Search
- Details
- Category: Ekonomi & Bisnis
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1158
TRIBUN-BALI.COM — Nyaris hampir sejauh mata memandang, yang tampak pada Jumat (7/12/2018) siang itu hanya hamparan ribuan kolam lele.
Masing-masing kolam berukuran 300–500 meter persegi.
Hamparan kolam atau tambak lele itu berada di Desa Krimun dan Desa Puntang, Kecamatan Lohsarang, Indramayu, Jawa Barat.
Paling ujung kelihatan garis pantai tipis-tipis, sedangkan di pinggiran tambak terlihat beberapa petak sawah.
Lebih dari separuh lahan di dua desa tersebut didominasi usaha tambak lele.
Bahkan Desa Krimun, sekitar 80 persen dari luas lahan 615 hektar, dimanfaatkan untuk budidaya lele.
Desa yang bersuhu 28-30 derajat celcius ini terdiri dari empat dusun dengan 4 rukun warga dan 14 rukun tetangga, berbatasan dengan Desa Cemara Kulon di utara, Desa Manggungan Kecamatan Terisi di selatan, Desa Puntang di timur, dan Desa Losarang di barat.
Kegagalan Udang Windu
Kedua desa ini awalnya beternak udang windu pada akhir 80-an.
Tetapi di awal 90-an, bencana terjadi.
Budi daya udang windu hancur karena air laut di pesisir pantai Losarang tercemar limbah.
Ribuan benur mati.
Para petambak rugi hingga ratusan juta rupiah.
Salah seorang petambak udang, Carmin Iswahyudi, tak luput dari bencana tersebut.
Di tengah kegalauan, ia mengamati beberapa peternak lele yang “bermain di pinggiran” tambak tambak udang windu selamat dari bencana.
Terpikir olehnya, mengapa tidak beralih beternak lele saja?
Carmin yang akrab disapa Maming lalu menebar ribuan bibit lele asal penangkaran di Cirebon, dan Parung Bogor.
Bibit ia tebar ke 20 kolam masing masing seluas 500 meter persegi.
Dua setengah bulan kemudian ia sudah memetik hasilnya.
Permintaan lele dari sekitar 3 ton per hari, naik menjadi 7 ton per hari.
Setelah Maming membentuk kelompok peternak lele tahun 2003, jumlah tambak lele kelompoknya mencapai 25 hektar.
“Nama lain selain Pak Maming, ada Haji Mardiah, Pak Drajat, dan Haji Ronny. Sekarang muncul generasi baru seperti Pak Mahfud, dan Pak Apri, dan saya,” kata Sarman (40), juragan lele generasi baru saat ditemui di tengah tambak miliknya, Jumat (7/12/2018) siang.
Di salah satu kolam lele, tampak dua pekerja sedang menyortir ratusan ekor lele.
Sebagian dipindahkan ke kolam lain.
Sekitar 100 meter dari tempat ia duduk tampak satu truk berukuran sedang memuat beberapa kuintal lele untuk dibawa ke Jakarta.
“Panen dilakukan siang menjelang sore seperti hari ini. Sampai Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, atau Bekasi, malam,” tutur Sarman yang akrab dipanggil Juragan Maman.
Puluhan ton lele
Ia bercerita, awalnya, di awal tahun 2000-an ia ikut mertuanya memelihara udang windu, lalu beralih memelihara lele, mengikuti jejak Maming.
Dari hasil bekerja membantu sang mertua, ia membeli satu kolam atau tambak lele.
Tahun demi tahun jumlah kolam yang ia miliki bertambah, terutama setelah tahun 2010.
Luas kolam masing-masing umumnya berukuran sekitar 500 meter persegi.
Ke-200 kolam Maman ini belum termasuk puluhan kolam peternak lele lain yang digadaikan kepadanya.
“Peternak di sini biasa menggadaikan kolamnya kepada peternak lain jika yang bersangkutan tiba-tiba membutuhkan uang dalam jumlah besar.
