk keuangannya harus diatur sesuai dengan kehendak Tuhan Yesus Kristus, Raja dan Pemilik gereja itu (selalu tambahkan: termasuk HKBP). Tidak bisa suka-suka pejabat dan pelayannya. Namun masalahnya Tuhan tidak membuat aturan atau ketentuan keuangan gereja. Alkitab hanya menceritakan bahwa rombongan Yesus punya bendahara dan dia suka korupsi (Yoh 12:4-6). Rasul Paulus tidak ingin dicurigai oleh jemaat tentang pengelolaan uang persembahan yang dikelolanya, sebaliknya ingin benar2 dipercaya oleh jemaat selain oleh Tuhan. (2 Kor 8:20-21). Salah satu syarat untuk diangkat menjadi pelayan: bukan hamba uang. Selebihnya kita harus membangun sistem dan kultur serta etos keuangan yang benar dan baik yang kita yakini dikehendaki Tuhan (berhubung kita belum bisa tanya langsung ke Tuhan).
Lantas bagaimana gereja harus mengelola uang yang bukan miliknya tetapi milik Tuhan Yesus Kristus itu? Pertama-tama menurut saya dengan membangun kesadaran dan komitmen bersama bahwa uang gereja bukanlah uang nenek moyang dan bukan uang kita sendiri. Kecil atau besar ini adalah uang yang dipercayakan Kristus Raja Gereja kepada kita (sengaja saya pakai kata kita, supaya tidak ada orang yang merasa bukan urusan dan tanggungjawabnya bila uang Tuhan diselewengkan).
Kedua: sejalan dengan nomor satu, membangun sikap kritis bahwa kita (pendeta apapun jabatannya, sintua, anggota jemaat) bukan Tuhan. Sekali lagi: Anda dan saya bukan Tuhan. Sebab itu kita bukan pemilik gereja termasuk uang dan assetnya. Kita hanya orang yang dipercaya untuk periode waktu tertentu mengelola uang kepunyaan Tuhan itu dan membuat laporan pertanggungjawabannya. Ingat: hanya Tuhan yang tidak wajib membuat laporan keuangan (termasuk perjalanan dinas dan sumbangan2). Sebab itu jangan ada lagi pejabat dan pengurus gereja yang sok jago melarang anggota jemaat mengetahui informasi detil tentang penyimpanan, pengeluaran, dan pencatatan serta pengawasan serta pelaporan uang HKBP eh uang Kristus itu. Sebaliknya jangan ada jemaat yang merasa tugasnya sudah selesai dengan memberi persembahan. Urusan Tuhanlah jika uang persembahan itu diselewengkan. Ini sikap angkuh, tak peduli dan malas yang tidak disukai Tuhan. Namun justru sangat disukai pejabat dan pelayan gereja yang ingin bebas "mengolah" (bahasa Medan) uang gerejaNya.
Ketiga: membangun kesadaran bahwa kita adalah orang berdosa yang dikasihi Tuhan. Ya semua kita (laki2 dan perempuan, tua dan muda, ditahbis dan tidak ditahbis, berduit dan tidak berduit, lugu dan lucu) telah jatuh ke dalam dosa. Artinya: potensial atau memiliki kemampuan (hatauon) untuk melakukan kesalahan dan kejahatan termasuk secara finansial. Sedikit-banyak sejak lahir kita saluhut mempunyai bibit dan bakat (boni dohot bangko), kecenderungan (tendensi, sundung) menyimpang juga dibidang keuangan. Puji Tuhan kita sudah ditebus oleh Allah dengan darah Kristus dan dibaharui RohNya. Namun sedikit-banyak potensi (hatauon) menyalahgunakan uang (termasuk uang gereja yaitu uang Tuhan) itu masih ada dalam diri kita termasuk kami yang sudah ditahbis. Pertanyaan sangat serius yang harus selalu kita ajukan dan wujudkan dalam tindakan dan sistem: bagaimana Anda dan saya mempercayakan Rp 500 Miliard per tahun (jumlah dana sentralisasi HKBP) dikelola oleh orang2 yang berdosa artinya potensial menyalahgunakannya? Dalam lingkup lokal bagaimana Anda dan saya mempercayakan uang gereja lokal tapi uang Tuhan juga Rp 100 juta atau Rp 1M atau lebih (catat: jumlah seluruh gereja lokal HKBP: 3000 gereja) kepada orang2 yang walau sudah dibatasi dan ditahbis tetap juga kecil-besar memiliki hatauon (potensi), bangko (bakat) dan sundung (tendensi) manangko (apalagi jika dibiarkan tertutup, rundut dan tidak diawasi?)
