“Kami Akan Terus Bersuara Tentang Kebobrokan MBG”

Itu Bukan Uang Presiden. Itu Uang Pajak Kami.

Setiap kali kritik terhadap program MBG muncul, selalu ada kalimat sakti yang dilemparkan: “Sudah, ini program presiden. Dukung saja.”

Sebentar.

Program presiden?

Atau program dari uang rakyat?

Mari kita luruskan satu hal sederhana: uang negara bukan uang pribadi siapa pun. Itu bukan uang presiden. Bukan uang menteri. Bukan uang pejabat. Itu uang pajak kami. Uang yang dipotong dari gaji buruh, dari usaha kecil, dari pedagang, dari guru, dari petani, dari sopir ojek online.

Kalau rakyat yang bayar, maka rakyat juga berhak bertanya.

---

Pajak Kami, Risiko Kami

Setiap kali terjadi masalah—keracunan, distribusi kacau, kualitas dipertanyakan—jawabannya sering normatif: akan dievaluasi.

Tapi yang dirawat di puskesmas itu anak-anak.

Yang panik itu orang tua.

Yang disuruh beresin itu guru.

Kalau ada yang salah, siapa tanggung jawab?

Kalau anggaran membengkak, siapa yang diminta hemat?

Kalau dana terserap tapi hasil dipertanyakan, siapa yang menanggung dampaknya?

Jawabannya: rakyat lagi.

---

Kritik Bukan Kebencian

Aneh sekali di negeri ini.

Begitu rakyat mengkritik program negara, langsung dituduh tidak mendukung, tidak nasionalis, bahkan tidak bersyukur.

Padahal demokrasi berdiri di atas satu prinsip sederhana: kekuasaan itu diawasi.

Mengkritik bukan berarti ingin program gagal.

Mengkritik berarti ingin program benar.

Kalau memang MBG bagus, transparan, efektif, dan bebas masalah—mengapa takut diaudit secara terbuka? Mengapa alergi terhadap pertanyaan?

---

Transparansi Itu Kewajiban, Bukan Bonus

Rakyat tidak minta disanjung.

Rakyat tidak minta diberi panggung.

Rakyat hanya minta satu: jelaskan penggunaan uang kami.

Berapa total anggaran?

Siapa vendor penyedia?

Bagaimana standar kualitasnya?

Bagaimana mekanisme pengawasan independennya?

Karena sekali lagi:

Itu bukan uang presiden.

Itu uang pajak kami.

---

Kami Akan Terus Bersuara

Kalau ada kebobrokan, kami akan bicara.

Kalau ada penyimpangan, kami akan soroti.

Kalau ada yang mencoba membungkam kritik dengan narasi loyalitas, kami akan tetap berdiri.

Negara bukan milik satu orang.

Negara bukan milik satu kelompok.

Negara adalah milik rakyat.

Dan selama uang pajak kami dipakai atas nama rakyat, maka suara rakyat tidak bisa diminta diam.

Karena demokrasi tanpa kritik hanyalah upacara.

Dan kekuasaan tanpa pengawasan hanyalah undangan untuk penyalahgunaan.

Kami tidak membenci negara.

Kami sedang menjaganya.

Sumber: FB Yoyok Rahayu Basuki https://www.facebook.com/share/16vJnunssM/