Saat kolam digadaikan, peternak lele yang menerima gadai memanfaatkan kolam yang digadai untuk memelihara lele,” papar Maman.
Dari 200 kolam milik Maman, 100 di antaranya ia urus sendiri, sedangkan 100 lainnya diserahkan kepada 10 pekerja tetap yang bertugas merawat lele sejak larva sampai panen.
“Sebanyak 10 pekerja lainnya saya bayar harian untuk membersihkan kolam termasuk mengganti air. Mereka bekerja untuk 200 kolam saya ditambah sekitar 100 kolam milik peternak lainnya yang digadaikan pada saya,” tutur Maman.
Pekerja harian ini tugasnya tidak seberat para pekerja tetap.
Sarman (40), salah satu juragan lele di Desa Krimun, Lohsari, Indramayu, Jawa Barat, sedang mengawasi para pekerjanya merawat dan memanen lele di sejumlah kolam miliknya.
Saat ini ia memiliki 200 kolam lele, dan 100 kolam lele lainnya yang digadaikan para peternak lele kepadanya.
Dari ratusan kolam tersebut, setiap hari ia memanen lele seberat tujuh ton.
“Ke-20 pekerja ini bekerja mulai pukul 08.00–16.30. Untuk pekerja harian, tidak setiap hari bekerja. Mereka bekerja sesuai kebutuhan,” ucap Maman. Saat ini, setiap hari Maman memanen lele lebih dari 7 ton.
Jika harga terendah sekilogram lele dari peternak Rp 15.000 seperti sekarang, maka pendapatan kotor Maman setiap hari 7.000 x Rp 15.000 = Rp 105 juta.
Sekurangnya ada tiga juragan lele sekelas Maman di Desa Krimun.
Sementara desa tetangganya, Puntang, memiliki sekurangnya dua juragan lele sekelas Maman.
Itu artinya, setiap hari di kedua desa tersebut panen lele sampai puluhan ton. “Tapi jangan bayangkan usaha budidaya lele ini selalu lancar ya.
Sampai sekarang saya masih sering tertipu para pengepul lele di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), terutama Jakarta.
Saat ini uang saya yang masih tercecer di antara mereka masih sekitar Rp 500 juta. Puluhan juta lainnya lenyap,” ungkapnya.
Maman lalu bercerita, saat satu truk lele dibawa ke pengepul, lele hanya dibayar separuh bahkan kadang sepertiga dari harga yang sudah disepakati.
Saat satu truk lele berikutnya dibawa lagi, pengepul bahkan nyaris membatalkan pembelian, kecuali boleh berutang.
“Saya tidak bisa membawa pulang kembali lele yang sudah tiba di lokasi. Sebab, itu berarti merusak jadwal tabur benih dan panen lele saya secara keseluruhan,” ucap Maman.
Belajar dari pengalaman pahit itu, Maman terus berusaha menambah jaringan pengepul.
Celakanya, kadang sebagian jaringan pengepul baru ternyata juga menipu para pemasok lele seperti dirinya.
“Setelah utangnya menumpuk, si pengepul menghilang dari pemasok lele yang lama dan menjalin usaha dengan pemasok lele yang baru. Begitu seterusnya,” ungkap Maman.
Membeli larva
Saat menebar benih, Maman tidak membeli lele berumur sebulan dengan panjang 46 sentimeter dengan harga per ekor Rp 150 seperti kebanyakan dilakukan peternak lele.
“Saya membeli lele yang masih larva seharga Rp 5 per ekor.
“Sekali menanam, saya menebar 100.000 larva. Dari jumlah tersebut saya hanya berharap, 20.000 larva bisa tumbuh dan siap panen kelak,” ujar Maman.
Jadi, lanjutnya, modal pertama menebar dan merawat larva sekitar Rp 1,4 juta.
Uang sebanyak Rp 900.000 untuk membeli tiga zak makanan selama sebulan, dan Rp 500.000 untuk membeli 100.000 larva.
