Dulu di ruang-ruang media dan kanal digital, si momon tampil bak pakar: penuh istilah teknis, grafik warna-warni, dan potongan citra yang diklaim sebagai “bukti ilmiah”. Dengan lantang dia menuduh ijazah Joko Widodo palsu, menyodorkan analisa yang terdengar canggih namun rapuh secara metodologi, tanpa chain of custody, tanpa verifikasi dokumen primer, tanpa uji pembanding yang sahih. Publik yang awam dibuat terkesima; seolah sains telah berbicara.
Namun sains bukan soal retorika. Digital forensik bukan panggung sensasi. Ia adalah disiplin yang menuntut prosedur ketat, validasi, dan akuntabilitas. Ketika klaimnya diuji dengan standar akademik dan praktik forensik yang benar, analisa itu runtuh: asumsi yang melompat, kesimpulan yang mendahului data, dan interpretasi yang mengabaikan konteks.
Ironi terbesar justru terkuak kemudian.
Sosok yang gemar menuding itu ternyata justru pelaku pemalsuan ijazah S2 dan S3 dari Yamaguchi University. Di saat dia sibuk membangun narasi tentang “kepalsuan” orang lain, kredensialnya sendiri dipertanyakan. Publik pun menyaksikan paradoks: seorang yang mengklaim sebagai penjaga integritas akademik, namun mengkhianati integritas itu sendiri. Seseorang yang mengklaim perjuangan moral, namun secara nyata melakukan kemunafikan intelektual.
Kisah ini akan menjadi pengingat penting: pseudo-science sering bersembunyi di balik jargon dan keberanian tampil. Dia memanfaatkan kebisingan informasi dan polarisasi opini. Tetapi pada akhirnya, kebenaran ilmiah tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras berbicara, melainkan oleh siapa yang mampu membuktikan dengan metode yang sah, transparan, dan dapat diuji ulang.
Mengungkap pseudo ahli bukan sekadar membongkar satu figur. Ini tentang memulihkan marwah ilmu, menjaga ruang publik dari manipulasi, dan menegaskan bahwa integritas akademik bukan alat propaganda. Ketika fakta diuji dengan prosedur yang benar, topeng pun jatuh dengan sendirinya.
Sumber: FB Josua M Sinambela https://www.facebook.com/share/1Akbx7qeLr/