Catatan: Anda dan saya termasuk orang berdosa itu artinya potensial bisa salah atau culas secara finansial. Namun kita tidak bisa meminta bantuan malaikat di-BKO-kan untuk mengelola uang gerejaNya. Dan Tuhan juga tidak suka jika kita hanya bersikap sinis dan mengejek atau omong jorok tanpa ikut memberi solusi. Oh. Jadi gimana dong?!
(Masih bersambung)
Daniel Taruliasih Harahap https://www.facebook.com/share/p/1Cdc2HoAVt/
- Details
- Category: Mimbar Kristen
- By ZA Sitindaon
- Hits: 6
Hepeng ( Part 1)
Darimanakah kita mengetahui isi hati seseorang? Yesus katakan: periksalah anggarannya. Kemana pengeluarannya terbesar kesitulah hatinya sesungguhnya tertuju. Mengutip kalimat Yesus: dimana hartamu berada disanalah hatimu beada.
Akhir2 ini cukup banyak uang saya keluar membeli tanaman hias dan pendukungnya (pot, media tanam, pupuk dll). Jujur hati saya memang tertuju kepada tanaman hias. Jika saya tak memberi hati ke tanaman mana mau saya mengeluarkan uang banyak (secara diam2 atau terang2an, dengan atau tanpa sepengetahuan Martha) untuk urusan tanaman. Alasan formal: memperindah halaman rumah kami. Berhubung saya tidak pernah jatuh hati kepada jam tangan atau sepatu maka tak ada juga uang saya keluar kesana.
Lantas bagaimana dengan hati gereja HKBP misalnya? Sama saja. Periksa dan pelototi anggarannya. Kemana pos pengeluaran terbesar kesitulah sesungguhnya hati gereja termasuk yang namanya HKBP itu berada. Jadi kalau ada gereja mendaku sangat mementingkan pengajaran iman namun cuma menyediakan "seuprit" anggaran untuk pengajaran iman itu artinya sama saja bohong. Jika pos pengeluaran gereja terbesar untuk pesta artinya hati gereja itu ya ke pesta. Jika pos terbesar untuk pendeta berartinya hatinya (rela atau tak rela) ya ke pendeta. Jika anggaran terbesar ke pusat ya hati gereja ya ke pusat. Jangan marah ya. Itu bukan kata2 saya melainkan Yesus.
Dua bulan terakhir ini gereja kami sedang sibuk kali membahas usul penataan ulang anggaran HKBP secara sinodal apakah masih mengandalkan persentase persembahan yang junlahnya fluktuatif (sekian untuk Huria lokal sekian untuk Pusat, sekian belok?) atau sistem budgeting (maksudnya: beban Sinodal dibagi dan dipatok secara proporsional sesuai besar-kecil Huria dan bersifat wajib atau pokoknya bayar sesuai ketentuan). Kepada adik2 saya pelayan termasuk yang sedang menjabat dan kawan2 sintua dan Ruas agar tidak larut dalam persoalan teknis dan mekanisme belaka. Saya mengajak agar kembali dulu ke persoalan yang sangat mendasar yaitu teologi keuangan HKBP. Apa dan bagaimana sesungguhnya konsepsi teologi gereja tentang keuangan. Mari kita buka dan periksa benar2 detil anggaran dan realisasi anggaran gereja (di pusat, distrik, resort, dan huria). Anggaran menunjukkan hati. Si devil sering ada di detil. Kemanakah hati gereja sesungguhnya tercermin dari anggarannya tersebut? Apakah pengeluaran2 gereja kita sungguh mencerminkan kita sebagai gereja yang bersaksi, melayani, bersekutu dan mengajar sebagaimana panggilan Tuhan? Atau gereja macam apa?
Ket foto: tadi pagi saya berfoto sehabis mengecek paku tanduk rusa yang saya beli kemarin dengan harga @ Rp 150 ribu dan suplir @ Rp 25 ribu.
(Bersambung)
Daniel Taruliasih Harahap https://www.facebook.com/share/p/19BagREuo3/
- Details
- Category: Mimbar Kristen
- By ZA Sitindaon
- Hits: 22
Hepeng (Part 3)
Dulu ada pameo kami di Medan: kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah? Maksudnya apa coba? Sadar tak sadar pameo ini seringkali juga diberlakukan dalam keuangan gereja (baca: HKBP). Seakan-akan keuangan gereja sesuatu yang sangat sulit dan rumit sehingga hanya pantas diketahui dan ditangani oleh segelintir orang saja (terutama pendeta dan sintua tertentu?). Padahal keuangan gereja sangat sederhana: penerimaan dan pengeluaran (kas dan bank). Tak ada perhitungan laba rugi disana. Namun banyak orang tak suka hal2 sederhana. Maunya yang rumit, njlimet atau rundut.
