Search
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 18
Pesta Babi dan Tangis Doa Wilhelm Kimko dari Waropko, Boven Digoel
PESTA BABI DAN TANGIS DOA WILHELM KIMKO DARI WAROPKO - BOVEN DIGOEL
________________________________
"Tuhan, SALAH kami apa?
Kapan, rantai penjajahan ini berakhir?
Jangan Tinggalkan kami, Tuhan!
Jangan tinggalkan kami!"
________________________________
Wilem Kimko adalah seorang tua yang bijaksana. Orang-orang Muyu di Distrik Waropko, Boven Digoel Papuak Selatan memanggilnya bapa adat. Dia adalah penjaga kisah lisan turun-temurun marga sukunya. Dia adalah penjaga sungai dan penjaga hutan adat. Rambutnya telah memutih seperti kabut pagi yang turun di rawa-rawa Waropko. Tangannya kasar oleh rotan dan kayu ulin. Matanya redup, tetapi di dalamnya tersimpan kesedihan yang tak mampu diucapkan oleh bahasa manusia.
Waropko berbatasan langsung dengan Papua Nugini
Ia tidak mengenal bahasa Indonesia. Tidak pula bahasa Inggris. Lidahnya hanya mengenal bahasa Muyu—bahasa hutan, bahasa sungai, bahasa burung-burung yang pulang saat senja mulai temaram.
Negara Indonesia dan Papua Nugini tidak pernah sungguh-sungguh mengenalnya. Ia tidak memiliki kartu identitas. Tidak ada cap resmi yang menyatakan dirinya warga negara ini atau itu. Sebab jauh sebelum garis-garis batas negara diciptakan kolonia Inggris dan Belanda, kemudian diwariskan kepada Indonesia dan Papua Nugini leluhur Muyu telah lebih dahulu hidup ribuan tahun di sana, meminum air rawa yang sama, berjalan di akar-akar hutan yang sama, dan menguburkan ari-ari anak-anak mereka di tanah itu.
Bagi Wilem Kimko, hutan bukan sekadar pohon.
Hutan adalah Ibu, MAMA.
Mama yang melahirkan mereka. Mama yang memberi makan. Mama yang mengajari mereka bernapas. Mama yang mengobati sakit mereka. Mama yang memeluk mereka ketika dunia luar datang membawa senjata dan keserakahan.
Namun kini, dari arah Selatan, dari Merauke, dari Jagebob, dari Fofi, berita-berita buruk datang seperti petir yang menyambar dada orang tua itu. Ia mendengar tentang jalan-jalan raksasa yang dibelah ke dalam hutan. Tentang rawa primer yang dikeringkan. Tentang suara mesin yang meraung seperti binatang besi lapar. Tentang tentara yang datang bersama investor dan pejabat-pejabat kota, membawa peta dan izin di atas meja, seolah-olah tanah leluhur bisa dipindahkan hanya dengan tinta dan stempel.
Dan Wilem Kimko tahu: cepat atau lambat, mesin-mesin itu akan tiba di Waropko.
Akan datang ke jantung tanah Muyu.
Ia tidak punya pasukan. Tidak punya uang. Tidak punya pengacara. Tidak punya media. Ia hanya punya hutan yang semakin tua. Dan ritual adat yang diwariskan leluhurnya untuk menolak bala.
Di suatu siang yang gerah dan lembab, ketika udara terasa sesak seperti dada yang dipenuhi tangis, Wilem duduk di pondok kayunya sambil menganyam rotan. Hutan di sekelilingnya diam. Terlalu diam. Bahkan burung-burung seolah enggan bernyanyi.
Tangannya berhenti bergerak.
Ia memandang jauh ke arah pepohonan rawa yang bergoyang pelan diterpa angin Selatan.
Dalam sunyi itu, ia mencoba mengingat wajah para leluhur. Nama-nama kuno yang dulu menjaga tanah itu dengan tombak kayu dan doa-doa adat.
Lalu sesuatu seperti penglihatan datang menghantam batinnya.
Ia melihat lembah-lembah Papua Selatan menjadi tanah penuh luka. Ia melihat sungai menjadi hitam oleh lumpur dan solar. Ia melihat pohon-pohon raksasa tumbang satu demi satu seperti tubuh manusia yang ditembak mati. Ia melihat walabi, rusa burung kakatua putih dan burung kasuari terbang lari ketakutan.
Ia melihat anak-anak Muyu kehilangan hutan, kehilangan bahasa, kehilangan dirinya sendiri.
Dan di tengah penglihatan itu, mulutnya terasa pahit.
Amarahnya tertahan seperti api di dalam dada tua yang letih.
Sebagai seorang Katolik yang telah dibaptis puluhan tahun lalu oleh misionaris yang berjalan kaki menembus rawa, Wilem lalu memandang salib kayu tua yang tergantung di tiang utama rumah adatnya. Salib itu sudah kusam dimakan usia.
Tetapi di mata Wilem, tubuh Kristus yang tergantung di sana tampak begitu dekat dengan penderitaan bangsanya.
Dengan suara yang pecah oleh tangis, ia menengadah.
“Tuhan... salah kami apa?”
Air matanya jatuh perlahan ke lantai papan kayu ulin yang liat.
“Mengapa babi-babi iblis dari Barat itu datang menggusur dan, menghancurkan hutan dan kehidupan kami?”
Dadanya sesak.
“Jangan tinggalkan kami, Tuhan... jangan tinggalkan kami...”
Dan tiba-tiba angin Selatan datang bergemuruh menerpa hutan Waropko. Pepohonan bergoyang keras. Daun-daun beterbangan seperti roh leluhur yang turun dari langit. Hutan itu berbunyi seperti ratapan ribuan ibu yang kehilangan anak-anaknya.
Di tengah gemuruh itu, seolah ada suara purba yang berbisik dari jantung rawa:
“WAROPKO... KAMU HARUS KUAT.”
Tetapi langit Papua siang itu tetap muram. Sebab di kejauhan, suara mesin-mesin modern terus mendekat.
Dan dunia mungkin tak pernah benar-benar mengerti: bahwa ketika hutan Papua ditebang, yang mati bukan hanya pohon.
Yang mati adalah ingatan. Adalah bahasa. Adalah doa-doa tua. Adalah cara manusia mencintai bumi.
Dan bagi suku-suku asli Papua, kehancuran hutan bukan sekadar bencana ekologis.
Itu adalah pembunuhan terhadap MAMA mereka sendiri.
Sumber" FB Humberto Verbita https://www.facebook.com/share/p/1E1MyYT2WF/
