Search
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1127
RENCANA RUSUH ITU 18 APRIL 2020
Sungguh mengerikan bila rencana jahat itu tidak segera terendus oleh pihak Kepolisian. Kerusuhan yang direncanakan akan mereka gelar di Pulau Jawa pada 18 April 2020 mendatang, tentu saja hanya akan membuat masyarakat panik, takut, semakin susah, dan ujung-ujungnya bisa ditebak arahnya.
Tentulah untuk menumbuhkan opini terhadap kepercayaan masyarakat kepada pemerintah yang seolah tidak mampu lagi menciptakan keamanan, serta menjaga stabilitas ekonomi negeri ini. Setelah itu sangat mungkin akan dilanjutkan dengan demo berjilid-jilid untuk menuntut Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan wakilnya Ma'ruf Amin untuk lengser.
Aksi vandalisme di Tangerang dan Bandung yang pelakunya keburu ditangkap, itu adalah simbol serta moda hasutan dan provokasi kepada masyarakat luas agar ikut pada aksi rusuh yang dilanjutkan penjarahan yang membabi buta hingga suasana mencekam.
Mereka kalangan milenial yang terdiri dari mahasiswa dan anak SMA yang rasanya hanya pelaku lapangan di garis paling bawah yang kurang tahu apa-apa. Bukan hanya mereka saja, tapi hingga menyusup ke sektor lainnya, termasuk provokasi dari orang yang mengaku driver Ojol, padahal hanya pinjam jacketnya saja. Dari semua itu, pastilah ada koordinator lapangan dan aktor intelektual yang memiliki modal kuat, sehingga dapat merancang serta menyiapkan semua rencana busuk itu.
Bayangkan, dengan semua program yang telah disiapkan oleh pemerintah agar bangsa ini tidak terjerembab ke jurang yang paling dalam pun mereka tetap egois dan hanya memikirkan kekuasaan. Apalah lagi bila desakan lockdown dari beberapa pihak dikabulkan pemerintah pusat. Sudah terbayang bahwa ekonomi negara akan langsung terjun bebas, lalu tingkat kemiskinan meningkat, kelaparan terjadi dimana-mana, dan ujung-ujungnya pun tuntutan lengser kepada Presiden Jokowi.
Ini sudah bukan rahasia umum bila ada kelompok tertentu yang sudah lama ingin berkuasa di negeri ini tapi selalu gagal eksis, walau segala cara telah mereka halalkan. Kini mereka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dikala Indonesia digempur oleh serangan virus yang bernama Covid-19. Padahal musibah ini bukan hanya terjadi di Indonesia saja, tapi di seluruh dunia, hingga beberapa negara harus pontang panting menghadapinya, bahkan ada yang nyaris bangkrut karena ekonominya tak berjalan.
Kelompok ini adalah mereka yang sudah terbiasa hidup dari kemewahan yang diperoleh dengan cara-cara yang licik. Kini saat zona nyamannya terganggu, mereka berontak dan terus mengganggu pemerintah apa pun celah yang terlihat oleh mereka. Jadi jangankan mereka mau peduli dengan keadaan sekarang, apalagi hingga mengulurkan tangan untuk membantu mempercepat penanganan Covid-19, yang mereka pikirkan adalah rusuh, dan rebut kekuasaan, lalu bancakan.
Lalu apa itu Anarko yang sejatinya berarti 'Anarkis?' Kelompok yang awalnya dibentuk dari kalangan buruh di Perancis yang juga merupakan paham yang menginginkan serikat buruh menjadi kekuatan potensial untuk menuju kepada revolusi sosial, menggantikan kapitalisme dan negara dengan tatanan masyarakat baru yang mandiri dan demokratis oleh kelas pekerja. Saat terjadi rusuh di Bandung, mereka yang mengenakan seragam serba hitam. Tapi ada kejanggalan bahwa mereka tidak terlihat mewakili buruh, dan penulis meyakini mereka bukan buruh, tapi kelompok yang dibentuk secara khusus. Huruf "A" yang mereka tinggalkan adalah simbol pergerakannya, seperti halnya di Tangerang.
