MATEMATIKA MBG
Mari berhenti sejenak dari jargon. Kita pakai matematika sederhana.
Jatah makan per anak: Rp15.000
Yang boleh diambil vendor untuk operasional: Rp5.000
Artinya sepertiga anggaran langsung berpindah dari piring anak ke kantong vendor.
Kalau total anggaran program mencapai Rp335 triliun, maka:
1/3 × 335 T = ±112 T untuk vendor
Sisa riil untuk bahan makanan = ±223 T
Belum selesai.
Di lapangan kita sering lihat fakta yang tidak masuk dalam slide presentasi: makanan tidak habis dimakan.
Alasannya macam-macam: tidak enak, sudah dingin, bau asam, monoton, terlalu ultra-processed, atau memang anak tidak terbiasa.
Kalau kita pakai asumsi konservatif saja, setengah porsi terbuang setiap hari, maka:
1/2 × 223 T = ±111 T menjadi sampah.
Sekarang mari jumlahkan:
112 T ke vendor
111 T ke tempat sampah
Hasilnya:
Lebih dari 200 triliun rupiah tidak benar-benar menjadi gizi yang masuk ke tubuh anak.
Lalu sisanya?
Sebagian berubah menjadi makanan yang dimakan terpaksa, dingin, anyep, kurang segar, dan miskin kualitas gizi.
---
BIAYA KESEMPATAN YANG HILANG
Matematika anggaran selalu punya satu pasangan:
apa yang dikorbankan.
Dengan angka ratusan triliun itu kita sebenarnya bisa:
Menggaji guru honorer secara layak tanpa drama pengangkatan bertahun-tahun
Menguatkan puskesmas dan RSUD agar dokter dan nakes tidak kelelahan dalam sistem yang timpang
Memperbaiki infrastruktur sekolah dan jembatan yang hari ini masih seperti adegan film petualangan
Menjamin anak miskin sekolah sampai sarjana tanpa harus putus di tengah jalan
Itu bukan mimpi. Itu soal prioritas.
---
MASALAHNYA BUKAN MEMBERI MAKAN
Memberi makan anak adalah ide mulia.
Tidak ada yang menolak itu.
Yang jadi soal adalah:
Apakah sistemnya memastikan makanan:
dimasak fresh
hangat saat diterima
berbasis bahan lokal
disukai anak
dan benar-benar dimakan, bukan dibuang
Di banyak negara, program makan sekolah berhasil karena:
dapur dekat sekolah
melibatkan komunitas lokal
menu variatif
kualitas rasa diperhatikan
Bukan sekadar proyek distribusi massal.
---
MATEMATIKA KEBIJAKAN
Anggaran besar tidak otomatis berarti manfaat besar.
Kalau:
kebocoran struktural besar
makanan tidak termakan
kualitas rendah
maka yang terjadi bukan program gizi,
melainkan program perpindahan uang dalam skala raksasa.
Dan di ujung rantai, yang tetap menanggung akibat adalah:
anak yang lapar,
guru yang digaji rendah,
tenaga kesehatan yang kelelahan,
serta keluarga yang masih harus memilih antara makan atau sekolah.
---
PENUTUP
Ini bukan soal setuju atau tidak setuju program.
Ini soal satu pertanyaan sederhana:
Berapa rupiah yang benar-benar berubah menjadi gizi di tubuh anak?
Karena dalam kebijakan publik,
yang terpenting bukan berapa besar anggarannya,
tetapi seberapa besar manfaat yang sampai ke rakyat.
Sumber: FB Yoyok Rahayu Basuki https://www.facebook.com/share/p/1Dcd27Wx3H/
