fbpx

0
0
0
s2sdefault

IMG 20220225 WA0001

TRAGEDI TAMPOMAS II 41 TAHUN LALU

Saya teringat masa kecil di Ujung Pandang (sebelum berganti nama menjadi Makassar). Kami tinggal di pinggir pantai losari. Kurang lebih 100m.

Suatu pagi sekali 26 Januari 1981 saya sedang bermain di pulau mungil tak jauh dari pantai. Pulai Lae Lae ini cukup eksotis. Biasanya dengan perahu kayak saya dan teman2 bisa tiba di pulai ini.

Tiba2 kami lihat ada beberapa ikan lumba2 membawa orang di punggungnya. Ternyata itu sebagian penumpang KMP Tampomas II yang terbakar lalu tenggelam. Dia kemudian diselamatkan oleh penduduk di situ.

Ketika kami kembali di pantai terlihat begitu sibuk dgn perahu2 yang membawa korban. Sirine menyala di mana2. Ambulans sibuk ke luar masuk Rumah sakit Stella Maris persis di depan pantai. Karena tubuh saya mungil saya bisa menyelinap melihat kondisi korban KMP Tampomas yang digotong masuk utk diberi pertolongan.

KMP Tampomas II ini bertolak dari Dermaga Tanjung Priok hari Sabtu, 24 Januari 1981 Pukul 19.00 WIB dengan tujuan Ujungpandang, perjalanan seyogyanya memakan waktu 2 hari 2 malam di atas laut, sehingga diperkirakan hari Senin, 26 Januari 1981 Pukul 10.00 WIB akan tiba.

Diceritakan pada 25 Januari malam, dalam kondisi badai laut yang hebat, beberapa bagian mesin mengalami kebocoran bahan bakar, dan puntung rokok yang berasal dari ventilasi menyebabkan percikan api.

Api kemudian semakin menjalar ke kompartemen mesin karena pintu dek terbuka. 30 menit setelah api muncul, para penumpang diperintahkan menuju dek atas dan langsung menaiki sekoci.

Dari 6 sekoci yang ada, masing-masing hanya berkapasitas 50 orang. Sebagian penumpang nekat terjun bebas ke Laut, dan sebagian lagi menunggu dengan panik pertolongan selanjutnya.

Akhirnya pada siang hari tanggal 27 Januari 1981 Pukul 12.45 WIB atau Pukul 13.45 WITA (sekitar 30 jam setelah percikan api pertama), KMP Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa untuk selamanya, bersama 288 korban tewas di Dek Bawah.

Tak ada pejabat yang bertanggung jawab, semuanya berujung dengan kesalahan awak kapal. Hasil penyidikan Kejaksaan Agung yang menugaskan Bob Rusli Efendi Nasution sebagai Kepala Tim Perkara pun tidak ada tuntutan kepada pejabat yang saat itu memerintah. Skandal ini kemudian ditutup-tutupi oleh pemerintahan Suharto, kendati banyak tuntutan pengusutan dari sebagian anggota parlemen.

Foto: KMP Tampomas II / Wikipedia
.
.
.
Ruly Achdiat Santabrata

https://www.facebook.com/803774136380640/posts/5172601486164528/


0
0
0
s2sdefault

Add comment


Security code
Refresh