Top Stories
-
Trading Mulai Ramai, Jangan Salah Pilih Saham Lagi!
-
Pilih KUMON Atau SAKAMOTO?
-
Suami Istri Cari Uang
-
Stop Memberi Label Pakar Kepada Seseorang Tanpa Rekam Jejak Riset dan Sertifikasi Profesi Atau Karya Ilmiah Yang Relevan Dibidangnya
-
Pemula Dengan Modal Kecil Ingin Investasi Saham?
-
Siap-siap Ekonomi Semakin Parah, 5 Tahun Kedepan Secara Keseluruhan Akan Berat!
Search
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 532

Menjegal Ganjar dengan Cara Memalukan
Belum lama ini, Ganjar dipermalukan. Bantuan yang dia berikan dikembalikan. Sebenarnya bukan kemauan orang itu mengembalikan bantuan tersebut. Tapi ada tekanan dari orang atas. Manusia jahat yang tega hati menghalangi rezeki orang kecil.
Orang yang diberi bantuan itu bernama Fajar Nugroho. Ia adalah kader PDIP yang tinggal di rumah reot. Narasi yang keluar dari mulut Fajar tidak alamiah. Ada kesan settingan. Katanya, ia tidak ingin kemiskinannya dijadikan pencitraan.
Hal ini berbeda dengan sikapnya ketika Ganjar datang ke rumahnya. Wajahnya terlihat cerah. Dan ia dengan penuh bangga menerima kebaikan Ganjar.
Ketika masuk rumah reot milik Fajar itu terlihat sorot keprihatinan yang mendalam di mata Ganjar. Fajar adalah seorang kader PDIP yang hidup sangat sederhana. Ganjar mungkin pernah mengalami terusir dari rumah kontrakannya sewaktu kecil. Namun kondisi rumah Fajar jelas lebih memprihatinkan.
Ganjar duduk di kursi plastik kusam. Ia melihat langit-langit rumah yang berlubang dan penuh sarang laba-laba. Di situlah terlihat raut wajah Ganjar yang sedih. Meski ia berusaha menutupinya dengan mengajak bercanda yang punya rumah.
Ganjar berusaha membesarkan hati Fajar dan adiknya. Yaitu dengan membicarakan seragam loreng satgas PDIP. Ia ingin menunjukkan, bahwa Fajar dan adiknya memiliki kebanggaan. Menjadi bagian dari partai terbesar di tanah air.
Ini adalah watak pemimpin. Ia melihat potensi orang yang ada di bawahnya. Membuatnya bangga. Ia juga melihat kekurangan orang itu. Dan berusaha mencarikan jalan keluar saat itu juga.
Seperti kunjungannya yang lain, Ganjar sering memberikan hadiah pada orang yang ia kunjungi. Ada sembako, mainan, bahkan handphone. Begitu juga dengaan Fajar dan keluarganya. Ganjar datang bukan dengan tangan hampa.
Saat menerima hadiah itu wajah gembira Fajar dan keluarganya terlihat jelas. Sorot mata Suliyah, istri Fajar, dipenuhi kegembiraan yang tak terlukiskan. Ketika mempersilahkan Ganjar masuk, badannya sedikit membungkuk dengan gestur bahagia.
Begitu juga dengan Fajar dan anak-anak yang memandang Ganjar dengan takjub. Ini bukan mimpi. Tapi kenyataan yang sulit terjadi tanpa keajaiban. Barangkali begitu makna tatapan mata itu.
Apalagi ketika hendak pergi, Ganjar seperti teringat sesuatu. Ia berhenti sejenak dan berkata, "Saya itu punya peralatan bengkel dan cuci motor. Njenengan mau nggak usaha bengkel dan cuci motor?"
Sontak saja Fajar dan keluarganya terkejut. Mereka tidak menyangka Ganjar akan memikirkan kehidupan mereka lebih jauh. Padahal kesanggupan Ganjar untuk merenovasi rumah Fajar dengan uang pribadinya itu sebenarnya sudah lebih dari cukup.
Tapi lebih dari itu, Ganjar juga memberikan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Untuk itulah Fajar dan keluarganya mengucapkan terima kasih. Berkali-kali mengucapkan terima kasih. Saat itulah mereka menjadi orang paling bahagia di kampungnya.
Namun ke bahagiaan itu bertanggsung cepat. Agaknya ada elite partai tidak berkenan jika Fajar menerima bantuan Ganjar itu. Sebagai bawahan, Fajar akhirnya menurut. Ia mengembalikan bantuan itu ke kelurahan.
Saya membayangkan kesedihan yang dialami Fajar. Terutama anak perempuannya yang sedang bahagia menerima handphone dari Ganjar. Ia bisa menggunakan handphone itu untuk sekolah.
Bagi anak itu, handphone pemberian Ganjar bahkan lebih dari sekadar alat komunikasi. Itu adalah kebanggaan seumur hidup baginya. Tapi kini semua itu direnggut dari tangannya.
