Top Stories
-
Mulyono, Pegawai Pajak, Anak Buah Purbaya Ketangkap KPK
-
Kakak Kandung Tega Bunuh Adiknya Demi Klaim Asuransi
-
Trading Mulai Ramai, Jangan Salah Pilih Saham Lagi!
-
Pilih KUMON Atau SAKAMOTO?
-
Suami Istri Cari Uang
-
Stop Memberi Label Pakar Kepada Seseorang Tanpa Rekam Jejak Riset dan Sertifikasi Profesi Atau Karya Ilmiah Yang Relevan Dibidangnya
Search
- Details
- Category: Jansen Sitindaon
- By ZA Sitindaon
- Hits: 247

TANGGAPAN SAYA TERHADAP KEJADIAN DI UNIVERSITAS TEUKU UMAR (“UTU”) INI:
1) Sebagai seorang warga Negara Indonesia dan alumni dari Universitas Negeri, agak sedih saya baca ini. Karena tidak sesuai dgn semangat berdirinya sekolah Negeri. Apalagi jika hal begini terus dilanjutkan dan dibenarkan.
2) Saya sepenuhnya sadar Universitas Teuku Umar ini berdiri di Aceh. Namun ini kan kampus Negeri. Yg dibiayai oleh pembayar pajak. Harusnya sekolah Negeri itu — mau ditingkat apapun, semua jenis, bukan hanya tingkat universitas saja — inklusif dan terbuka. Terbuka menerima semua keberagaman yg ada di Indonesia ini. Termasuk agamanya.

Kalau mau eksklusif itu sudah ada tempatnya. Di sekolah SWASTA yang ada dibawah Yayasan Perguruan Agama. Mau itu Yayasan Perguruan Islam, Kristen, Katholik, Budha dll, silahkan saja kalau mau memasukkan unsur-unsur agama dalam kegiatan kesehariannya bahkan sampai kurikulumnya.
3) Kalau UTU inikan sekolah/kampus Negeri. Sekolah yg dioperasikan dan dibiayai pemerintah. Dibayar oleh pajak dari semua warga negara, dari semua agama yg ada di Indonesia ini (kalau mau dikaitkan dgn agama).

Karena itulah semua anak di Indonesia ini, melalui seleksi/ujian yg dilakukan pemerintah, dari Papua sampai Aceh bisa masuk ke UTU ini. Anak Papua bisa masuk ke UTU, termasuk anak Aceh juga bisa masuk ke Universitas Cendrawasih (Uncen) di Papua, Sam Ratulangi di Manado, Udayana di Bali, Univ Nusa Cendana di NTT dll. Ini sekedar contoh saja. Inilah esensi Univ Negeri, semua orang dari seluruh Indonesia bisa masuk. Krn seleksinya murni berdasarkan nilai yg dicapai siswa yg bersangkutan dalam ujian. Bukan karena agama, suku atau identitas lainnya.
4) Kedepan, fungsi, arti dan makna sekolah Negeri ini memang harus ditegaskan dan ditegakkan kembali. Karena disinilah harusnya salah satu tempat menjaga keberagaman Indonesia ini. Termasuk tempat utk terus menyemainya. Disemua tempat berbau “Negeri” inilah harusnya keberagaman itu tampak dan tidak dikekang. Apalagi sampai dihukum.
5) Ini sekarang malah banyak yg terbalik. Sekolah Negeri tapi perilakunya seperti sekolah swasta yg dikelola Perguruan Agama. Sebaliknya, banyak sekolah swasta yg lebih Negeri dari Negeri.
6) Jikapun statusnya Negeri tapi mau Eksklusif, sudah ada sebenarnya, yaitu Institut Agama Negeri atau jenis sekolah lainnya yg dikelola Kementerian Agama, dibawah Dirjen Bimas agama masing-masing. Seperti IAIN, IAKN (Institut Agama Kristen Negeri) dll. Jadi bukan Universitas Negeri yg sifatnya umum begini yg dibuat jadi eksklusif.

