DRAMA POLITIK BANTENG SOLO  

(Scene: 5)

Kontras antara Kemegahan Tradisi dengan Kegelisahan yang Mendidih di Teuku Umar

RUANG UTAMA KEDIAMAN TEUKU UMAR 

Ruangan itu temaram, wangi dupa dan bunga melati samar tercium, menciptakan suasana sakral sekaligus menekan. Di dinding, foto-foto hitam putih Sang Proklamator menatap tajam ke arah sebuah meja makan besar dari kayu jati yang gelap.

IBU RATU duduk di kursi kebesarannya. Wajahnya tenang, namun jemarinya yang mengenakan cincin batu mulia mengetuk-ngetuk pinggiran meja dengan irama yang konstan, tanda bahwa badai sedang bergejolak di balik ketenangannya.

Di hadapannya, beberapa PETUGAS PARTAI tingkat tinggi duduk membungkuk, termasuk GUNTUR MEMBAHANA yang tampak gelisah, terus-menerus mengusap keringat di dahi.

GUNTUR (suara bergetar, setengah berbisik):

"Ampun, Ibu... kabar itu bukan lagi sekadar kicauan burung. Intelijen lapangan mengonfirmasi bahwa pertemuan di Istana itu nyata. Si 'Tukang Kayu' itu... dia benar-benar akan diberi kursi Wantimpres. Dia ingin tetap mencengkeram kemudi, Bu."

IBU RATU berhenti mengetuk meja. Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Ia menyesap teh hangatnya perlahan, sangat perlahan, seolah sedang menikmati setiap detik ketakutan yang terpancar dari wajah anak-buahnya.

IBU RATU (suara rendah, berat, penuh wibawa):

"Sepuluh tahun kita beri dia panggung. Sepuluh tahun kita pinjamkan mahkota. Kita pikir dia tahu cara berterima kasih sebelum turun minum. Ternyata... dia bukan cuma ingin minum, dia ingin memiliki seluruh kedainya.

PETUGAS PARTAI:

"Tapi Bu, kami sudah mengeluarkan pernyataan maaf secara satir kepada rakyat. Kami pikir itu akan membuatnya malu dan menarik diri ke Solo. Tapi dia malah datang ke Makassar, memeluk Gajah, dan sekarang mau jadi penasihat di samping mantan rivalnya. Ini penghinaan bagi kita!"

IBU RARU meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang cukup keras di atas piring kecil. Semua orang di meja itu tersentak.

IBU RATU (matanya menatap tajam, menyapu satu per satu orang di sana):

"Kalian salah fokus. Jangan mengurusi fisiknya yang kurus atau keluhan sakitnya. Itu cuma topeng. Yang kalian hadapi bukan lagi petugas partai yang patuh, tapi seseorang yang sedang membangun dinastinya sendiri di atas reruntuhan etika yang dia buat. Dia bertanya, 'Mengapa hanya saya yang dipersoalkan?'... Itu bukan pertanyaan, itu tantangan terbuka!"

IBU RATU berdiri, berjalan menuju lukisan Sang Proklamator. Ia membelakangi mereka semua.

IBU RATU:

"Dia mau jadi Wantimpres? Biarkan. Biarkan dia duduk di sana. Semakin dekat dia dengan cahaya, semakin panjang bayang-bayang pengkhianatannya. Banteng tidak pernah lupa jalan pulang, tapi banteng juga tahu kapan harus menyeruduk tanpa peringatan. Katakan pada semuanya... stop nyinyir soal fisiknya. Itu kekanak-kanakan. Serang keputusannya! Serang hak moralnya! Kita tunjukkan bahwa kursi penasihat itu akan menjadi kursi panas yang membakar dirinya sendiri."

GUNTUR MEMBAHANA (mengangguk cepat):

"Baik, Ibu. Segera kami siapkan narasi 'Etika Mantan' dan 'Haus Kekuasaan' di semua kanal media."

IBU RATU (tanpa menoleh, suaranya dingin):

"Dan satu lagi. Ingatkan dia... gajah mungkin besar, tapi di tanah ini, bantenglah yang punya akar."

Di luar, guntur menggelegar di langit Jakarta. Hujan mulai turun, seolah menandakan bahwa perang dingin ini akan segera berubah menjadi badai besar.

(Bersambung)

Pepih Nugraha

DISCLAIMER: Ini merupakan skenario atau script lakon politik yang coba merekonstruksi peristiwa yang telah terjadi dan menangkap fenomena yang mungkin terjadi. Mohon maaf jika ada kesamaan nama, tempat, lembaga, dan nasib.

Sumber: FB Pepih Nugraha II  https://www.facebook.com/share/17zEzZ8F7t/