Sebab itu mengakhiri postingan tentang keuangan gereja ingin menyampaikan beberapa prinsip keuangan gereja yang harus diberlakukan di semua level (Huria lokal, Resort, Distrik dan Pusat). Tiap prinsip akan saya uraikan dalam postingan sendiri.
Pertama: prinsip keterbukaan atau transparansi. Bahasa Bataknya: hapataran. Keuangan gereja termasuk di Distrik dan Pusat bukanlah rahasia Ilahi atau rahasia gerejawi. Tuhan bukan koruptor yang suka menyembunyikan uangnya di brankas rahasia dan sama sekali tak ingin kekayaanNya diketahui jemaat atau pemerintah. Sebab itulah AP HKBP mengharuskan Pusat dan Distrik serta Resort melaporkan keuangannya secara berkala kepada Jemaat. Namun ketentuan AP ini tidak dilaksanakan. Dan tak ada sanksinya juga. Mau apa kalian?!
Anda dan saya ingin gereja apalagi HKBP ini aman dan jauh dari konflik? Paksalah semua unit HKBP mulai dari Pusat dan Distrik buka2an tentang keuangannya. Selanjutnya undanglah konsultan memeriksa semua keuangan tersebut membantu HKBP menata ulang siatem keuangannya. Namun jangan suruh pendeta atau politikus melakukannya. Itu sama saja dengan menyuruh pendeta atau politikus yang tak pernah sekolah penerbangan dan tak punya lisensi menerbangkan pesawat dimana Anda dan semua keluarga ada di dalamnya.
Saya selalu melukiskan kondisi keuangan HKBP itu kebalikan dari hutan lebat. Bagian dasar atau bawah hutan lebat itu sangat gelap tak tertembus cahaya matahari. Bagian tengahnya agak terang namun bagian atasnya atau kanopinya terang benderang disinari matahari. Keuangan HKBP justru kebalikannya. Bagian bawahnya yaitu huria atau gereja lokal terang benderang alias transparan. Disana ada mekanisme pelaporan uang mingguan kepada publik yang namanya warta jemaat, ada pertemuan umum yaitu ibadah minggu dan partangiangan mingguan yang bisa dipakai kroscek keuangan, ada parartaon dan badan audit yang bertemu saban minggu, dan ada sermon parhalado juga setiap minggu. Bisa menyelewengkan uang namun sangat sulit. Namun naik ke level Resort kondisinya lebih temaram dan senyap serta tertutup. Makin ke Distrik makin remang. Dan Pusat golap. Mulai dari Resort, Distrik dan Pusat tidak ada yang namanya warta keuangan. Tidak ada parartaon. Memang ada Badan Audit namun kerjanya makin sulit dan jarang.
Waktu dan tempat pelaporannya hanya satu kali setahun di Rapat dan selalu dibuat waktunya sangat sempit sehingga buru2.
Jujur saya bukan ahli keuangan. Saya hanya seorang pendeta yang saban kali ditempatkan di satu Huria ingin agar keuangan Huria yang saya pimpin sehat dan kuat. Dan saya sudah lama berkesimpulan bahwa salah satu caranya adalah dengan membuka selebar-lebarnya keuangan Huria. Persis seperti pameo Batak: tedek songon indahan di balanga (terpampang seperti nasi di kuali). Pengalaman, transparansi keuangan gereja sangat mirip dengan membuka borok atau luka bernanah: cepat sembuh. Makin dibungkus makin bernanah dan membusuk. Jangan2 penuh belatung alias ulat. Sekali lagi: Anda dan saya ingin keuangan HKBP sehat? Buka terang-benderang keuangan di Pusat, Distrik dan Resort. Baca sekali lagi.
Selanjutnya transparansi keuangan itu bagi saya ibarat pasar yang terang-benderang dan penuh CCTV (kata sebuah video di tiktok CCTV yang paling tajam itu adalah: tetangga). Para penjahat biasanya suka beraksi di tempat gelap. Hanya satu dua saja yang nekat beraksi di tempat terang yaitu perampok. Dan jumlahnya segelintir. Anda dan saya ingin uang Tuhan yang dipercayakanNya dikelola HKBP (di Pusat, 33 Distrik, 900 Resort dan 3000 Huria) aman dari incaran tikus atau maling? Desak dan paksa keuangan di semua level itu transparan sesuai AP yang makin lama makin tak dibaca dan diindahkan tersebut. Undang ahli menyusun mekanisme agar keuangan terutama di Pusat dan Distrik dapat senantiasa dipelototi Jemaat. Teknologi sudah sangat memudahkan kita. Ingat keuangan gereja bukan rahasia Ilahi. Tuhan kita bukan seperti koruptor yang suka menyembunyikan valas dan emas batangannya. Terakhir mari kita barui pameo kami di Medan: kalau bisa dipermudah kenapa harus dipersulit? Kalau bisa dibuat terang kenapa harus dibuat gelap?
