DRAMA POLITIK BANTENG SOLO  

(Scene: 3)

Gajah di Seberang Lautan Tampak, Banteng di Pelupuk Mata Terdepak

KOTA MAKASSAR 

Panggung megah berlampu sorot, didominasi warna merah dan putih khas PSI, partai kemarin sore untuk tidak menyebut "partai ingusan, tetapi membuat kelabakan partai besar.

Ratusan anak muda berjas PSI memenuhi ruangan, riuh rendah dengan sorak-sorai. Spanduk besar bertuliskan “ENERGI BARU INDONESIA” membentang di belakang podium.

Seorang MC dengan penuh semangat memperkenalkan sosok yang ditunggu-tunggu (dengan suara menggelegar):

"Saudara-saudari! Malam ini, kita kedatangan tamu kehormatan! Sosok yang pernah menjadi tukang kayu, lalu menjadi Walikota, Gubernur, dan bahkan Presiden! Sosok yang ditempa badai, caci maki dan hinaan, namun tak pernah goyah! Mari kita sambut… Bapak JOKOWI!

Sorakan membahana. Musik menghentak. 

JOKOWI muncul dari balik panggung, mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sebatas siku, celana hitam, dan sepatu kets. Rambutnya yang mulai memutih disisir rapi. Senyum tipis, namun memancarkan determinasi. Ia berjalan tenang menuju podium.

JOKOWI berdiri di podium, menatap kerumunan anak muda PSI. Ada percikan semangat yang lama terpendam kini menyala kembali di matanya. Ia menghela napas, seolah membuang beban masa lalu (suara agak serak di awal, namun perlahan menguat):

"Anak-anak muda Indonesia… Kader-kader hebat Partai Solidaritas Indonesia. Malam ini, saya berdiri di hadapan kalian… bukan sebagai mantan presiden yang sudah beristirahat. Bukan! Saya berdiri sebagai seorang warga negara biasa. Seorang tukang kayu yang kebetulan pernah ditugaskan rakyat memimpin negara ini." 

Terdengar tepuk tangan riuh. JOKOWI

(Melanjutkan, dengan nada lebih tegas):

"Dulu, saya bilang, politik itu panggilan jiwa. Saya ikut, karena ingin berbuat sesuatu untuk bangsa. Saya berjanji, saya bekerja. Sepuluh tahun saya habiskan untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Tetapi… (Jeda, matanya menyapu ruangan, seolah mencari sesuatu yang hilang) …setelah itu, saya seolah menjadi duri. Seorang pengkhianat menurut sebagian orang. Seorang yang dipecat dari keluarga yang membesarkan saya."

(Wajahnya mengeras. Ada kepedihan di sana, namun juga amarah yang tersembunyi).

JOKOWI (Suara meninggi, penuh penekanan):

"Mereka lupa! Saya ini rakyat! Saya ini punya hak politik! Sama seperti yang lain! Kenapa hanya saya yang dipersoalkan? Mengapa saya tidak boleh berpolitik?! Mengapa saya tidak boleh punya semangat untuk melihat bangsa ini lebih maju?!"

Sorakan "HIDUP JOKOWI!" membahana.

JOKOWI (Mengangkat tangan, menenangkan massa. Senyum tipis kembali merekah, namun kali ini lebih mantap):

" Dulu, mereka bilang saya ini banteng. Gagah. Perkasa. Tapi banteng… kadang terlalu kokoh pada posisi lamanya. Tidak mau bergerak. Tidak mau melihat ke depan." 

Ia berhenti sejenak, melirik lambang gajah di latar belakang. JOKOWI

(Dengan sorot mata tajam):

" Tapi kini, saya melihat… ada gajah yang bangkit! Gajah itu besar, kuat, cerdas, dan mau terus melangkah maju! Gajah itu tidak takut perubahan! Gajah itu mendengar suara rakyat!"

(Teriakan "PSI!" dan "Gajah!" bersahutan).

JOKOWI (Suara bergetar oleh semangat):

"Malam ini, di tanah Makassar ini, saya tegaskan! Saya akan bersama kalian! Membesarkan gajah ini! Membuatnya berlari kencang! Karena kita butuh energi baru! Kita butuh semangat muda! Kita butuh masa depan yang lebih cerah, bukan masa lalu yang terus diungkit-ungkit! Ayo, anak muda! Kita bangun kekuatan ini bersama!" 

JOKOWI mengepalkan tangan ke udara. Massa bergemuruh, berteriak-teriak histeris. Ia turun dari podium, menyalami beberapa kader muda, wajahnya memancarkan gairah yang lama tak terlihat.

Di Jakarta, kader senior PDIP yang didapuk sebagai juru bicara paling keras, sarkas, nyinyir, GUNTUR MEMBAHANA terlihat sedang diwawancarai televisi. Raut wajahnya sinis (seraya mengibaskan tangan):

"Ya begitulah. Orang sudah sakit, ya pikirannya juga jadi kurang sehat. Sudah sepuh, mestinya istirahat. Ini malah sibuk cari panggung. Mau jadi apa itu partai gajah? Paling cuma jadi gajah-gajahan saja."

Seorang ibu-ibu kader PDIP di sebuah warung kopi terlihat menggeleng-gelengkan kepala sambil memelintir ujung kerudungnya.

KADER PDIP IBU-IBU (berbisik kepada temannya):

"Kasihan ya, Pak Jokowi. Dulu gagah, sekarang lihat… seperti orang kebingungan. Sudah dipecat, malah melunjak!" 

Sekelompok kader muda PDIP terlihat menertawakan cuplikan pidato Jokowi di ponsel mereka. KADER PDIP MUDA

(tertawa terbahak-bahak):

"Hahaha! Tukang kayu! Sekarang jadi tukang bikin onar!"

KADER PDIP MUDA LAINNYA (menggelengkan kepala):

"Padahal sudah dibikin jadi presiden sepuluh tahun. Ora ngerti diuntung."

Di hajatan PSI di Makassar JOKOWI terlihat masih menyalami beberapa kader PSI. Ia melirik ponselnya, seolah ada pesan yang masuk. Senyumnya sedikit memudar, namun tekad di matanya tetap menyala. 

Ia tahu, perang belum usai. Ini baru permulaan dari pertarungan antara Banteng yang kokoh dengan Gajah yang progresif.

JOKOWI tahu pasti kemana pedang pembelaannya akan disandangkan.

(Bersambung)

Pepih Nugraha

***

DISCLAIMER: Ini merupakan skenario atau script lakon politik yang coba merekonstruksi peristiwa yang telah terjadi dan menangkap fenomena yang mungkin terjadi. Mohon maaf jika ada kesamaan nama, tempat, lembaga, dan nasib.

Sumber: FB Pepih Nugraha II https://www.facebook.com/share/p/1AtPfT2wk2/