Surat Terbuka untuk Pemuja Purbaya: Apa Pengaruhnya bagi Hidupmu?
Mari kita jujur sebentar. Jujur yang nggak pakai baliho, nggak pakai jargon, dan nggak pakai presentasi PowerPoint.
Wahai para pemuja Purbaya, kami ingin bertanya dengan tulus—sebelum kembali menyembah grafik dan omongan manis.
Harga beras sudah turun?
Minyak goreng sudah kembali waras?
BBM jadi murah atau tetap “disesuaikan”?
Pajakmu turun atau malah makin kreatif nariknya?
Gajimu naik atau cuma ekspektasimu yang dinaikkan?
Sudah bisa umroh tanpa jual motor?
Sudah daftar haji tanpa mikir “ini cucu gue yang berangkat”?
Kalau jawabannya belum, mari kita tarik napas bersama.
---
Omon-Omon Level Nasional
Purbaya dielu-elukan bak penyelamat ekonomi. Dikutip sana-sini, dipuja di timeline, dibela mati-matian di kolom komentar.
Masalahnya satu: realitas hidupmu nggak ikut berubah.
Yang berubah cuma:
Nada bicara pejabat
Slide presentasi
Grafik yang selalu “optimistis”
Dan narasi bahwa “kita harus sabar”
Sementara di dapur, panci tetap kosong.
Di SPBU, angka tetap naik.
Di struk belanja, total tetap bikin keringat dingin.
---
Mirip Bosnya, Cuma Lebih Rapi
Purbaya bukan tak berbuat apa-apa. Dia berbuat omon-omon.
Dan itu memang keahlian yang diwariskan langsung dari bosnya.
Bosnya bicara besar → Purbaya menerjemahkan
Bosnya janji jauh → Purbaya merapikan kalimat
Bosnya gagal → Purbaya bilang “ini proses”
Isinya sama.
Hasilnya nihil.
---
Stop Memuja, Mulai Menghitung
Kalau hidupmu masih segitu-gitu saja,
kalau dompetmu tetap kurus,
kalau masa depan masih dibayar dengan harapan,
maka mungkin masalahnya bukan kamu yang “kurang bersyukur”,
tapi mereka yang kebanyakan bicara.
Jadi tolong, berhenti memuja pejabat hanya karena mereka pintar ngomong.
Negara ini nggak butuh penyair ekonomi.
Yang dibutuhkan rakyat itu hasil, bukan headline.
Kalau belum ada perubahan nyata dalam hidupmu,
ya sudah—
stop memuja.
Karena sejauh ini,
Purbaya—seperti bosnya—
nggak bisa apa-apa selain omon-omon.
Sumber: FB Yoyok Rahayu Basuki https://www.facebook.com/share/p/1FNzx6aw8Y/