Selanjutnya, setelah lele tumbuh stabil, Maman cukup membeli makanan lele untuk tiga bulan berikutnya.
Sebulan ia membutuhkan pakan lele empat sampai lima sak untuk lele dewasa.
Maman menjelaskan, hidup larva sangat lemah.
“Mudah mati jika muncul cuaca ekstrem mendadak. Contoh, saat cuaca panas, tiba tiba turun hujan,” ujarnya.
E-Fisery
Di antara ratusan kolam lele milik Maman tampak beberapa tong berwarna hijau tosca dipasangi kotak elektronik.
Tong dan perangkat pelepas pakan ini berisi 60 kilogram pakan lele. Setiap hari, 30.000 ekor lele di setiap kolam membutuhkan 10 kilogram makanan.
“Kotak ini terhubung dengan telepon genggam saya. Lewat aplikasi pada telepon genggam, saya bisa mengatur dari jarak jauh kapan pakan ditabur ke kolam,” paparnya.
Kini, ia telah memasang 40 kotak pengatur pemberi pakan lele di sejumlah kolamnya.
“Nama perangkatnya, E-Fishery atau pemberi pakan otomatis. Saya sudah setahun memakai perangkat ini,” ujar Maman.
Inilah tong dan pelepas pakan lele yang dilengkapi perangkat digital pengatur jadwal memberi makan lele.
Lewat aplikasi di telepon genggam yang terhubung dengan perangkat ini, para juragan lele bisa mengatur jadwal memberi makan lele tanpa harus setiap hari ke kolam.
Perangkat ini bernama E-Fishery atau pengatur pemberi makan ikan otomatis.
Dengan perangkat ini, ia lebih mudah bekerja dan bisa mengurangi jumlah pekerja tetap.
“Ya maklumlah. Namanya manusia. Tidak semua pekerja jujur dan rajin. Ada yang curang dan malas. Dengan adanya perangkat ini, saya lebih leluasa menyeleksi para pekerja tetap saya,” tutur Maman.
Menurut rencana, hari ini, Senin (10/12/2018), PT Suri Tani Pemuka bekerja sama dengan E-Fishery, Telkomsel, dan perusahaan pembuat pakan lele, Japfa, akan membuka kampung perikanan digital yang tak lain adalah kolam kolam lele yang dilengkapi pemberi pakan otomatis lewat sistem digital.
“Jika tidak meleset, Gubernur Jawa Barat Pak Ridwal Kamil yang akan meresmikan kampung perikanan digital ini,” kata Indira Ardiwidjaja dari PT Suri Tani Pemuka.
Ia berharap, kerja sama ini bakal meningkatkan produktivitas para peternak lele pemilik kolam.
“Kami mau lengkapi setiap kolam lele di sini dengan E-Fishery,” tutup Indira. (*)
- Details
- Category: Ekonomi & Bisnis
- By ZA Sitindaon
- Hits: 2011
Jakarta - Hellen Sanjaya tak pernah terpikir untuk menjadi pembuat dan penjual suvenir kain flanel berbentuk boneka gigi seperti saat ini.
Tahun 2013 lalu, ia membuat suvenir karena ingin memberi hadiah kepada pasien anak-anak agar ketika momen pemeriksaan gigi tak lagi menakutkan.
- Details
- Category: Ekonomi & Bisnis
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1385
Hotman pun menjelaskan kronologi kejadian tersebut. Saat berada di Milan, Italia, Sang istri kedapatan membawa uang sebanyak 20 ribu euro di dalam tas. Karena membawa uang dengan jumlah banyak tersebut, ia dan Sang istri pun sempat diperiksa lama.
"Istri saya kan lagi batuk-batuk, dia taruh duit di sembarang tempat. Kan di sana peraturannya, tidak boleh bawa duit keluar. Boleh bawa duit tapi harus dilaporkan," katanya dikutip dari tayangan Insert di Trans TV, Senin (3/12/2018).