Cat: transparansi juga membantu saya sebagai pendeta menjaga diri agar tidak silap (khilaf) karena sadar diawasi dua puluh empat jam sehari dari enam belas sudut pandang.
(Masih bersambung, sampai loja kita dan akhirnya bertobat termasuk dari ketidakperdulian berbungkus rohani dan kepolosan)
Daniel Taruliasih Harahap https://www.facebook.com/share/1D7Bky2Mpy/
- Details
- Category: Mimbar Kristen
- By ZA Sitindaon
- Hits: 53
Darimanakah kita mengetahui isi hati seseorang? Yesus katakan: periksalah anggarannya. Kemana pengeluarannya terbesar kesitulah hatinya sesungguhnya tertuju. Mengutip kalimat Yesus: dimana hartamu berada disanalah hatimu berada.
Akhir2 ini cukup banyak uang saya keluar membeli tanaman hias dan pendukungnya (pot, media tanam, pupuk dll). Jujur hati saya memang tertuju kepada tanaman hias. Jika saya tak memberi hati ke tanaman mana mau saya mengeluarkan uang banyak (secara diam2 atau terang2an, dengan atau tanpa sepengetahuan Martha) untuk urusan tanaman. Alasan formal: memperindah halaman rumah kami. Berhubung saya tidak pernah jatuh hati kepada jam tangan atau sepatu maka tak ada juga uang saya keluar kesana.
Lantas bagaimana dengan hati gereja HKBP misalnya? Sama saja. Periksa dan pelototi anggarannya. Kemana pos pengeluaran terbesar kesitulah sesungguhnya hati gereja termasuk yang namanya HKBP itu berada. Jadi kalau ada gereja mendaku sangat mementingkan pengajaran iman namun cuma menyediakan "seuprit" anggaran untuk pengajaran iman itu artinya sama saja bohong. Jika pos pengeluaran gereja terbesar untuk pesta artinya hati gereja itu ya ke pesta. Jika pos terbesar untuk pendeta berartinya hatinya (rela atau tak rela) ya ke pendeta. Jika anggaran terbesar ke pusat ya hati gereja ya ke pusat. Jangan marah ya. Itu bukan kata2 saya melainkan Yesus.
Dua bulan terakhir ini gereja kami sedang sibuk kali membahas usul penataan ulang anggaran HKBP secara sinodal apakah masih mengandalkan persentase persembahan yang junlahnya fluktuatif (sekian untuk Huria lokal sekian untuk Pusat, sekian belok?) atau sistem budgeting (maksudnya: beban Sinodal dibagi dan dipatok secara proporsional sesuai besar-kecil Huria dan bersifat wajib atau pokoknya bayar sesuai ketentuan). Kepada adik2 saya pelayan termasuk yang sedang menjabat dan kawan2 sintua dan Ruas agar tidak larut dalam persoalan teknis dan mekanisme belaka. Saya mengajak agar kembali dulu ke persoalan yang sangat mendasar yaitu teologi keuangan HKBP. Apa dan bagaimana sesungguhnya konsepsi teologi gereja tentang keuangan. Mari kita buka dan periksa benar2 detil anggaran dan realisasi anggaran gereja (di pusat, distrik, resort, dan huria). Anggaran menunjukkan hati. Si devil sering ada di detil. Kemanakah hati gereja sesungguhnya tercermin dari anggarannya tersebut? Apakah pengeluaran2 gereja kita sungguh mencerminkan kita sebagai gereja yang bersaksi, melayani, bersekutu dan mengajar sebagaimana panggilan Tuhan? Atau gereja macam apa?
Ket foto: tadi pagi saya berfoto sehabis mengecek paku tanduk rusa yang saya beli kemarin dengan harga @ Rp 150 ribu dan suplir @ Rp 25 ribu.
(Bersambung)
Daniel Taruliasih Harahap https://www.facebook.com/share/p/1JFKADYwXQ/
- Details
- Category: Mimbar Kristen
- By ZA Sitindaon
- Hits: 71
- Details
- Category: Mimbar Kristen
- By ZA Sitindaon
- Hits: 66