Bank Dunia Ngajak Ribut, Masa’ Indonesia Dibilang Susah Jadi Negara Maju

Ente lagi kerja ni, lalu kawan lewat bilang, “Percume kerja keras. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Tak bakalan maju ente.” Pasti gedek dengarnya. Maunya manas. Kira-kira gambaran Bank Dunia pada negara kita tercinta ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Indonesia ini lagi panas-panasnya nasionalisme. Prabowo baru pegang kendali. Tempo malah bilang Prabowo itu ‘kaisar” yang sudah panaskan mesin negara. Jargon semangat 45 dipompa, hilirisasi digas, MBG dijadikan doa harian, sawit dielus sambil dibisiki, “kamu tulang punggung bangsa.” Suasananya heroik, seperti film perang dengan musik latar orkestra. Eh, di tengah adegan klimaks itu, Bank Dunia muncul dari balik layar sambil batuk kecil, “Maaf ya, Indonesia masih susah jadi negara maju.” Waduh. Ini bukan kritik, ini lemparan botol ke atas panggung.

World Bank tentu tidak bicara pakai rasa, apalagi pakai semangat. Mereka bicara pakai angka, tabel, dan istilah yang bikin kening berkerut. Dalam kamus mereka, negara maju itu bukan soal percaya diri, tapi soal status high-income country. Syaratnya sederhana tapi kejam. Pendapatan nasional bruto per kapita harus tembus di atas USD 14.006 per tahun. Kurang satu dolar pun, maaf, belum lulus. Nasionalisme tidak bisa dicicil, kemajuan ekonomi tidak menerima pembayaran pakai optimisme.

Di titik inilah Bank Dunia seperti dosen killer yang bilang, “Kamu rajin, tapi belum pintar.” Indonesia memang tumbuh, tapi pertumbuhannya belum berkelanjutan. Bank Dunia menekankan, untuk negara seperti Indonesia, pertumbuhan ideal itu harus konsisten di atas 6 persen per tahun, bukan sekadar numpang lewat karena harga komoditas lagi baik atau ekspor lagi hoki. Ekonomi harus ditopang produktivitas dan inovasi, bukan cuma gali sumber daya, jual, lalu berharap pasar global selalu baik hati.

Masalahnya, kata Bank Dunia, mesin produktivitas Indonesia ini agak aneh. Perusahaan besar ada, bahkan banyak yang raksasa, tapi begitu besar dan tua, produktivitasnya malah turun. Secara teori ekonomi, perusahaan yang tumbuh harusnya makin efisien, makin canggih, makin kompetitif. Di Indonesia, yang terjadi justru sebaliknya. Makin besar, makin lamban. Seperti dinosaurus ekonomi. Besar, kuat, tapi kikuk menghadapi perubahan zaman.

Akar penyakitnya, menurut Bank Dunia, ada di institusi dan iklim bisnis. Lapangan main tidak rata, aturan sering berubah, birokrasi berlapis-lapis seperti kue lapis Sambas. Akibatnya, sektor formal enggan tumbuh. Mayoritas tenaga kerja terdampar di sektor informal. Angkanya bikin melongo. Sekitar 83 persen pekerja Indonesia berada di wilayah abu-abu ekonomi. Negara besar, ekonomi G20, tapi urusan kerja masih mirip pasar kaget.

Efeknya merembet ke fiskal negara. Pajak jadi seret. Pendapatan negara menyusut. Defisit perlahan merayap mendekati angka sakral 3 persen. Utang naik. Bunga utang makin rakus, sampai seperlima pendapatan negara habis hanya untuk membayar bunga. Ini bukan alarm kecil, ini sirene panjang. Ruang belanja produktif makin sempit, sementara tuntutan pembangunan makin berisik.

Namun, ironi paling lucu justru di akhir. Bank Dunia bilang, kalau reformasi struktural dijalankan serius, iklim usaha dibereskan, produktivitas dinaikkan, birokrasi dipangkas, pertumbuhan ekonomi negeri kekuasaan Prabowo bisa melonjak signifikan. Bahkan, tambahan dua persen per tahun selama lima tahun. Artinya jelas, Indonesia bukan tak mampu maju, hanya terlalu sering setengah-setengah.

Maka jadilah ini seperti ribut warkop global. Indonesia teriak optimisme, Bank Dunia membalas dengan grafik. Yang satu bicara sejarah dan keberanian, yang lain bicara GNI per kapita dan disiplin fiskal. Percaya atau tidak, di antara dua dunia itulah Indonesia hari ini berdiri. Antara mimpi besar dan angka-angka dingin yang tidak bisa diajak berkompromi. 

“Bang, kurang ajar tu Bank Dunia. Mestinya berikan optimisme pada presiden. Ini malah jujur. Bank Dunia tak melihat dari MGB saja sudah sektor sejuta tenaga kerja. Apalagi tambang.”

“Parah Bank Dunia, wak. Semoga saja pak presiden kita tak bilang antek asing, wak” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

#camanewak

#jurnalismeyangmenyapa

JYM

Artikel asli ada di FB Rosadi Jamani https://www.facebook.com/share/p/17zTgzGtR6/