Search
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1635

@JURNAL COVID-19
Ini ringkasan dari postingan hasil Tim Liu Liang (prof. forensik di Tongji Medical College).
Profesor Liu Liang membedah dengan hati-hati tubuh pasien corona yang baru meninggal. Tanpa itu kita tidak akan pernah tahu kebenaran yang mengejutkan. "Laporan Pengamatan Umum Anatomi Korban Meninggal karena Pneumoonia virus Corona " yang diterbitkan dalam Journal of Forensic Medicine, bahwa ada cairan kental abu-abu di paru-paru almarhum, lendir putih berbusa di rongga trakea, dan rongga bronkial paru-paru. Lendir yang seperti jeli itu melekat kuat. Cairan kental inilah yang menghalangi alveoli, memblokir saluran udara, memblokir paru-paru interstitial, memblokir tabung bronkial, secara bertahap membiarkan paru-paru kehilangan fungsi ventilasi , membuat pasien dalam keadaan hipoksia, dan akhirnya mati karena gagal napas. Cairan kental ini merenggut nyawa pasien Corona dan membuat mereka menderita pada saat-saat terakhir kehidupan mereka.
Ketakutan mereka mencapai ekstrem. Mereka berjuang seperti tenggelam dlm sumur, berteriak "tolong". Mereka dipenuhi dengan keputus-asaan dan rasa sakit, Mereka terengah-engah, bahkan jika mereka memakai masker oksigen dan ventilator, mereka tidak dapat menghirup oksigen. Mengapa mereka tidak bisa menghirup oksigen dengan dukungan ventilator? Karena cairan kental itu menghalangi jalur oksigen. Jalannya tidak bisa dilewati. Sejumlah besar oksigen dihirup, tetapi penyumbatannya tambah meningkat. Oksigen tidak dapat disalurkan ke dalam darah, dan akhirnya mereka tercekik oleh cairan kental ini. Oleh karena itu, Profesor Liu Liang menunjukkan bahwa penggunaan alat ventilator oksigen secara buta tidak hanya gagal untuk mencapai tujuan tetapi bahkan mungkin menjadi kontra-produktif. Tekanan oksigen akan mendorong lendir lebih dalam ke ujung paru-paru, sehingga semakin memperparah keadaan hipoksia pasien.
Dengan kata lain, pengobatan Barat hanya melihat hipoksia pasien, tetapi tidak melihat penyebab di balik hipoksia pasien. Cairan kental ini disebut dahak, harus ditangani sebelum memberikan oksigen, jika tidak, berapapun banyaknya oksigen disalurkan juga akan sia-sia.
Kita hanya perlu membuka saluran udara ini, menghilangkan dahak, menghilangkan kelembaban, membiarkan alveoli mengering, dan membiarkan bronkus halus lancar dan tidak terhalang, dengan demikian tidak diperlukan ventilator oksigen sama sekali, pasien akan pulihkan fungsi paru-paru sendiri, dan ia akan menghirup oksigen dari udara.
Tulisan ini kemudian ditanggapi secara cerdas oleh bro Aji Soko Santoso sebagai berikut:
"Menarik sekali! Saya sudah membaca berita mengenai penelitian Prof.Liu Liang seperti komen Anda. Nampaknya temuan ini diperkuat oleh Dr.Luciano Gattinoni dari Universitas Kedokteran di Gottingen, Jerman dalam laporannya mengenai penanganan pasien corona yang menderita gagal nafas di Italia Utara dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine bulan Maret lalu."
"Dr.Gattinoti menganjurkan untuk meninjau pendekatan yang berbeda untuk pasien corona yang kritis.Kemudian Dr.Nathalie Stevenson dan Prof.Gary Mills dari NHF Foundation, Inggris memberikan pandangan bahwa corona merupakan penyakit baru dan membutuhkan penanganan yang berbeda dari gagal nafas biasa. Hal ini dicatat dalam interview oleh Medscape UK."
Ada seorang sahabat, bung Toni Gede yang menanyakan bagaimana mengeluarkan dahak tersebut .