7) Terakhir, simpatiku untuk 4 Mahasiswa Universitas Teuku Umar yg mengalami masalah karena mengucapkan selamat Jumat Agung. Semoga teman2 semua diberikan kekuatan dan kesehatan selalu.
Sebagai mahasiswa di Universitas Negeri, apa yg teman-teman lakukan itu sepenuhnya menurutku sudah tepat dan telah sesuai dgn esensi dari didirikannya sekolah/Universitas Negeri di Indonesia ini. Malah yg menghukum teman-teman itu yg tidak memahami esensi dirinya sebagai seorang Pegawai Negeri yg bekerja di institusi Negeri.
Maju terus seluruh Universitas Negeri di Indonesia ini. Teruslah dan tetaplah inklusif dan terbuka. Sebagaimana terbukanya mahasiswa yg bisa masuk ke Universitas Negeri dari seluruh Indonesia ini.
Mari terus kita jaga keberagaman di Indonesia yg kita cintai ini. Utamanya di institusi-instusi Negeri.
Hormatku,
— JANSEN SITINDAON
- Details
- Category: Jansen Sitindaon
- By ZA Sitindaon
- Hits: 277
JANSEN SITINDAON, Profil FB
Sedikit tulisanku soal “Gereja Suku di Indonesia”, GKPS dan Permohonan:
1) GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun) ini adalah salah satu “gereja suku” di Indonesia. Jadi ini adalah gereja tradisional berciri kedaerahan.
Ini gereja yg teduh sebenarnya dan “tidak mengancam”, jika itu yg ditakutkan warga sekitar. Karena walau prinsipnya: gereja terbuka utk umum atau suku lain, tapi kemungkinan mereka masuk, atau masyarakat sekitar masuk, sangat kecil. Krn ibadahnya saja pakai bahasa Simalungun. Saya saja yg Kristen dan Batak, kecil kemungkinan masuk GKPS ini. Krn bahasanya saya tidak tahu;
Contoh Gereja Kedaerahan lain yg sama dgn GKPS ini misalnya: gereja kami HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Atau GBKP (Gereja Batak Karo Protestan), BNKP Nias dll.
Kalau di Jawa ada GKJ atau GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) yg ibadahnya pakai bahasa Jawa. Di Sulawesi ada Gereja Toraja, GMIM (Gereja Minahasa) dan banyak daerah lainnya.
Semua gereja diatas berciri kesukuan. Pakai bahasa daerahnya masing2 utk beribadah. Dan budaya daerahnya masih sangat kental.
Gereja sejenis ini lahir juga karena adanya “politik gospel” penjajah masa lalu yg memakai taktik pendekatan suku. Sehingga misi Zending dari luar, masuknya langsung spesifik ke suku dan daerah tertentu di Indonesia.
Gereja sejenis ini bisa berdiri keluar dari daerahnya, 100 porsen karena para perantau nya. Karena para “diasporanya” yg merantau termasuk yg lahir diluar daerah. Contoh seperti Gereja kami HKBP, bukan hanya di Indonesia saja, bahkan sudah berdiri di luar negeri seperti di Singapura, Kuala Lumpur, LA, New York, Colorado, dll. Semua ini dimulai karena adanya suku Batak ditempat itu.
Jadi selain tempat ibadah, gereja juga jadi tempat berkumpul — minimal seminggu sekali — dgn teman satu kampung, satu suku, satu daerah yg sama-sama jauh di rantau. Berbagi suka, duka, derita dll. Termasuk mengurusi soal pernikahan, kematian, kelahiran anak dll.
Termasuk Gereja juga sbg tempat bagi para perantau utk mengenalkan budaya bagi anak-anaknya yg lahir di rantau.
Utk contoh saja tidak jauh-jauh masih di Jakarta: di Gereja kami HKBP Menteng misalnya, Gereja membuka program “les bahasa Batak” utk jemaat. Krn banyak anak-anak kami yg lahir di rantau sudah tidak tahu bahasa ini. Jadi di “gereja tradisional” ini, gereja juga jadi tempat utk melestarikan budaya. Minimal bahasanya. Krn ibadahnya di jam tertentu dan Alkitabnya pakai bahasa daerah.
2) Jadi saya berharap semoga dgn sedikit penjelasan ini, Yang Kami Hormati Ibu Bupati cq Pemerintah Purwakarta dan FKUB disana berkenan menerbitkan izin utk Gereja Simalungun ini. Jika memang benar masalahnya soal izin, bukan hal lainnya.
Semoga kalimat “di segel karena izinnya belum ada” ini bukan artinya: setelah itu izinnya terus tidak dikeluarkan. Inikan sama saja artinya “disegel seumur hidup”. Atau gereja itu tidak boleh berdiri dan tutup selamanya. Sekiranya ada hal lainnya, kami mohon Pemerintah Purwakarta memberikan putusan dan kebijakan yg seadil-adilnya.
Demikian sedikit yg bisa saya tuliskan. Semangat terus utk warga Simalungun dan jemaat Kristen lainnya di Purwakarta. Dan utk seluruh sahabat kami Ummat Muslim di Purwakarta dan Indonesia kami mohon keterbukaan hatinya dan selamat menjalankan Ibadah Puasa utk sahabat semua.
Hormatku,
— JANSEN SITINDAON
- Details
- Category: Jansen Sitindaon
- By ZA Sitindaon
- Hits: 310
Jansen Sitindaon, Wasekjen Partai Demokrat dalam Sidang MK gugatan Pemilu menolak sistem proporsional tertutup 17/3/23 di Jakarta.
SIDANG MK SOAL TERBUKA vs TERTUTUP”
Berikut penjelasan Jansen Sitindaon, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat dalam sidang di Mahkamah Konstitusi pada hari Jumat 17/3/23 di Jakarta dalam gugatan soal Pemilu proporsional terbuka atau tertutup:
"Memberi keterangan sebagai pihak terkait di sidang Mahkamah Konstitusi dalam kasus sistem terbuka versus tertutup.
Kelihatannya MK belum akan memutuskan persoalan ini, dalam waktu dekat ini.