Dengan segenap keterbatasanya, Fajar terpaksa melaksanakan perintah, untuk membuat kecewa tokoh yang sebenarnya diidolakannya. Tapi Fajar hanya orang kecil yang jadi tumbal kepentingan elite partai. Mereka yang tidak senang dengan sosok Ganjar dan terus berusaha menjegalnya.
Menurut Sutikno, Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan (PDIP) Temanggung, pengembalian bantuan itu terjadi karena ada pengurus partai yang tersinggung. Kemudian memerintahkan Fajar mengembalikan bantuan itu kepada Ganjar Pranowo.
Ini memang kejadian yang memalukan. Para pendengki itu menghalalkan segala cara untuk menghalangi Ganjar. Termasuk dengan merekayasa dan memanfaatkan orang kecil.
Oleh sebab itulah Ketua DPC PDI Perjuangan Solo FX Hadi Rudyatmo ngamuk, "Dia (Ganjar) membantu sebagai Gubernur membantu rakyatnya, jadi kalau sampai ada yang menghalang-halangi seperti itu, DPD menekan DPC, DPC menekan pada yang dibantu, Tuhan itu tidak tidur.”
Jika benar yang disebut Rudy, maka apa yang dilakukan oleh elite PDIP terhadap Ganjar itu memalukan. Saya menduga mungkin mereka loyalis Puan. Apalagi kalau membaca komentar Bambang Pacul yang terkesan membenarkan tindakan Fajar itu.
Dengan gayanya yang wagu Bambang Pacul berkelit. Tapi mudah terbaca karena dangkal.
Saya tidak mengerti kenapa mereka membenci Ganjar begitu dalam. Padahal Ganjar adalah kader asli PDIP. Bukan kutu loncat. Ganjar itu, pejah-gesang nderek Bu Mega. Dia juga selalu mengalah dan sabar ketika dizalimi orang-orang separtainya.
Namun orang-orang ini seperti tidak ada puasnya menyakiti Ganjar. Mereka selalu mencari celah untuk mempermalukannya. Meskipun dengan cara yang norak dan kampungan. Mereka ingin mencoreng nama Ganjar, termasuk dengan mengorbankan orang kecil seperti Fajar.
Tapi benar kata FX Rudyatmo, Tuhan itu tidak tidur. Kesabaran dan sikap mengalah akan berbuah kebaikan. Tetap sabar dan teruslah berbuat baik Pak Ganjar. Semesta mendukungmu.
Becik ketitik, olo raine Bam... Eh, maksud saya, olo ketoro. Kebaikan akan kelihatan, kejahatan akan ketahuan.
Kajitow Elkayeni
Sumber: https://www.facebook.com/803774136380640/posts/5030587487032596/
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 527
Jokowi dijebak BUMN.
*Oleh: Wawan Suwandi*
Pada musim semi tahun 2017, Jokowi terbang ke Beijing dalam rangka KTT Belt and Road Forum di China National Convention Center. Yang hadir dalam KTT itu ada 29 kepala negara/kepala pemerintahan. Setelah acara itu, diadakan pertemuan billateral antara Jokowi dan Xijinping. Pada pertemua itu, Jokowi juga minta harus ada action plan. Jadi engga hanya sekedar retorika politik. Xi setuju dan bersedia memberikan hibah sebesar Rp. 150 Miliar untuk biaya studi kelayakan beberapa proyek infrastruktur terkait dengan program Belt and Road initiative (BRI). Dalam pertemua itu, Jokowi tegas mengatakan hal prinsip yang terkait dengan kepentingan nasional.
Engga banyak yang diminta Jokowi. Apa saja itu.? Pertama, investor China harus menggunakan tenaga kerja asal Indonesia. Kedua, perusahaan yang berinvestasi harus memproduksi barang yang bernilai tambah (added value). Ketiga, perusahaan asal China wajib melakukan transfer teknologi kepada para pekerja lokal. Keempat, Pemerintah Indonesia memprioritaskan konsep investasi melalui business to business (B2B) bukan government to government (G to G). Artinya tidak ada jaminan negara lewat APBN. Kelima, jenis usaha yang dibangun harus ramah lingkungan.
Sikap China sendiri dalam proyek BRI juga sama dengan Jokowi yaitu B2B. Artinya secara politik pemerintah China tidak terlibat langsung dalam skema pembiayaan. Itu diserahkan kepada korporat , yaitu BUMN CHina sendiri. Jadi MOU antara China dan Indonesia yang ditandatangani dengan paket pendanaan puluhan miliar dollar memang satu napas.
Namun apa yang terjadi ? Di penghujung kekuasaan Jokowi pada periode pertama, Bank Indonesia melalui Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) April 2019, menunjukkan status terakhir posisi utang luar negeri pada Februari 2019 dari Pemerintah China sebesar 17,7 Miliar USD atau setara dengan 248,4 Triliun dengan kurs 14.000. Lebih spesifik di kelola Pemerintah sebesar Rp. 22,8 Triliun dan BUMN sebesar 225,6 Triliun. Itu setara dengan 42% total anggaran BRI untuk Indonesia.