Kembali sahabat bro Aji Soko Santoso menjawab sebagai berikut:
"Untuk mencairkan dahak atau mucus dari paru-paru, pasien harus diberi minum obat mukolitik atau pencair dahak seperti ambroxol, mucohexin, erdosteine atau n-acetyl cysteine (yang terkuat). Bila tidak bisa minum, harus dialirkan lewat selang. Tanpa bantuan mukolitik, dahak kental yang memenuhi bronkus tidak akan bisa keluar. Dengan bantuan obat di atas, dahak akan menjadi encer dan dapat dikeluarkan lewat batuk atau suction pump low pressure."
Lalu bagaimana kalaupun sudah diberikan mukolitik dan sudah dilakukan suction tetapi dahak tetap tidak mau keluar ?
Menurut penulis, dalam kasus seperti ini Bronchoscopy bisa menjadi pilihan .
Baru baru ini juga dikabarkan bahwa penggunaan Ventilator pada pasien covid 19 ternyata banyak menimbulkan efek negatif tidak seperti yang diharapkan .
Semoga ini semua bisa menjadi masukan dan pertimbangan bagi para staf medis yang saat ini sedang berjuang keras untuk menyembuhkan pasien yang terlanda wabah covid 19, juga sebagai tambahan pengetahuan bagi kita semua .
Dari hati yang paling dalam penulis sampaikan hormat dan salut atas perjuangan anda semua dan semoga Tuhan yang maha esa melindungi dan menyertai segala perjuangan anda .
Lihat juga ?
(https://m.detik.com/20detik/detikflash/20200302-200302074/temuan-dokter-bedah-yang-mengautopsi-jenazah-pasien-virus-corona)
#Copas dari salah satu akun fb
Copas: https://www.facebook.com/803774136380640/posts/3141291569295540/
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 924

Dikit-dikit minum, haus apa doyan?
SitindaonNews.Com | Sudah banyak yang bilang, minum air putih sebanyak-banyaknya, maka kamu akan senantiasa sehat sentosa. Mencegah infeksi saluran kemih, mencerahkan kulit, melancarkan pencernaan, dan lain-lain. Katanya minimal minumlah 8 gelas perhari, lebih malah lebih baik. Hmm, tapi benarkah demikian?
Melansir dari Yourtango.com, hal ini tidaklah benar. Pernyataan ini bukanlah perkataan yanng asal ceplas-ceplos aja, tapi berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan di British Medical Journal, yang dilakukan oleh dokter Margaret McCartney, seorang dokter umum di Glasgow, Scotlandia.
Ternyata, minum terlalu banyak air untuk tubuh bisa memberikan efek yang buruk, sebut saja hiponatremia, kondisi natrium darah rendah yang umm terjadi pada pelari maraton.
McCartney memberikan penjelasan yang simpel tapi sangat masuk akal dan mudah dipahami. " Jika kamu minum berlebihan, dan rasa nggak nyaman (karena berlebihan), ginjalmu juga dipaksa untuk bekerja sangat, sangat keras," katanya.
Begini. Air yang kamu minum itu keluar dengan berbagai macam cara. Entah dari keringat, kencing, atau bahkan sampai membuang napas. Emang minum air itu penting untuk menjaga cairan yang keluar dari tubuh kita. Tapi kalau berlebihan itu kamu bisa terkena keracunan air atai water intoxication. Jika dalam waktu singkat kamu sudah berlebihan minum air, ginjal bisa kewalahan untuk membuangnya cukup cepat.
Kalau udah 'keracunan air', lalu apa yang akan terjadi pada tubuhmu? Kamu bisa-bisa sakit kepala, kelelehan, mual, muntah, sering kencing, bahkan diorientasi mental. Bahkna seseorang yang ikut kontes minum air atau atlet yang keliru menghidrasi diri mereka saat latihan bisa meninggal.
Untuk itu, minumlah secukupnya, jangan berlebihan. Pepatah bijak pernah mengatakan bahwa sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, bahkan minum air pun. Cukup minum air sampai kamu nggak merasa haus saja, pokoknya ketika kencing nggak berwarna kuning berarti konsumsi airmu itu sudah cukup.
Sumber:
m.diadona.id/health/kata-siapa-minum-banyak-air-itu-sehat-bahayanya-justru-bikin-geleng-geleng-kepala-200404a.html
Sumber: .ucnews
*Ijonk Aries*
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 710
Satu unit mobil ambulans merapat ke Gedung Isolasi RSPI Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara, pada Rabu, 4 Maret 2020. Tempo/Kiki Astari
SitindaonNews.Com | Jumlah pasien penyakit akibat virus corona atau Covid-19 di Indonesia setiap harinya terus bertambah. Salah satu mantan pasien, Simon Nainggolan, berbagi cerita bagaimana upayanya hingga akhirnya ia divonis negatif terinfeksi virus Corona.
