Dari Dunia Reserse ke Urusan Gizi: Menelisik Jejak Jenderal Bintang Dua di Balik Polemik 'Emoji Monyet'

​Jagat maya belum lama ini riuh. Sebuah interaksi di ruang publik digital antara pejabat tinggi negara dan pentolan mahasiswa berujung viral. Bukan sekadar perdebatan adu data, atensi publik justru tersedot pada sisipan tiga 'emoji monyet' yang dilemparkan oleh akun terverifikasi milik Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Irjen Pol. (Purn) Sony Sonjaya, di kolom komentar unggahan Ketua BEM UGM.

​Namun, di balik kontroversi siber yang memanas, siapa sebenarnya sosok Sony Sonjaya?

Jejak Panjang di Korps Bhayangkara

​Jauh sebelum namanya wara-wiri di linimasa media sosial sebagai pejabat urusan gizi, pria kelahiran Bandung, 20 Oktober 1967 ini adalah seorang perwira yang malang melintang di medan tugas kepolisian, khususnya di dunia reserse.

​Sebagai lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1991, rekam jejak Sony di Korps Bhayangkara terbilang mentereng. Ia pernah memegang tongkat komando kewilayahan sebagai Kapolres Majalengka sebelum digeser menjadi Kapolres Bandung pada tahun 2011. Ketajamannya dalam bidang penegakan hukum membawanya menduduki sederet posisi strategis, mulai dari Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus di Polda Jawa Barat (2012) hingga mengabdi di ujung barat Indonesia sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum dan Khusus di jajaran Polda Aceh (2020-2021).

​Berkat pengabdiannya yang panjang, seragam cokelatnya dihiasi berbagai tanda kehormatan, termasuk Satyalancana Pengabdian 8, 16, dan 24 Tahun.

Beralih Mengurus Perut Rakyat

​Usai menuntaskan tugas di kepolisian, medan pengabdian Sony bergeser drastis. Dari urusan mengejar pelaku kriminal, ia beralih memikirkan asupan nutrisi rakyat.

​Pada tahun 2025, ia resmi bergabung dengan Badan Gizi Nasional (BGN), lembaga vital yang menjadi ujung tombak program andalan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto: Makan Bergizi Gratis (MBG). Mengawali kiprah sebagai Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II, kinerjanya dinilai solid hingga ia dipromosikan menduduki kursi Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi. Kerja kerasnya di lini ini bahkan baru saja diganjar penghargaan Bintang Jasa Pratama atas kontribusinya dalam penguatan ketahanan gizi masyarakat.

Tersandung di Ranah Digital

​Sayangnya, ujian bagi pejabat publik di era modern seringkali tidak datang dari lapangan, melainkan dari layar gawai. Insiden bermula saat Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, menyuarakan kritik tajam melalui format video terkait realisasi program MBG yang dikelola BGN.

​Merasa institusinya disentil, Sony turun gunung. Melalui akun Instagram pribadinya (@sonysonjayabd), ia membela capaian program tersebut sekaligus menantang balik. Ia mempertanyakan apa karya nyata sang mahasiswa selain sekadar fasih berorasi. Pesan tersebut diakhiri dengan tiga lambang emoji monyet—sebuah manuver komunikasi yang sontak memicu badai kritik.

​Reaksi dari sang Ketua BEM pun tak kalah menohok. Alih-alih meradang, Tiyo membalas dengan sindiran berkelas: mengingatkan sang jenderal bahwa hewan yang ia jadikan emoji tidak pernah mengklaim diri sebagai makhluk mulia, apalagi sampai memakan uang rakyat.

​Kisah Irjen Pol. (Purn) Sony Sonjaya menyuguhkan ironi masa kini. Sosok jenderal purnawirawan dengan segudang pengalaman lapangan dan tanda jasa, kini dihadapkan pada realitas baru di mana komunikasi publik membutuhkan kepekaan ekstra, terutama saat berhadapan dengan generasi muda di era keterbukaan informasi. Di luar riuhnya polemik emoji tersebut, publik kini menanti pembuktian nyata sang Wakil Kepala BGN dalam menyukseskan pemenuhan gizi anak-anak bangsa.

Sumber: FB Lhynaa Marlinaa   https://www.facebook.com/share/p/19bCyesUkF/

Edited by Sitindaon News