Search
- Details
- Category: Mimbar Kristen
- By ZA Sitindaon
- Hits: 75
Pendeta Yang Merasa Hanya Dirinya Yang Layak Didengar Sedang Berada Dalam Bahaya Besar
PENDETA YANG MERASA HANYA DIRINYA YANG LAYAK DIDENGAR SEDANG BERADA DALAM BAHAYA BESAR.
Kalimat ini menyoroti kondisi berbahaya ketika seorang pendeta mulai menikmati posisi rohaninya lebih daripada menjaga hatinya di hadapan Tuhan. Awalnya ia dipakai Tuhan untuk melayani, tetapi perlahan pelayanan mimbar membentuk perasaan bahwa dirinya paling benar, paling rohani, dan paling layak didengar. Di titik itu, ego telah memerintah di dalam dirinya.
Yang mengerikan, ia masih bisa berkhotbah di depan jemaat, tetapi tidak lagi memiliki kerendahan hati untuk menerima nasihat. Ia senang menegur orang lain, tetapi marah ketika dirinya ditegur. Ia ingin dihormati sebagai hamba Tuhan, tetapi tidak lagi rela duduk sebagai murid yang mau diajar.
Saat seorang pendeta mulai sulit dikoreksi, sebenarnya itu bukan hanya masalah karakter, tetapi tanda bahwa hatinya kehilangan takut akan Tuhan. Sebab orang yang benar-benar dekat dengan Tuhan akan semakin sadar betapa rapuh dirinya tanpa anugerah Tuhan dan selalu bersedia dikoreksi setiap waktu.
Ego rohani sangat licik. Ia bisa tumbuh di balik tepuk tangan jemaat, popularitas pelayanan, dan besarnya gereja. Pendeta mulai dikelilingi orang-orang yang hanya memuji, sehingga ia tidak lagi terbiasa mendengar kebenaran yang melukai kesombongannya.
Pesan untuk kita, terkhusus untuk kami para pendeta: Tidak ada satu pun dari kita yang begitu layak di hadapan Tuhan sampai tidak lagi membutuhkan teguran, pertobatan, dan anugerah-Nya. Jika hari ini kita masih bisa berdiri, melayani, berkhotbah, dan dipakai Tuhan, itu bukan karena kita lebih suci dari orang lain, tetapi semata-mata karena kemurahan Tuhan.
Semakin seseorang merasa dirinya paling layak didengar, paling rohani, dan paling benar, semakin ia sedang lupa bahwa semua manusia hanyalah debu yang hidup oleh kasih karunia. Kelayakan di hadapan Tuhan tidak dibangun oleh besar kecilnya gereja, banyaknya jemaat, atau terkenalnya pelayanan, tetapi oleh hati yang tetap rendah, takut akan Tuhan, dan mau terus dibentuk oleh kebenaran.
[Pdt. Samuel Pasaribu https://www.facebook.com/share/1BK36jb1Zy/