Simon mulanya mengalami demam pada 20 Maret 2020. Setelah kondisinya tak kunjung membaik selama tiga hari, ia memutuskan memeriksakan diri ke dokter di RSU Bunda bersama istrinya dan dites swab. Keesokan harinya dokter memberi tahu ada bercak-bercak di paru-paru kanan dan ia dinyatakan suspect Covid-19.
"Saya diminta mengisolasi diri. Saya kemudian memilih untuk self-isolated di rumah karena kebetulan ada kamar kosong di lantai dua," cerita Simon, Selasa, 7 April 2020.
Selama mengisolasi diri, Simon tidak bertemu dengan siapapun. Makanan diantar dan diletakkan di depan pintu kamar. Ia menggunakan alat-alat makan khusus dan mencucinya sendiri. "Obat-obatan saya minum sesuai resep-resep dari dokter paru-paru. Saya mulai rajin minum vitamin C, D, dan E. Rajin minum jus buah-buahan dan tentunya obat Paracetamol karena demam saya terus menerus tidak turun. Untungnya saya tidak sesak nafas," ucap dia.
Beberapa hari kemudian hasil tes swab datang. Dia dan istri dinyatakan positif Covid-19.
Demi bisa segera sembuh, Simon mengatakan setiap hari ia bangun pukul 04.00 lalu makan sepotong roti dan minum vitamin. Pukul 08.00, ia sarapan dan kembali minum vitamin. Dalam sehari ia bisa meminum vitamin C hingga 2 ribu miligram. Ia juga memperbanyak minum air putih hingga lebih dari tiga liter.
Menurut Simon, selama sakit yang ia rasakan adalah tenggorokan kering, badan terasa lelah, linu di setiap sendi. Ia melawan itu semua dengan meminum vitamin. "Saya juga dikasih minum air rebusan daun sirih merah sambil tentunya tak lupa selalu berdoa kepada Tuhan agar diberi kesembuhan dan kekuatan," tuturnya.
Selain itu, ia memutuskan berhenti menyaksikan televisi, mendengar berita-berita yang menakutkan dan menyedihkan tentang pandemi Corona. Ia rutin berjemur di bawah sinar matahari pukul 9 sampai 10 pagi.
Akhirnya, kata dia, pada 1 April 2020 demamnya hilang dan kondisinya membaik. Senin kemarin ia dan istri kembali tes swab di RSPAD. "Hari ini, Selasa 7 April 2020, berita suka cita itu datang. Hasil tes swab saya dan istri dinyatakan sudah negatif," katanya.
Simon berpesan untuk sesama pasien Covid-19 agar terus percaya jika kesembuhan hanya menunggu waktu. "Lawan dengan hati yang penuh syukur, vitamin-vitamin itu terus diminum," ucap dia
Sumber: tempo.co
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 986
SitindaonNews.Com | Ginjal ialah salah satu organ tubuh yang paling penting dan inilah 4 kebiasaan yang bisa merusak kesehatan ginjal kita Teens.
Ginjal memiliki banyak fungsi penting untuk tubuh. Beberapa fungsi penting ginjal antara lain untuk menyaring dan membuang limbah, mengendalikan keseimbangan air dalam tubuh, mengatur tingkat garam dalam darah dan masih banyak lainnya.
Banyaknya fungsi ginjal seperti di atas seharusnya membuat kita lebih semangat untuk menjaga kesehatan organ yang satu ini kan. Selain itu, kalian juga harus menghentikan 4 kebiasaan yang bisa merusak ginjal seperti di bawah ini.
Terlalu berlebihan mengonsumsi makanan olahan
Makanan olahan memang nggak terlalu sehat untuk tubuh kita. Saat kita terbiasa mengonsumsi makanan olahan rupanya bisa menyebabkan kerusakan pada ginjal kita lho Teens. Makanan olahan banyak memiliki kandungan fosfor dan natrium yang jika dikonsumsi berlebihan bisa merusak ginjal.
