Top Stories
-
Siap-siap Ekonomi Semakin Parah, 5 Tahun Kedepan Secara Keseluruhan Akan Berat!
-
Lingkunganmu Menentukan Hidupmu
-
HP Mulai Ditinggalkan di 2026, Ramai-ramai Beralih ke Penggantinya
-
Nasabah Menjerit di DPR: Bank Muamalat Diduga Gelapkan Dana Miliaran
-
China Berlakukan Wajib Steer-By-Wire Untuk Semua Mobil
-
Medan Perang Durian di Tiongkok
Search
- Details
- Category: Ekonomi & Bisnis
- By ZA Sitindaon
- Hits: 2007
Jakarta - Hellen Sanjaya tak pernah terpikir untuk menjadi pembuat dan penjual suvenir kain flanel berbentuk boneka gigi seperti saat ini.
Tahun 2013 lalu, ia membuat suvenir karena ingin memberi hadiah kepada pasien anak-anak agar ketika momen pemeriksaan gigi tak lagi menakutkan.
Read more: Sukses Bisnis Suvenir, Hellen Pilih Resign dari PNS
- Details
- Category: Ekonomi & Bisnis
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1378
Hotman pun menjelaskan kronologi kejadian tersebut. Saat berada di Milan, Italia, Sang istri kedapatan membawa uang sebanyak 20 ribu euro di dalam tas. Karena membawa uang dengan jumlah banyak tersebut, ia dan Sang istri pun sempat diperiksa lama.
"Istri saya kan lagi batuk-batuk, dia taruh duit di sembarang tempat. Kan di sana peraturannya, tidak boleh bawa duit keluar. Boleh bawa duit tapi harus dilaporkan," katanya dikutip dari tayangan Insert di Trans TV, Senin (3/12/2018).
"Waktu ditanya 'berapa duit lu?'gue bilang kurang dari 5.000 euro. Padahal di kaus kaki gue, di mana-mana ada 30 ribu, ada. Nggak ketahuan kalau gue," kata Hotman.
Berbeda dengan dirinya, kata Hotman, jumlah uang yang dibawa oleh Sang istri ketahuan pihak kepolisian. Sang istri kedapatan membawa hampir 20 ribu euro di dalam tasnya.
"Istri saya ketahuan. Berapa duit lu?' katanya. Langsung dikasih tasnya, ya ketahuan lah hampir 20.000 euro. langsung polisinya datang semua, langsung di BAP langsung, dikiranya teroris, 'dari mana lu bawa duit segini?' katanya," terang Hotman.
Karena kejadian itu, Hotman dan istri harus menjalani pemeriksaan selama beberapa jam dan ketinggalan pesawat. Hingga akhirnya, Hotman dibantu oleh Sang anak yang mempunyai kenalan pengacara Italia dan Swiss untuk membantunya.
Hotman dan istri pun akhirnya bisa keluar dari kesalahpahaman tersebut dan dikenakan denda 200 euro.
"Di polisinya berdebat lama, karena yang boleh masuk waktu di BAP hanya istri sama anak saya, ada dua orang. Cuma kebetulan, anak-anak saya kan sudah kuat hubungannya di sana, punya teman pengacara orang Italia. Jadi putri saya langsung hubungi temannya pengacara Italia, jadi pengacara Italia itu langsung bicara dengan polisi Italia," jelas Hotman.
"Kemudian anak saya juga punya teman dengan pengacara Swiss. Jadi mereka bicara. Akhirnya polisinya percaya kita bukan teroris. Cuma dikenakan sanksi 200 euro," tuturnya.
(fdl/ara)
- Details
- Category: Ekonomi & Bisnis
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1092
Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, blusukan ke pasar tradisional di Purwokerto, Jawa Tengah. Dalam kunjungannya, SBY menyampaikan pesan, jangan sampai ada perpecahan hanya gara-gara pemilu. SBY didampingi istrinya, Ani Yudhoyono saat berkunjung ke pasar manis purwokerto. Mereka menyapa warga dan sempat makan soto di pasar ini. Presiden ke-6 Indonesia itu sekaligus mengajak warga untuk tetap menjaga kedamaian jelang pemilu 2019. SBY menegaskan, pemilu jangan sampai membuat bangsa terpecah. Ia juga meminta doa restu warga, untuk bisa membantu memperbaiki perekonomian.
- Details
- Category: Ekonomi & Bisnis
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1032

Apakah ini artinya jurus baru yang dimiliki Bank Indonesia (BI) sudah mulai ampuh?
Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan langkah BI yang mengaplikasikan domestik non deliverable forward (DNDF) sudah tepat.
"Hal ini karena pasar NDF di luar negeri yang memperdagangkan kontrak rupiah sarat dengan spekulasi," kata Bhima saat dihubungi, Sabtu (3/11/2018).
