Search
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1095
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memberikan keterangan saat menghadiri peluncuran bukunya dalam acara ngobrol@Tempo di kantor Redaksi Tempo, Palmerah, Jakarta, 17 Februari 2020. Basuki menulis buku ini saat mendekam di Rumah Tahanan Mako Brimob pada Mei 2017 sampai Januari 2019 akibat perkara penistaan agama. TEMPO/Gunawan Wicaksono
SitindaonNews.Com | Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengatakan merasa sangat marah ketika di masa-masa awal ia ditahan di Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini ditahan sejak Mei 2017-Januari 2019 setelah divonis bersalah dalam perkara penistaan agama.
"Saya memang marah. Kenapa negara harus kalah dari tekanan massa? Saya pikir ini seperti dagelan. Tiba-tiba saja saya dimasukkan ke penjara. Mana ada dalam sejarah republik ini ada gubernur aktif dimasukkan ke penjara, kecuali kena operasi tangkap tangan atau jadi maling. Saya tidak terima itu," kata Basuki seperti dikutip dari wawancara dengan Majalah Tempo edisi 15 Februari 2020.
Basuki ditahan setelah ucapannya ketika memberikan pidato di Kepulauan Seribu dianggap menistakan Islam. Waktu itu, ratusan orang berulangkali menggelar unjuk rasa. Puncaknya adalah unjuk rasa pada 2 Desember 2016 atau dikenal sebagai gerakan 212. Waktu itu, ratusan orang mendesak agar Basuki menjadi tersangka.
Komisaris Utama Pertamina ini mengatakan ia marah kepada semua orang. "Saya di penjara juga dimonitor. Tiap kali ada tamu datang, dicatat nama, pelat nomor mobil, direkam semua. Ngeliatin gerak-gerik gue. Kan, gue bisa ngerasain itu. Udah kayak tahanan politik ajague ini," katanya.
Kondisi ini, kata dia, ia rasakan selama 14 hari. Ia pun sering terbangun tengah malam dengan kondisi dada sesak dan badan panas. "Akhirnya saya berdoa, minta supaya saya bisa memaafkan. Ketika bisa mengampuni, aku enggak pernah lagi bangun tengah malam," kata Basuki yang telah meluncurkan buku "Panggil Saya BTP".
Sumber: tempo.co
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 780
Antara/Mohamad Hamzah | Angka Kemiskinan: Sejumlah anak berada di rumah mereka di Kawasan Pemukiman Pemulung di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (1/3/2019
SitindaonNews.Com | Tahun ini, pertumbuhan ekonomi diprediksi turun yang menyulitkan penurunan kemiskinan
Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Rusli Abdullah menilai, penurunan kemiskinan Indonesia menghadapi empat tantangan serius. Empat tantangan itu adalah perlambatan ekonomi, sifat kemiskinan yang satu digit (the last mile problem), ketidakpastian ekonomi global dan nasional, hingga korupsi.
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 591
Sekolah menyediakan komputer untuk siswa selama ujian sekolah
Reses saya kmrin di 2 titik kecamatan palmerah, Jakbar. Ada pengaduan dari ibu2 mengenai apa benar kabar diminta punya laptop untuk ujian anak sekolah. Anak tersebut bersekolah di MTSN 35 Jakarta. Pagi ini disdik langsung meluncur ke MTSN 35 dan hasilnya adalah tdk ada kewajiban https://t.co/0AGTQTktl0
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 883

SitindaonNews.Com | Sepertinya alarm panik kasus Jiwasraya sudah mulai dibunyikan. Sejumlah skenario yang coba dilakukan seolah tidak menuai hasil yang diharapkan. Lihat saja, contohnya menggiring opini Jiwasraya jauh satu dekade kebelakang mentah karena bocornya dokumen rahasia perusahaan asuransi plat merah yang memperlihatkan kondisi sehat wal afiat sebelum 2017.
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 889
Tunjuk Plt Dirjen Bimas Katolik Seorang Muslim: Menag Blunder Bertubi-tubi
Saya tidak tahu siapa pembisik Menteri Agama (Menag) Fahrul Razi saat ini sehingga begitu sering membuat blunder fatal bertubi-tubi yang seharusnya tidak perlu terjadi. Kali ini blunder Menag Fahrul Razi terkait dengan penunjukan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Katolik. Entah bisikan tuyul dari mana sehingga pejabat Plt Dirjen Bimas Katolik diserahkan kepada Prof.Dr.HM Nur Cholis yang beragama Islam. Mengapa bisa seceroboh ini, Pak Menteri ?
- Details
- Category: Politik & Opini
- By ZA Sitindaon
- Hits: 12074
SitindaonNews.Com | Surat terbuka dari warganet yang diterima redaksi di group WA, yang prihatin atas ketidak adilan pemerintah terhadap kaum minoritas di negeri ini, dimana pemerintah telah kalah oleh tekanan sekelompok ormas.