Kurang minum air putih
Air putih sangatlah penting bagi tubuh kita. Saat kekurangan asupan air maka tubuh bisa dehidrasi dan membuat pikiran tidak bisa konsen hingga lemas. Selain itu dengan banyak minum air putih rupanya juga bisa baik bagi ginjal karena bisa membuang racun dari tubuh. Dehidrasi memang berbahaya bagi tubuh karena juga bisa menimbulkan batu ginjal dan merusak ginjal.
Mengonsumsi garam terlalu banyak
Makanan yang mengandung banyak garam memang bisa meningkatkan tekanan darah kita. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang tinggi garam ini juga bisa membahayakan ginjal kita karena ginjal harus bekerja keras untuk mengeluarkan garam yang berlebih.
Sering menahan buang air kecil
Kebiasaan yang satu ini juga harus kalian hentikan ya Teens. Menahan buang air kecil sangat nggak baik bagi kesehatan kita. Saat buang air kecil kita mengeluarkan racun dari tubuh. Jadi saat kita sering menahan buang air kecil maka bisa berbahaya bagi ginjal dan menyebabkan batu ginjal lho.
Selain 4 hal di atas, waktu tidur yang tidak teratur dan terlalu banyak konsumsi gula juga bisa menyebabkan munculnya penyakit ginjal Teens. Jadi jika kalian ingin selalu sehat, mulai saat ini hindari 4 kebiasaan yang bisa merusak ginjal seperti di atas ya.
Sumber: .teras.id
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 885
SitindaonNews.Com | Minum vitamin boleh-boleh aja tapi jangan berlebihan, kebutuhan vitamin C kita sehari itu "cuma" 60mg, meningkat sedikit saat infeksi terjadi di tubuh kita, tapi paling banyak ya 250mg. Jadi kalau kita makan atau minum vitamin C 1000mg sehari itu ya sia-sia.
Efek yang terjadi terhadap tubuh kita apabila dalam sehari mengonsumsi vitamin C melebihi kebutuhan tubuh kita adalah ginjalnya kebanyakan kerja mengeluarkan vitamin C yang kebanyakan itu, juga jadinya air seni kita harganya "mahal" karena vitamin C yang berlebihan itu terbuang bersama air seni.
Yang lebih parah lagi, kelebihan vitamin C ( asam ascorbat) didalam tubuh ( kebutuhan 75-90 mg) selain akan dibuang melalui ginjal lewat urin, dampaknya juga akan menurunkan pH urin ( asam), ini menjadi resiko terbentuknya batu saluran kencing.
Dalam kondisi wabah seperti ini sebagai upaya meningkatkan imunitas tubuh boleh aja mengkonsumsi vitamin setiap hari, ambil sediaan yang paling kecil dan jangan lupa cukup minum.
Asam urat juga bisa jadi batu ginjal, jika kadar asam urat darah >7 mg/dl dan pH urin dibawah atau sama dengan 5,5 maka akan terjadi kristalisasi asam urat di urin sebagai permulaan pembentukan batu saluran kencing.
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 657
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sudah memperingatkan mengenai bahaya penyemprotan cairan disinfektan ke manusia.
Terkait hal tersebut, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta masyarakat untuk berhenti melakukan penyemprotan disinfektan ke orang.
Ia menjelaskan apabila cairan tersebut masuk ke hidung lalu masuk ke paru-paru maka akan menimbulkan penyakit di masa depan.
"Saya melihat di desa-desa, banyak sekali penyemprotan. Saya minta, hentikan penyemprotan pada orang, apalagi penyemprotan dilakukan tanpa ada pelindung diri. Itu bisa membahayakan," kata Ganjar.
Ganjar meminta cairan disinfektan hanya disemprotkan ke benda mati saja.
Itupun tidak boleh dilakukan sembarangan.
Bahan-bahan yang digunakan untuk menyemprot harus sesuai dengan standart yang ada.
"Komposisinya harus dikonsultasikan dengan ahli, jangan sampai asal-asalan dan jangan sampai terhirup," tambahnya.
Apabila dilakukan penyemprotan ruangan, maka ruangan tersebut harus didiamkan selama kurang lebih empat jam.
Selama itu, ruangan tidak boleh dimasuki.
"Tunggu sampai empat jam, baru bisa masuk kembali. Itu cukup untuk menetralisir dan menghindari sesuatu yang tidak diinginkan," terangnya.
Sumber: tribunnews.com
*Ijonk Aries*