Kemudian, Indonesia juga diketahui telah menerima pinjaman senilai US$ 4,42 miliar atau setara Rp 63 triliun pada periode yang sama melalui skema Official Development Assistance (ODA), serta pinjaman melalui skema Other Official Flows (OOF) sebesar US$ 29,96 miliar atau setara Rp 427 triliun. Indonesia termasuk 10 negara penerima pinjaman terbesar dari Tiongkok melalui dua skema tersebut. Kan konyol.
Jadi yang dapat saya simpulkan bahwa proyek BRI dalam skema B2B engga jalan sepenuhnya. Artinya, skema soft loan yang disamarkan lewat BUMN namun negara ikut menjamin. Memang skema itu lebih mudah. Karena tidak dikontrol oleh mitra dari China. Mudah dibancaki. Tetapi yang menanggung resiko Mark up adalah negara dan itu berdampak kepada tekanan neraca pembayaran berupa cicilan dan bunga. Apa artinya? Mental korup.
Rakyat dengan tulus mendukung Jokowi. Kadang kasihan dengan Jokowi yang kerja keras siang malam. Tidak ada untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Tetapi jajarannya tidak semua amanah. Semoga belum terlambat. Masih ada 3 tahun lagi untuk berbenah. Kalau pejabat tidak mampu negosiasi dan tidak bisa profesional memenuhi stadar kepatuhan proyek B2B, sebaiknya mundur sajalah.
Sumber: https://www.facebook.com/100014725653904/posts/1244175319416645/
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 645

AKU MAU JADI KORUPTOR SAJA
Aku mau jadi koruptor karena koruptor itu hidupnya enak dan juga di hormati masyarakat dan para penegak hukum.
Terrbukti kalau ditangkap tidak ada yg diborgol tangannya, juga tidak ada yang ditembak kakinya, kalau dihukum tidak akan dihukum mati, pasti hukumannya ringan dan tidak akan dimiskinkan.
Di penjara kamarnya seperti hotel dan bisa sering² keluar dengan alasan berobat dan lain².
Anak² koruptor juga bangga menikmati hasil koruptor orang tuanya..
Kalau sudah bebas hidup koruptor masih tetap mewah karena hartanya tidak disita dan masih diberi lagi kehormatan jadi #Komisaris BUMN seperti Emir Moeis kader PDIP ini, enak kan...
Emir Moeis mantan napi koruptor diangkat sebagai komisaris BUMN sejak Februari 2021.
Emir Moeis adalah kader partai penguasa atau PDIP yg pernah di vonis 3 tahun penjara atas kasus listrik di Lampung.
Kasus Emir Moeis, selain menteri BUMN yang tutup mata, partainya juga membiarkan bahkan merekomendasikan seolah tidak ada tanggung jawab moral atas prilaku buruk yang pernah dilakukannya kadernya.
Zul Abrum Sitindaon
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 658

Rakyat Yang Kelaparan Kemana Harus Mengadu?
SitindaonNews.Com | Barusan teman saya di Jakarta WA dan telp. dgn suara berat serak ter-putus², katanya beras sudah habis, token listrik sudah tit tit tit, kuota internet tipis, dompet dan tabungan kosong. Yang ada barang pakaian dagangan tapi gak bisa keluar rumah jualan karena jalanan ditutup..
Makanan tidak ada, uang tidak ada, keluar rumah tidak bisa, dagang tidak bisa bantuan atau bansos tidak ada, bisa² 1 minggu lagi mati kelaparan.
Kawan tersebut minta tolong pinjamin uang, sayangnya gak bisa bantu karena keuangan juga tipis, usaha sudah lama tutup.
Sementara itu presiden bilang jangan biarkan rakyat kelaparan, bansos triliunan entah kemana, belum lagi bantuan lainnya, yang diatas semakin kenyang dan buncit perutnya sementara yang dibawah semakin kempes badannya tinggal hitung hari berangkat selamanya.
#RakyatLaparKemanaHarusMengadu?
*ZA Sitindaon*
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 696

Bapak presiden @jokowi yg saya hormati,
Tes seorang pemimpin adalah pada masa krisis. Kita sdg menghadapi multi krisis dan belum tampak tanda mereda.
Pandemi makin mengganas, ekonomi merosot, penegakan hukum gagal, fiskal terancam bangkrut, rakyat kecil menderita.
Sementara itu..….bapak dikelilingi oleh staf yg tdk kompeten, oligarki yg rakus, politisi korup dan sdh mulai kampanye pilpres,
KPK dan hukum yg gembos, komunikasi yg buruk, buzzer yg menjerumuskan,dll.
Satu2nya jalan harus ada keberanian bersikap tegas dan membersihkan lingkungan bapak yg sakit
Bila bapak bersikap tegas dan jelas, insyaAllah seluruh rakyat akan berada dibelakang bapak.
Bapak tidak dipilih oleh partai tapi oleh rakyat.Bapak bukan petugas partai.Sumber kekuasaan bapak dari rakyat. Bukan partai.
Hanya dgn itu kita semua akan keluar selamat dari krisis ini.
Symber: Akun Twiter @AT_Abdillah Toha