DRAMA POLITIK BANTENG SOLO
Bersujud di Altar Penyesalan
(Scene: 2)
Kandang banteng yang biasa resik dan cemerlang mendadak kumuh. Tetapi untunglah bau yang menyengat tertimpa aroma berbagai jenis parfum para petinggi partai yang petang itu berkumpul mengatur siasat.
"Kita partai besar dan berwibawa, kita harus ngasih pelajaran kepada petugas partai yang mbalelo!" teriak juru bicara partai menahan amarah.
"Sebentar, jangan salah, dia bukan mbalelo, tapi ibu ketua yang mengusirnya loh," petinggi lain berkepala plontos mengingatkan.
"Ah. Sama saja," potongnya. "Bagaimana kalau kita permalukan dia dengan cara kita meminta maaf kepada seluruh rakyat bahwa kita telah teledor menjadikannya presiden selama sepuluh tahun?"
"Jangan, nanti rakyat malah balik mencemooh kita, wong rakyat pemilih yang memilih capres kita cuma 16 persen, rakyat yang 84 persen nanti bakalan gebukin kita."
"Biar saja, kan cuma gebukin di medsos, mereka yang 84 persen kan rakyat bodoh, dungu, ingat kata Bung Rocky kader partai terbaru kita. Sedang rakyat kita yang 16 persen pintar-pintar semua!"
Dari balik kerumunan ada yang nyeletuk, " Pintar-pintar kok kalah, Bang!"
"Sesssssst, diam kamu!"
Sungguh menyentuh hati melihat PDI Perjuangan pada akhirnya harus bersujud di altar penyesalan, sebagaimana arahan ibu ketua. Meminta maaf karena telah mendukung Joko Widodo adalah puncak dari komedi hitam yang membuat sejarah bukan sekadar tersenyum sinis, tapi tertawa terpingkal-pingkal sampai sesak napas.
Tragedi politik ini berjalan dengan logika, agar semua paham betapa "menderitanya" partai sebesar banteng karena kecelakaan sejarah bernama kemenangan yang memabukkan itu.
Kasihan memang, selama sepuluh tahun terakhir PDIP terakhir harus menanggung beban berat berupa kekuasaan mutlak. Bayangkan betapa tersiksanya sebuah partai ketika mereka terpaksa melihat kader yang mereka "pungut" dari bengkel mebel justru memberikan mereka tiket emas untuk menguasai kabinet, parlemen, hingga papan catur politik nasional.
Permintaan maaf ini sangat masuk akal. Siapa yang mau menang terus-menerus jika harganya adalah harus melihat orang yang bukan "darah biru" partai malah menjadi pusat gravitasi? PDIP seolah ingin berkata:
"Kami mohon maaf karena telah membuat kalian semua hidup dalam stabilitas politik yang membosankan dan pembangunan yang terlalu cepat. Kami rindu masa-masa menjadi oposisi yang gagah berani namun lapar," demikian salah satu poin permintaan maaf PDIP.
Dulu, PDIP mengira mereka adalah pemilik teater dan Jokowi hanyalah aktor figuran yang mereka beri kostum. Namun, kejutan pahitnya adalah: sang aktor ternyata membawa penontonnya sendiri.
Logika pun terbalik. PDIP mengklaim membesarkan Jokowi, padahal kenyataannya Jokowi adalah "tabung oksigen" yang dipompa ke paru-paru partai yang mulai sesak napas di tahun 2012.
Tanpa "produk jualan" bernama Jokowi yang laku keras di pasar rakyat, PDIP mungkin masih sibuk bernostalgia tentang kejayaan masa lalu sambil memandangi angka survei yang jalan di tempat.
Kesalahan terbesar Jokowi yang kini ditangisi PDIP adalah keberaniannya mengganti pentungan dengan dialog, membubarkan ormas radikal FPI/HTI dan Petral. Ini jelas melanggar pakem politik tradisional yang kaku.
PDIP kini menyesal karena telah membiarkan virus "popularitas figur" merusak tatanan "ideologi mesin". Mereka minta maaf karena Jokowi terlalu mahir menjadi lokomotif yang menarik gerbong partai sejauh ini, hingga gerbongnya lupa bagaimana cara berjalan sendiri tanpa mesin dari Solo itu.
Meminta maaf karena mendukung Jokowi di saat masa jabatannya habis adalah sebuah masterpiece oportunisme. Ini seperti seseorang yang sudah kenyang makan di restoran bintang lima, lalu saat tagihan datang, ia meminta maaf kepada publik karena telah memilih restoran tersebut hanya karena makanannya "terlalu enak".
Sejarah tidak hanya tersenyum sinis. Sejarah sedang mencatat bahwa terkadang, permintaan maaf bukan lahir dari penyesalan moral, melainkan dari rasa iri karena sang murid ternyata lebih pintar mengelola panggung daripada sang guru.
Tentu, ini adalah monolog satir dengan sudut pandang "Mantan Petugas Partai" yang sedang bersiap-siap mengemasi barang, namun tetap ingin memberikan "salam perpisahan" yang paling getir bagi rumah lamanya.
(Bersambung)
Pepih Nugraha
***
DISCLAIMER: Ini merupakan skenario atau script lakon politik yang coba merekonstruksi peristiwa yang telah terjadi dan menangkap fenomena yang mungkin terjadi. Mohon maaf jika ada kesamaan nama, tempat, lembaga, dan nasib.
Sumber: FB Pepih Nugraha II https://www.facebook.com/share/1D5nt1czNv/