Kita patut mengapresiasi kinerja Kepolisian Republik Indonesia (Polri), dan semoga Polri, TNI, serta Badan Intelijen Negara, bisa terus berkolaborasi dan menjaga kekompakan, agar kiranya dapat mengawal negeri tercinta ini dari berbagai rongrongan yang datang dari segala penjuru, baik dalam mau pun luar negeri.
Bravo dan semangat Polri..
Oleh: Wahyu Sutono
Salam NKRI Gemilang ????
Copas: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3106985872726110&id=803774136380640
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 814
PROVOKATOR TERCIDUK
Tak terbayang betapa kecewa dan malunya kedua orang tua Riski dan kawan kawannya yang masih berstatus sebagai mahasiswa ini, kini harus meringkuk di balik jeruji besi karena tertangkap Polisi akibat perbuatan melawan hukum yang diduga menjadi provokator dengan cara menghasut masyarakat.
Para pelaku melakukan aksi vandalisme ini dengan cat pilog di beberapa lokasi di kota Tangerang, yang sangat mungkin dapat berakibat fatal yang mengarah pada kekacauan di tengah masyarakat bila tak tertangkap. Tulisan yang bernada provokatif itu antara lain:
1. Kill the rich
2. Mati konyol, apa mati melawan
3. Sudah krisis mari membakar
Anggota polsek Tangerang bersama anggota Resmob Polres Metro Tangerang Kota bergerak cepat melakukan penangkapan Riski dan kawannya di Café Egaliter guna pengusutan lebih lanjut. Tindak pidana dari tersangka dapat dikenai pasal 160 KUHP dan atau pasal 14 dan atau pasal 15 UU RI No. 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.
"Semoga pihak Kepolisian pun dapat mengorek lalu menangkap aktor intelektual dibalik aksi konyol yang menginginkan Indonesia rusuh memanfaatkan kondisi ketika negeri ini sedang mengalami musibah akibat Covid-19."
Bravo Polsek Tangerang ??
.
.
.
Wahyu Sutono
Copas: https://www.facebook.com/803774136380640/posts/3105035859587778/
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 832
Tim Polsek Gesi dan relawan bersama warga saat berada di Jembatan Sapen Gesi Sragen yang dijadikan lokasi percobaan bunuh diri seorang wanita, Sabtu (4/4/2020). Foto/Wardoyo
SitindaonNews.Com | Misteri aksi nekat seorang wanita yang hendak bunuh diri terjun dari Jembatan Sapen, Sabtu (4/4/2020) pagi akhirnya terkuak.
Wanita bernama Prihatin (44) asal Dukuh RT 9, Desa Majenang, Sukodono itu nekat meloncat terjun ke Sungai Bengawan Solo dari atas Jembatan Sapen di Dukuh Sapen, Tanggan, Gesi.
Beruntung, korban masih bisa diselamatkan oleh seorang tukang bakso yang berada di lokasi kejadian. Masalah keluarga dan kendala ekonomi diduga kuat menjadi pemicunya.
“Korban sudah berkeluarga. Dugaannya memang depresi karena masalah ekonomi keluarga yang kekurangan,” papar Kapolsek Gesi, Iptu Teguh Purwoko kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Sabtu (4/4/2020).
Namun ada yang menarik dari aksi percobaan bunuh diri yang dilakukan perempuan paruh baya itu.
“Jadi saat sudah loncat dan jatuh ke sungai, dia masih mencoba bertahan dan bisa renang. Beruntung, kemudian bisa diketahui oleh saksi penjual bakso di dekat jembatan dan berhasil ditolong,” urai Kapolsek.
Data yang dihimpun di lapangan, aksi percobaan bunuh diri itu terjadi pukul 11.00 WIB. Aksi korban diketahui oleh Darno Sumito (60) penjual bakso asal Dukuh Sapen RT 16, Desa Tanggan, Gesi, Sragen yang berada di dekat jembatan.
