Search
- Details
- Category: Siraman Rohani
- By ZA Sitindaon
- Hits: 35
Melompatlah Dari Gereja Yang Pendetanya Sibuk Mengintai Uangmu.
MELOMPATLAH DARI GEREJA YANG PENDETANYA SIBUK MENGINTAI UANGMU.
Ada kegelisahan yang makin terasa di tengah kehidupan gereja masa kini. Bukan karena kekurangan aktivitas rohani, bukan karena minimnya program atau ibadah, justru sebaliknya. Mimbar tetap ramai, kata-kata terus mengalir, tetapi ada sesuatu yang perlahan bergeser: fokusnya.
Ketika uang lebih sering dibicarakan daripada pertobatan, ketika memberi lebih ditekankan daripada hidup benar, di situlah alarm rohani seharusnya berbunyi. Kalimat ini mungkin terdengar keras, bahkan ekstrem. Namun dalam realitas tertentu, ini bukan ajakan pemberontakan, melainkan peringatan agar iman tidak diam-diam diperdagangkan.
Jika mimbar lebih sering berbicara soal uang daripada perubahan hidup, jika memberi dijadikan syarat untuk menerima berkat, jika jemaat terus ditekan dengan janji “tabur dibalas 100 kali lipat”, maka itu bukan lagi penggembalaan—itu eksploitasi rohani. Tuhan tidak pernah mengajarkan hubungan transaksional dengan manusia. Iman bukan soal setor-menyetor, bukan mekanisme timbal balik seperti bisnis yang dihitung untung rugi.
Eksploitasi rohani adalah ketika iman dan kepercayaan jemaat dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi, dibungkus seolah-olah itu kehendak Tuhan. Jemaat didorong memberi bukan karena kasih, melainkan karena tekanan, rasa takut, atau janji berkat finansial.
Di titik ini, kita membutuhkan keberanian. Keberanian untuk jujur melihat, menilai dengan firman, dan jika perlu, melangkah keluar pindah gereja. Bukan karena kita tidak setia, tetapi justru karena kita ingin menjaga iman tetap murni. Keluar dari sistem yang salah bukan pemberontakan, itu penjagaan.
Setelah keluar, arah kita harus tetap jelas: kita perlu mencari komunitas atau gereja yang sehat. Tempat di mana firman diajarkan dengan jujur, memberi dilakukan tanpa tekanan, dan pelayanan berjalan tanpa motif tersembunyi. Tempat di mana Tuhan dimuliakan, bukan dimanfaatkan.
[Pdt. Samuel Pasaribu https://www.facebook.com/share/p/1ArVyFUME8/