Dia menjelaskan dengan benchmark rate yang lebih transparan dan memang diperuntukkan untuk hedging, DNDF bisa memberikan stabilitas kurs rupiah untuk jangka panjang.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah menjelaskan selama dua dasawarsa terakhir pasar NDF (Non Delivery Forward) rupiah hanya berlangsung di pasar keuangan luar negeri, yang seringkali berpengaruh fluktuasinya pada pasar tunai (spot) di dalam negeri.
"Sekarang telah lahir pasar NDF di dalam negeri atau Domestik Non-Delivery Forward (DNDF), yang dalam dua hari terakhir mulai aktif ditransaksikan oleh 10 bank. Bila pada hari perdana volume transaksi DNDF mencapai US$ 60 juta, maka pada hari kedua mencapai US$ 90 juta," kata Nanang di gedung BI.
Dia menyebut BI optimistis pasar DNDF ini akan terus berkembang karena akan menambah instrumen lindung nilai terhadap risiko fluktuasi kurs dengan biaya yang efisien tanpa penyerahan dalam mata uang dolar AS, tapi berupa selisih antara kurs DNDF dengan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate yang dibayarkan dalam rupiah.
- Details
- Category: Ekonomi & Bisnis
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1029
Capres dan Caleg DPR RI Pilihan Rakyat 2019.
Era Orde Baru, era Reformasi, dan era Revolusi Mental ternyata belum mampu membuat Indonesia bersih dari korupsi. Hal ini terjadi karena UU yang ada masih berpihak kepada para koruptor. Katanya semua masyarakat sama di mata hukum, tapi prakteknya jauh berbeda. Para napi korupsi di tempatkan di penjara khusus yang sangat istimewa dengan berbagai fasilitas, berbeda dengan napi pencuri ayam, sandal dan kriminal lainnya ditempatkan di penjara kumuh dan sempit bagai hewan peliharaan. Jika memang masyarakat sama di mata hukum, maka tempatkanlah napi koruptor itu bergabung dengan napi kriminal lainnya.
Pilpres dan Pileg 2019 sudah memasuki tahap kampanye, kita akan disuguhi dengan janji-janji manis oleh para calon, janji ekonomi semakin baik, janji pembangunan semakin cepat, janji hukum akan di tegakkan, dan banyak janji-janji lainnya yang akan disuguhkan kepada calon pemilih.
Masa depan bangsa Indonesia di tentukan oleh rakyat, masa depan bangsa ini ada di tangan kita sebagai rakyat, jangan gadaikan masa depan bangsa ini hanya karena janji muluk-muluk, atau hanya karena politik uang.
Salah satu faktor yang membuat Indonesia ini tidak maju, masyarakatnya mudah dihasut atau di adu domba adalah faktor ekonomi. Ekonomi kita hanya berpihak kepada para pengusaha dan penguasa yang korup.
Korupsi tidak akan pernah habis dari negeri ini jika para koruptor masih di perlakukan dengan UU yang ada selama ini. Sehebat apapun pembangunan maka akan semakin hebat pula para koruptor akan beraksi jika para koruptor diperlakukan sebagai napi istimewa.
Para jurubicara tim pemenangan kedua capres hanya adu sindir, belum ada adu ide atau adu gagasan utamanya pemberantasan korupsi.
Memberikan hadiah 200jt bagi pelapor tindak korupsi tidak akan mengurangi niat orang untuk melalukan korupsi.
Menaikkan gaji para pejabat atau aparatur negara juga tidak menjamin pejabat tsb. tidak korupsi, bahkan semakin tinggi gajinya maka akan semakin tinggi nominal korupsi atau suapnya.
Untuk itu mari kita bersatu bersama Gerakan Rakyat Indonesia Bersih Korupsi 2019, melalui Pemilu serentak 2019 mendatang, kita pilih Presiden/Wakil Presiden dan anggota llegislatif DPR RI yang berkomitmen terhadap Indonesia Bersih Korupsi 2019 yang bersedia membuat Fakta Integritas membuat UU Hukuman Mati para terpidana korupsi serta menyita semua harta benda keluarga istri/suami dan anak-anaknya. Hukuman penjara dan pemiskinan tidak akan efektif mengurangi perilaku korupsi.
UU Hukuman Mati dan sita seluruh harta benda keluarganya harus sudah selesai dalam masa 6 bulan sejak di lantik dan segera di atur UU pelaksanaannya serta merta. Tanpa itu Indonesia tidak akan pernah maju, tidak akan pernah makmur, tidak akan pernah sejahtera.
Calon Presiden/Wakil Presiden dan calon anggota legislatif DPR RI 2019, yang berkomitmen membuat UU Hukuman Mati para terpidana korupsi dan menyita semua harta benda keluarga istri/suami serta anak-anaknya, itulah pilihan Rakyat Indonesia Bersih Korupsi 2019. Yakin INDONESIA JAYA.
Penulis : Zul Abrum Sitindaon.