Kejadian bermula ketika pagi itu sekitar pukul 05.30 WIB, korban terlihat mengendarai sepeda motor dan kemudian mondar-mandir di atas jembatan.
Korban saat itu terlihat mengendarai sepeda motor Honda Vario warna hitam. Sekitar pukul 11.00 WIB, Darno pun curiga karena korban sudah tak terlihat di jembatan namun sepeda motornya tertinggal di atas jembatan.
Mendapati hal itu, ia langsung berinisiatif memberitahu istrinya, Lamini, untuk mencari korban ke bawah jembatan.
Tak lama berselang, mereka mendapati korban sudah mengambang di sungai tak jauh dari jembatan. Saat itu, korban terlihat masih berusaha berenang untuk bertahan di sungai.
Seketika, Darno langsung menolongnya dan berhasil mengevakuasi korban dari sungai. Setelah dievakuasi, dengan dibantu tetangga, korban lantas dibawa ke RSUD Sragen dan setelah mendapatkan perawatan, akhirnya bisa selamat.
Kapolres Sragen, AKBP Raphael Sandy Cahya Priambodo melalui Kapolsek Gesi, Iptu Teguh Purwoko membenarkan aksi percobaan bunuh diri itu.
“Jadi ceritanya korban dari pagi mondar-mandir di atas jembatan, kemudian terjun ke sungai dan motornya masih di atas. Ada saksi penjual bakso di dekat jembatan yang curiga dan setelah mengecek, ternyata mendapati korban sudah mengambang di sungai. Korban berhasil diselamatkan,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Sabtu (4/4/2020).
Kapolsek menguraikan korban sudah berkeluarga. Sesaat usai kejadian, suami korban juga langsung menyusul dan menjemput istrinya di RSUD Sragen.
“Korban tidak mengalami luka dan berhasil selamat. Tadi suaminya juga langsung menyusul dan menjemputnya di RSUD Sragen,” pungkasnya. Wardoyo
Sumber: teras.id
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 884
Foto Ilustrasi: Israel dan Palestina perangi virus corona
SitindaonNews.Com | Wujud kerja sama kedua negara mulai terlihat sejak Otoritas Palestina yang berbasis di Ramallah bekerja sama dengan pejabat kesehatan Israel
Palestina dan Israel memutuskan bersatu untuk mengatasi wabah virus corona.
Wujud kerja sama kedua negara mulai terlihat sejak Otoritas Palestina yang berbasis di Ramallah bekerja sama dengan pejabat kesehatan Israel.
Mereka berkolaborasi untuk mengatur pergerakan warganya dan menerapkan kebijakan manajemen rumah sakit.
Bulan lalu, Israel dan Otoritas Palestina menyetujui kebijakan yang berupaya membatasi pergerakan populasi, sembari membiarkan warga Palestina tetap bekerja.
Para pekerja diberi waktu 72 jam untuk memutuskan apakah tetap tinggal di Israel selama krisis, atau kembali ke Tepi Barat.
Sebelumnya, pada 7 Maret, Israel dan Palestina juga menunjukkan kekompakan untuk melawan virus corona.
Israel telah mengunci akses ke kota Betlehem, sedangkan Palestina menutup Gereja Betlehem selama dua minggu.
"Kami telah memutuskan untuk mencegah masuknya wisatawan dalam jangka waktu 14 hari, dan mengimbau hotel di semua kota untuk tidak menerima warga negara asing," kata Menteri Pariwisata Palestina Rula Maayah pada AFP, Sabtu (7/3/2020).
Langkah ini ditempuh setelah pihak berwenang Palestina mengatakan ada 9 kasus infeksi virus corona di daerah Betlehem di selatan Yerusalem.
Hingga Kamis (2/4/2020) Ada lebih dari 5.500 kasus virus corona yang dikonfirmasi dalam 10 juta populasi Israel, dan 122 kasus di sekitar 2,7 juta warga Palestina.