Karena dalam sidang, menjawab permohonan yg saya ajukan — yg satu kesatuan dgn argumen yg saya sampaikan — agar perkara ini jika bisa segera diputuskan, karena pendaftaran caleg ke KPU sebentar lagi akan dilaksanakan, Ketua Majelis Hakim telah menyampaikan: “masih banyaknya ahli dari para pihak baik pemohon, terkait dll yg masih harus diperiksa oleh Mahkamah”. Sesuai ketentuan hukum, norma sistem terbuka yg sekarang masih eksis, itulah yg berlaku.

Sikap kami Demokrat jelas! Dan berada di posisi sistem terbuka, sebagaimana telah secara tegas dan terang benderang disampaikan oleh Ketua Umum kami mas AHY. Dan argumen sosiologis, yuridis dan praktikalnya telah saya sampaikan dalam sidang di Mahkamah ini.
Mari kita kawal terus jalannya sidang di Mahkamah Konstitusi. Sehat utk kita semua.
— JANSEN SITINDAON
- Details
- Category: Jansen Sitindaon
- By ZA Sitindaon
- Hits: 535

Dulu ketika masih dizaman kolonial, di Indonesia ini sebenarnya ada 2 "Paris". Satu "Paris van Java" yg sampai skrg masih populer utk menyebut Kota Bandung. Dan satu lagi yg sudah tidak pernah lagi disebut — bahkan banyak orang Sumatera Utara sendiri tidak tahu — "Paris van Sumatra" yaitu Kota Medan.
Pada masa itu, Sumatera khususnya Medan memang jadi "bintang" baru di Hindia Belanda. Tempat ini tumbuh menjadi penanda keajaiban baru ekonomi perkebunan. Melalui tembakau, karet dan tanaman lain yg menjadi komoditas utamanya. Medan ketika itu bukan hanya sangat populer dengan tembakau deli nya yg menjadi favorit orang² Eropa, namun banyak hasil kebun lainnya.
Ditambah lagi ketika itu ada kompetisi antar para "penjajah". Inggris ketika itu sudah membangun Singapura dan Pulau Pinang di semenanjung Malaya sebagai simbol kesuksesan koloninya. Mau tidak mau Belanda juga harus punya simbol kemajuan di koloninya. Dipilihlah Medan yg kebetulan juga dekat dengan 2 kota Inggris diatas.
Bahkan sampai hari ini kita merasa, jika berangkat dari Medan, jarak kedua tempat itu tidak terlalu jauh. “Jarak kemajuannya” saja yang semakin hari-hari semakin jauh dengan Medan. Kedua kota itu sekarang telah jadi “kota dunia”. Bahkan banyak orang Medan sering berkunjung kesana utamanya lagi ketika sakit untuk berobat. Ataupun untuk liburan biasa.
Selain didukung "boom" hasil perkebunan, Medan ketika itu juga memang sudah banyak dihuni kaum "DELIAAN". Sebutan populer saat itu utk menyebut para “Belanda - Deli”. Orang-orang Belanda yg lahir dan tinggal di Deli. Yg walaupun telah lama tinggal di Deli, karakter dan selera Baratnya tidak hilang.
Diluar gedung-gedung kantor milik pemerintah kolonial, para Deliaan inilah yg kemudian juga banyak membangun gedung-gedung bercorak art deco, bercat putih bercitra Eropa di Medan. Yang sekarang sisa-sisanya masih bisa kita lihat.
Karena dari hasil kebun para Deliaan, para Belanda-Deli ini jadi kaya raya, maka segala hal yg ketika itu jadi tren di Eropa, mentah-mentah mereka impor juga jadi bagian budaya baru perkotaan dan gaya hidup di Medan. Pada masa ini Medan ramai dgn pertunjukkan kabaret Perancis yg saat itu sedang jadi trend, opera dll. Pokoknya apa yg sdg trend dan “in” di Paris dan Eropa tidak selang lama ada di Medan.
Sekarang, jika kita ke Medan, beberapa jejak gedung art deco itu masih bisa dilihat (minimal contohnya dalam foto² diatas). Khusus gedung-gedung yang pasca kita merdeka dipakai jadi kantor pemerintah, rata-rata masih terawat baik. Namun banyak lainnya tidak.