"Waktu ditanya 'berapa duit lu?'gue bilang kurang dari 5.000 euro. Padahal di kaus kaki gue, di mana-mana ada 30 ribu, ada. Nggak ketahuan kalau gue," kata Hotman.
Berbeda dengan dirinya, kata Hotman, jumlah uang yang dibawa oleh Sang istri ketahuan pihak kepolisian. Sang istri kedapatan membawa hampir 20 ribu euro di dalam tasnya.
"Istri saya ketahuan. Berapa duit lu?' katanya. Langsung dikasih tasnya, ya ketahuan lah hampir 20.000 euro. langsung polisinya datang semua, langsung di BAP langsung, dikiranya teroris, 'dari mana lu bawa duit segini?' katanya," terang Hotman.
Karena kejadian itu, Hotman dan istri harus menjalani pemeriksaan selama beberapa jam dan ketinggalan pesawat. Hingga akhirnya, Hotman dibantu oleh Sang anak yang mempunyai kenalan pengacara Italia dan Swiss untuk membantunya.
Hotman dan istri pun akhirnya bisa keluar dari kesalahpahaman tersebut dan dikenakan denda 200 euro.
"Di polisinya berdebat lama, karena yang boleh masuk waktu di BAP hanya istri sama anak saya, ada dua orang. Cuma kebetulan, anak-anak saya kan sudah kuat hubungannya di sana, punya teman pengacara orang Italia. Jadi putri saya langsung hubungi temannya pengacara Italia, jadi pengacara Italia itu langsung bicara dengan polisi Italia," jelas Hotman.
"Kemudian anak saya juga punya teman dengan pengacara Swiss. Jadi mereka bicara. Akhirnya polisinya percaya kita bukan teroris. Cuma dikenakan sanksi 200 euro," tuturnya.
(fdl/ara)
- Details
- Category: Ekonomi & Bisnis
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1097
Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, blusukan ke pasar tradisional di Purwokerto, Jawa Tengah. Dalam kunjungannya, SBY menyampaikan pesan, jangan sampai ada perpecahan hanya gara-gara pemilu. SBY didampingi istrinya, Ani Yudhoyono saat berkunjung ke pasar manis purwokerto. Mereka menyapa warga dan sempat makan soto di pasar ini. Presiden ke-6 Indonesia itu sekaligus mengajak warga untuk tetap menjaga kedamaian jelang pemilu 2019. SBY menegaskan, pemilu jangan sampai membuat bangsa terpecah. Ia juga meminta doa restu warga, untuk bisa membantu memperbaiki perekonomian.
- Details
- Category: Ekonomi & Bisnis
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1036

Apakah ini artinya jurus baru yang dimiliki Bank Indonesia (BI) sudah mulai ampuh?
Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan langkah BI yang mengaplikasikan domestik non deliverable forward (DNDF) sudah tepat.
"Hal ini karena pasar NDF di luar negeri yang memperdagangkan kontrak rupiah sarat dengan spekulasi," kata Bhima saat dihubungi, Sabtu (3/11/2018).
Dia menjelaskan dengan benchmark rate yang lebih transparan dan memang diperuntukkan untuk hedging, DNDF bisa memberikan stabilitas kurs rupiah untuk jangka panjang.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah menjelaskan selama dua dasawarsa terakhir pasar NDF (Non Delivery Forward) rupiah hanya berlangsung di pasar keuangan luar negeri, yang seringkali berpengaruh fluktuasinya pada pasar tunai (spot) di dalam negeri.
"Sekarang telah lahir pasar NDF di dalam negeri atau Domestik Non-Delivery Forward (DNDF), yang dalam dua hari terakhir mulai aktif ditransaksikan oleh 10 bank. Bila pada hari perdana volume transaksi DNDF mencapai US$ 60 juta, maka pada hari kedua mencapai US$ 90 juta," kata Nanang di gedung BI.
