Search
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 5
Fundamental Ekonomi Kita Kuat atau Babak Belur?
Bolak-balik bicara fundamental kuat, tapi mengapa investor tetap pada kabur? Indeks terus saja meluncur hingga minus - 35%.
Ini soal bisnis, soal dagang, soal investasi—bukan soal politik yang ketika pembeli kabur dan tidak mau stay, malah diajak gelut atau berantem!
Mas, Maas... Fundamental itu ibarat fondasi bangunan perusahaan. Sedangkan harga adalah apa yang pihak pembeli mau bayar dan mau membenamkan uangnya, apakah nanti dengan harga segitu akan mendatangkan keuntungan atau tidak?
Nih, saya kasih paham sedikit tentang cara pandang seorang investor atau pebisnis (trader):
Faktor Keamanan & Legalitas:
Fundamental itu ibarat fondasi dan kualitas bangunan rumah. Tapi, sebagus apa pun bangunannya, itu tidak bisa menjamin jika rumah tersebut tidak memiliki kepastian hukum. Apakah sertifikatnya jelas? Apakah bukan daerah banjir? Apakah tidak dikelilingi oleh kawasan kumuh yang sewaktu-waktu bisa memicu kerusuhan atau penjarahan? Hal-hal itu pasti akan dipertimbangkan oleh investor. Bisa saja harga rumah bagus senilai Rp5 miliar rontok menjadi Rp1 miliar (ARB) dan nampak harga sangat murah, namun, ke depan, harganya akan terus ndlosor jika surat-suratnya tidak jelas atau berada di lingkungan yang tidak aman.
Tekanan Likuiditas & Nilai Tukar:
Contoh lain: sebuah bank besar punya fondasi dan bisnis yang bagus. Tapi, mengapa investor asing terus saja melepas sahamnya di harga murah—hingga kemarin dibuang sampai Rp 2 triliun di harga bawah? Apakah tidak keteteran jika harus menyediakan dolar untuk dibawa pulang oleh asing? Tentu situasi seperti ini membuat nilai dolar semakin menekan, dan kita tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa fundamental bank tersebut sedang baik-baik saja.
Hukum Supply and Demand:
Supply and Demand lah yang menentukan harga saham. Kita juga harus tahu, selama ini dana asing yang dibenamkan di pasar modal jumlahnya sangat besar hingga ribuan triliun rupiah, dan tidak bisa ditandingi oleh dana lokal. Maka dari itu, aliran dana investor asing sangat mempengaruhi naik turunnya IHSG.
Sekarang ini, mereka terus-menerus menarik dananya dengan cara menjual saham-sahamnya. Akibatnya, IHSG longsor terus, diikuti oleh rontoknya harga saham-saham lain yang membuat para investor ritel mengalami floating loss cukup besar.
Krisis Kepercayaan (Trust):
Masalah yang disorot oleh MSCI bukanlah fundamentalnya, melainkan soal trust (kepercayaan)—apakah ekonomi Indonesia ke depan bakal tumbuh? Ibarat perumahan, apakah kompleks ini bakal berkembang ke depannya? Jika tidak ada harapan, wajar jika investor memilih melego asetnya dan pindah ke daerah lain yang lebih prospektif. Lalu, tetangga-tetangga ikut-ikutan jualan, yang tentu saja membuat harga semakin jatuh walau bangunan rumah tersebut secara fisik sangat bagus. Jadi, kita tidak bisa selalu berargumen, "Fundamental bangunannya bagus kok, serok saja, jangan takut." Pertanyaannya: Anda sendiri berani atau tidak membeli barang murah tapi sertifikatnya tidak jelas dan prospek ke depannya suram, sementara kompleksnya dikelilingi perkampungan kumuh yang rawan penjarahan?
Akan lebih baik jika kita speak-up mengenai rencana kerja (action plan) ke depan: apa saja targetnya, capaian apa yang sudah direalisasikan untuk perbaikan ekonomi kita, dan bagaimana target pertumbuhan ekonomi 8% bisa dicapai. Hal itulah yang justru bisa membuat para investor tertarik dan merasa nyaman untuk tetap stay di sini.
Wis, begini saja. Nanti punya maksud baik, eh malah diserang para buzzer.