Namun, jumlah pengujian yang dilakukan di Palestina lebih rendah daripada Israel.
Disarankan bersatu
Persatuan yang digalang Israel dan Palestina mendapat sambutan positif, salah satunya oleh Ofer Zalzberg dari International Crisis Group.
"Terlepas dari ketegangan, kerja sama diperlukan karena 'kepentingan pribadi'."
"Karena dua populasi saling terkait, membatasi virus hanya dalam satu masyarakat tidak mungkin," kata Zalzberg dikutip dari AFP, Kamis (2/4/2020).
Yotam Shefer dari cabang militer Israel yang bertanggung jawab atas urusan sipil di wilayah Palestina (COGAT), juga menegaskan kerja sama harus kuat.
"Koordinasi dengan Otoritas Palestina sangat ketat dan sangat kuat," katanya pada jurnalis AFP.
Mantan kepala COGAT Eitan Dangot pun mengatakan pada wartawan bahwa Otoritas Palestina telah "sepenuhnya mengadopsi kebijakan Israel tentang cara menangani virus corona."
Riak pertikaian masih ada
Meski kedua negara telah memutuskan untuk menggalang persatuan, sejumlah pertikaian tetap tidak terelakkan.
Tentara Israel terus melakukan penggerebekan di daerah-daerah Palestina dan menghancurkan rumah-rumah serta bangunan lainnya.
Kemudian muncul sebuah video yang memperlihatkan pekerja Palestina yang sakit, dibuang di pos pemeriksaan Israel.
Polisi Israel beralasan pria itu sudah di rumah sakit untuk meminta perawatan, tapi kedapatan bekerja secara ilegal di Israel.
"Polisi mengawal pria itu ke perlintasan keamanan Maccabim," kata seorang juru bicara kepolisian, yang menekankan bahwa pria tersebut negatif corona sebelum dibawa ke pos pemeriksaan.
Namun tindakan itu telanjur memancing kemarahan warga Palestina.
Perdana Menteri Mohammad Shtayyeh lantas menyebut tindakan Israel itu sebagai perilaku rasis.
Kemudian pada Rabu (1/4/2020) Otoritas Palestina mengatakan 15 warganya yang dipekerjakan di permukiman dinyatakan positif Covid-19 setelah dites.
"Keputusan Israel untuk mengizinkan masuknya pekerja adalah upaya untuk melindungi ekonomi Israel dengan mengorbankan para pekerja kami," kata Shtayyeh.
"Ekonomi Israel tidak sama berharganya dengan kehidupan anak-anak kita," tegasnya.
Israel sempat memperbolehkan warga Palestina yang bekerja di permukiman bebas bolak-balik menyeberang perbatasan setiap hari, sebelum larangan perjalanan diterapkan.
Sumber: suar.grid.id/ucnews
*Ijonk Aries
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 913
Kolase Yasoona Laoly dan Najwa Shihab
SitindaonNews.Com | Najwa Shihab ikut memberi komentar terkait rencana Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly untuk membebaskan napi koruptor.
Yasonna Laoly berasalan pembebasan napi koruptor itu untuk pencegahan penyebaran covid-19 di Indonesia.
Komentar Najwa Shihab diungkap melalui media sosial Instagram miliknya, @najwashihab pada Jumat (3/4/2020).
Perempuan yang kerap disapa Nana ini tegas menyebut 'Nanti Dulu' !
Awalnya, Nana menjelaskan bagaimana kondisi lapas yang kelebihan kapasitas dan membuat penyebaran virus tak terkendali.
"Koruptor Dibebaskan Gara-Gara Corona? Nanti Dulu!
Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laolyberencana membebaskan napi termasuk napi koruptor karena corona.
Alasan utamanya, lapas yang kelebihan kapasitas akan membuat penyebaran virus ini tidak terkendali dan jika satu tertular akan membahayakan semua"
Najwa mengakui ada lapas yang memang tidak manusiawi.