Melihat majunya Medan ketika itu, Chairil Anwar mengutif Dr. H Van Der Veen menyampaikan: "Molukken is het verleden, Java is het heden en Sumatra is de toekomst". Maluku adalah masa lalu, Jawa masa sekarang dan Sumatra adalah masa depan. Itulah bukti luar biasanya Sumatera cq Medan ketika itu.
Inilah sedikit cerita saya tentang MEDAN, "Paris vand Sumatera" yg terlupakan.
—JANSEN SITINDAON
https://www.facebook.com/1400494851/posts/10221224662351703/
- Details
- Category: Jansen Sitindaon
- By ZA Sitindaon
- Hits: 597
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam acara Dialog Kebangsaan Indonesia Bangkit diTV One.
SitindaonNews.Com | Jansen Sitindaon mengatakan kekuatan AHY sebutan dari Agus Harimurti Yudhoyono Ketua Umum Partai Demokrat ada pada Sikap, Analisa, Pandangan dan Nilai-nilai yang jelas dan sangat mengapresiasi penampilan AHY di TV One yang berani bicara penuh perhatian soal demokrasi, hukum, keadilan dan republikanisme. "Artikulasi, argumen dan sikapnya jelas! Komitmen soal ini penting bagi siapapun pemimpin Indonesia kedepan" kata Jansen.
Sebagaimana kita ketahui beberapa hari lalu AHY tampil dalam acara Dialog Kebangsaan Indonesia Bangkit di TV One bersama beberapa nara sumber lain.
Adalah salah segala tuduhan & peremehan terhadap AHY selama ini adalah salah, " Saya tahu benar kwalitasnya, saya telah berkali-kali melihat dan menemani mas AHY bicara di beberapa kesempatan, tapi bagi orang-orang yang selama ini hidup dalam prasangkanya sendiri, penampilan TV One kemarin penting untuk menunjukkan bahwa segala tuduhan & peremehan kalian itu salah" kata Jansen lagi.
"Kekuatan mas AHY ini ada pada sikap, analisa, pandangan dan nilai²nya yang jelas. Ditopang dengan informasinya yang banyak dan benar. Anugerah dan kecedasan ada pada dirinya, inilah modal besar merumuskan Indonesia ke depan ditengah terus turunnya demokrasi kita, injustice, politik identitas dll" sambung Jansen lagi.
Jansen meminta pengurus Partai Demokrat di seluruh Indonesia agar semua solid dan bangga melihat Ketum bicara isu dan gagasan besar tentang bangsa ini, tentang Indonesia masa depan, dimana panggilan sejarah itu akan tiba.
Berikut utasan lengkap Jansen Sitindaon yang kami kutip dari akun twiter @jansen_jsp :
Sbg kader dlm acara TV One kemarin saya bangga pd 4 hal:
1. Ketum saya satu-satunya yg berani bicara penuh perhatian soal demokrasi, hukum, keadilan dan republikanisme. Artikulasi, argumen dan sikapnya jelas! Komitmen soal ini penting bagi siapapun pemimpin Indonesia kedepan;
2. Saya telah berkali-kali melihat mas AHY bicara bahkan di bbrp kesempatan menemaninya, dan tahu benar kualitasnya. Tp bagi orang2 yg selama ini hidup dalam prasangkanya sendiri, penampilan TV One kemarin penting utk menunjukkan bahwa segala tuduhan & peremehan kalian itu salah;
3. Kekuatan mas AHY ini pd sikap, analisa, pandangan dan nilai2nya yg jelas. Ditopang informasinya yg banyak dan benar. Serta anugerah kecerdasan pd dirinya. Inilah modal besar merumuskan Indonesia kedepan ditengah terus turunnya demokrasi kita, injustice, politik identitas dll;
4. Utk pengurus @PDemokrat diseluruh Indonesia: hari ini kita sungguh berbangga melihat Ketum kita bicara isu dan gagasan besar ttg bangsa ini, ttg Indonesia masa depan. Mari kita semua solid. Panggilan sejarah itu akan tiba kita sdh dipimpin Ketum yg tepat di negeri beragam ini!