Dia menyebut BI optimistis pasar DNDF ini akan terus berkembang karena akan menambah instrumen lindung nilai terhadap risiko fluktuasi kurs dengan biaya yang efisien tanpa penyerahan dalam mata uang dolar AS, tapi berupa selisih antara kurs DNDF dengan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate yang dibayarkan dalam rupiah.
- Details
- Category: Ekonomi & Bisnis
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1031
Capres dan Caleg DPR RI Pilihan Rakyat 2019.
Era Orde Baru, era Reformasi, dan era Revolusi Mental ternyata belum mampu membuat Indonesia bersih dari korupsi. Hal ini terjadi karena UU yang ada masih berpihak kepada para koruptor. Katanya semua masyarakat sama di mata hukum, tapi prakteknya jauh berbeda. Para napi korupsi di tempatkan di penjara khusus yang sangat istimewa dengan berbagai fasilitas, berbeda dengan napi pencuri ayam, sandal dan kriminal lainnya ditempatkan di penjara kumuh dan sempit bagai hewan peliharaan. Jika memang masyarakat sama di mata hukum, maka tempatkanlah napi koruptor itu bergabung dengan napi kriminal lainnya.
Pilpres dan Pileg 2019 sudah memasuki tahap kampanye, kita akan disuguhi dengan janji-janji manis oleh para calon, janji ekonomi semakin baik, janji pembangunan semakin cepat, janji hukum akan di tegakkan, dan banyak janji-janji lainnya yang akan disuguhkan kepada calon pemilih.
Masa depan bangsa Indonesia di tentukan oleh rakyat, masa depan bangsa ini ada di tangan kita sebagai rakyat, jangan gadaikan masa depan bangsa ini hanya karena janji muluk-muluk, atau hanya karena politik uang.
Salah satu faktor yang membuat Indonesia ini tidak maju, masyarakatnya mudah dihasut atau di adu domba adalah faktor ekonomi. Ekonomi kita hanya berpihak kepada para pengusaha dan penguasa yang korup.
Korupsi tidak akan pernah habis dari negeri ini jika para koruptor masih di perlakukan dengan UU yang ada selama ini. Sehebat apapun pembangunan maka akan semakin hebat pula para koruptor akan beraksi jika para koruptor diperlakukan sebagai napi istimewa.
Para jurubicara tim pemenangan kedua capres hanya adu sindir, belum ada adu ide atau adu gagasan utamanya pemberantasan korupsi.
Memberikan hadiah 200jt bagi pelapor tindak korupsi tidak akan mengurangi niat orang untuk melalukan korupsi.
Menaikkan gaji para pejabat atau aparatur negara juga tidak menjamin pejabat tsb. tidak korupsi, bahkan semakin tinggi gajinya maka akan semakin tinggi nominal korupsi atau suapnya.
Untuk itu mari kita bersatu bersama Gerakan Rakyat Indonesia Bersih Korupsi 2019, melalui Pemilu serentak 2019 mendatang, kita pilih Presiden/Wakil Presiden dan anggota llegislatif DPR RI yang berkomitmen terhadap Indonesia Bersih Korupsi 2019 yang bersedia membuat Fakta Integritas membuat UU Hukuman Mati para terpidana korupsi serta menyita semua harta benda keluarga istri/suami dan anak-anaknya. Hukuman penjara dan pemiskinan tidak akan efektif mengurangi perilaku korupsi.
UU Hukuman Mati dan sita seluruh harta benda keluarganya harus sudah selesai dalam masa 6 bulan sejak di lantik dan segera di atur UU pelaksanaannya serta merta. Tanpa itu Indonesia tidak akan pernah maju, tidak akan pernah makmur, tidak akan pernah sejahtera.
Calon Presiden/Wakil Presiden dan calon anggota legislatif DPR RI 2019, yang berkomitmen membuat UU Hukuman Mati para terpidana korupsi dan menyita semua harta benda keluarga istri/suami serta anak-anaknya, itulah pilihan Rakyat Indonesia Bersih Korupsi 2019. Yakin INDONESIA JAYA.
Penulis : Zul Abrum Sitindaon.