Bahkan para napi bergantian tidur dengan napi lain karena kelebihan kapasitas.
"Secara prinsip alasan ini sangat bisa diterima.
Kondisi lapas kita memang tidak manusiawi, orang bertumpuk seperti pindang, bahkan tidur bergantian."
Namun Najwa mulai menyentil saat Yasonna Laoly menyinggung soal napi koruptor.
Pasalnya, sel bagi para koruptor sangatlah berbeda.
Menurut Nana, seperti di Lapas Sukamiskin saja, para napi mendapatkan fasilitas lengkap.
Bahkan Nana menyindir para napi koruptor bisa mandi air panas dan olahraga secara ekslusif.
"Tapi alasan ini menjadi mengada-ada ketika kita bicara soal napi koruptor.
Sel bagi koruptor berbeda dengan tahanan lain.
Di Lapas Sukamiskin misalnya, satu napi satu kamar. Lengkap dengan fasilitas pula.
Alih-alih berdesak-desakan dengan napi lain sehingga bisa tertular corona, para koruptor di Sukamiskin bahkan ada yg bisa mandi air panas di kamar mandi pribadi dan olahraga dgn alat khusus di dalam sel eksklusif mereka."
Menurut Najwa Shihab, alasan pembebasan napi koruptor untuk penghambatan penyebaran covid-19 tidak relevan.
"Dari hampir 250 ribu napi di seluruh negeri, napi korupsi jumlahnya 4500-
Jadi sekitar 1, 8 persen dari total napi.
Pembebasan napi koruptor dgn tujuan menghambat penyebaran covid 19 di Lapas menjadi tidak relevan, krn angkanya sangat kecil dibanding napi lain."
Nana menyebut usulan Yasonna Laoly ini menimbulkan kecurigaan dari pegiat antikorupsi.
"Menjadi wajar jika sejumlah pegiat antikorupsi curiga kebijakan membebaskan napi koruptor ini hanyalah akal2an saja.
Sdh beberapa kali Kementerian Hukum dan HAM berupaya utk meringankan hukuman koruptor lewat revisi peraturan perundangan."
Lebih lanjut, Najwa memberikan pesan kepada bapak Menteri Yasonna Laoly untuk membuka dulu ke depan publik bagaimana kondisi sel untuk napi koruptor di Indonesia.
"Jadi Pak Menteri yang terhormat, supaya kita tidak curiga macam-macam, coba dibuka dulu ke publik,
narapidana kasus korupsi apa dan di mana yang menempati sel berdesak-desakan seperti napi umum pencuri ayam yang bahkan tidurnya harus bergantian?"
Pada kalimat penutup, Najwa kembali menyindir bagaimana lapas Sukamiskin yang juga ditempati Setya Novanto masih bisa plesiran bahkan nonton Netflix.
"Oh ya, sekalian kalau memang mau cek lapas koruptor, titip cek lagi sel Papa Setya Novanto dan kawan-kawannya di Sukamiskin, masih di sel lagi nonton Netflix atau lagi plesiran makan di warung Padang?
#CatatanNajwa," pungkas caption Najwa Shihab.
Sebelumnya diberitakan, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly berencana merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.
Hal itu dikarenakan napi koruptor dan narkotika yang tata laksana pembebasannya diatur lewat PP itu, tidak bisa ikut dibebaskan bersama 30.000 napi lain dalam rangka pencegahan Covid-19 di lembaga pemasyarakatan (lapas).
Lewat revisi itu, Yasonna ingin memberikan asimilasi kepada napi korupsi berusia di atas 60 tahun dan telah menjalani 2/3 masa pidana yang jumlahnya sebanyak 300 orang.
"Karena ada beberapa jenis pidana yang tidak bisa kami terobos karena Peraturan Pemerintah Nomor 99/2012," kata Yasonna dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR yang digelar virtual, Rabu (1/4/2020).
Sumber :.tribunnews.com