Kopdes Merah Putih atau Kopdes Rasa Impor?
Kita lanjutkan polemik impor pikap 105 ribu dari India. Kopdes Merah Putih belum banyak beroperasi sudah mau dikasih pikap buatan Vrindapan itu. PT. Agrinas dengan reputasi gagal ngurus Food Estate, dikasih uang rakyat Rp24,66 triliun untuk mengimpor pikap tersebut. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Indonesia lagi sibuk meracik swasembada pangan ala Presiden Prabowo Subianto. Narasinya gagah, nadanya patriotik, aromanya seharusnya seperti kopi Gayo yang ditumbuk di lesung bambu. Namun tiba-tiba, di tengah dapur nasionalisme itu, muncul satu menu baru bernama PT Agrinas. Katanya BUMN pangan. Katanya motor distribusi desa lewat program Kopdes Merah Putih. Namun yang tercium publik justru aroma impor yang lebih kuat dari robusta Lampung sangrai gosong.
Angkanya tidak main-main. Rp24,66 triliun. Ulangi pelan-pelan sambil menyeruput kopi, dua puluh empat koma enam enam triliun rupiah. Duit sebesar itu dipakai untuk mengimpor 105.000 unit pikap 4x4 dan truk dari India, produksi Mahindra & Mahindra dan Tata Motors. Alasan resminya terdengar seperti promo buy one get one. Harga lebih murah 25 persen, spesifikasi lebih cocok medan berat, negosiasi dengan produsen lokal seperti Mitsubishi dan Hino gagal. Rasional? Bisa jadi. Sensitif? Jelas.
Program Kopdes Merah Putih ini berdasar Inpres No. 17/2025 yang diteken Prabowo sendiri, dengan mandat percepatan gudang dan gerai desa memakai “praktik bisnis sehat”. Sehat seperti apa? Sehat arabika Flores atau sehat kopi instan tiga dalam satu yang manisnya berlebihan?
Agrinas bukan BUMN tua yang kenyang pengalaman. Ia lahir tahun 2025 dari merger tiga BUMN karya dan langsung disuntik modal Rp8 triliun. Bayi baru langsung diberi mesin espresso industri. Misinya mulia, urus pertanian, perikanan, kelapa sawit. Namun publik belum lupa warisan food estate 425.000 hektare di Kalimantan, Sumatera, sampai Papua sejak era Joko Widodo. Program yang dikritik WALHI dan Greenpeace karena sawah mangkrak, banjir parah, deforestasi habitat orangutan, konflik masyarakat adat, dan hasil panen yang tak setebal buih kopi susu.
Pengamat IPB dan serikat petani bahkan menyebutnya “lompatan kesimpulan destruktif”. Namun kini Agrinas tampil percaya diri. Direktur utamanya, Joao Angelo De Sousa Mota, teman lama Prabowo dari era Timor Timur, sempat mundur Agustus 2025 karena pendanaan nol. Lalu kembali. Kali ini bukan membawa cangkul, melainkan kontrak impor. DP Rp7,3 triliun sudah dibayar. Sebanyak 1.200 unit pertama sudah mendarat. Aromanya sudah sampai ke warung kopi DPR.
Lalu masuk bab rasa pahitnya. Nama Sjafrie Sjamsoeddin ikut disebut-sebut. Joao pernah menjadi asistennya. Agrinas disebut diisi pensiunan jenderal. Ada donasi empat unit pikap ke Kemhan. Kunjungan Sjafrie ke India Februari 2026 dikaitkan. Netizen pun menyeduh teori, “Proyek para jenderal!” Pihak Agrinas dan Kemhan membantah. Katanya murni operasional, tender terbuka, siap tanggung jawab jika dibatalkan.
DPR ribut. Kadin ribut. KSPN ribut. Industri otomotif lokal terdiam seperti barista yang melihat pelanggan tetap pindah ke kedai sebelah. Nuan bayangkan, 105.000 unit itu dirakit di dalam negeri. Berapa rantai pasok bergerak? Berapa tenaga kerja terserap? Namun kini yang siap melaju justru pikap India di atas tanah food estate yang pernah kebanjiran.
Impor ini sempat ditunda menunggu Prabowo pulang dari luar negeri. Publik menanti keputusan seperti menunggu seduhan manual brew yang tak kunjung turun. Apakah ini efisiensi rasional? Apakah ini nasionalisme rasa baru? Atau sekadar espresso kekuasaan dengan shot terlalu pekat?
Pertanyaannya tetap menggantung seperti uap di atas cangkir panas, Kopdes Merah Putih, atau Kopdes rasa impor? Rp24,66 triliun bukan ampas di dasar gelas. Itu uang rakyat. Tinggal tunggu, mau diseruput sampai habis atau dituang sebelum basi.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
Sumber: FB Rosadi Jamani https://www.facebook.com/share/p/18TvdwGaST/
