Search
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1095
Harusnya Ahok tayang di acara hari ini jam 19.30-21.30. Semuanya sudah direncanakan matang-matang dari awal. Sebaran sudah diberikan. Flyer sudah disebarkan, seluruh mata warga Indonesia siap menonton acara ini.
Lantas, per hari ini, pada waktu yang sama, saya menunggu melongo di depan televisi menanti-nantikan Ahok. Tapi tak kunjung datang. Ada apa gerangan? Saya curiga, ada peranan radikalisme di dalamnya. Bagaimana analisisnya? Begini.
Kita harus sepakat dan kita sudah semuanya tahu, bahwa musuh radikalisme adalah Ahok. Ahok adalah sosok pekerja keras yang mengenyampingkan setiap identitas suku, agama, ras dan golongannya.
Ahok menjadi birokrat dan pejabat publik, yang melayani seluruh rakyat Jakarta. Tanpa terkecuali. Memang secara identitas, orang ini adalah sosok yang berbeda dan dianggap memiliki label minoritas.
Bahkan dia sendiri mengatakan bahwa Ahok menyandang gelar double minority. Artinya, minoritas ganda ini didatangkan dari orang lain, dan Ahok sadar betul. Jadi apa hubungannya dengan radikalisme?
Paham radikalisme ini merupakan paham yang bertentangan dengan semangat Pancasila. Di dalam pengajaran Pancasila yang tidak bertentangan dengan agama, mereka mencoba untuk mempertentangkan antara agama dan Pancasila.
Maka dengan Ahok menjalankan tugas dan fungsi sebagai gubernur, dia tetap saja dianggap sebagai orang yang tidak bisa memimpin.
Mengapa? Karena agamanya berbeda. Ini adalah sebuah pandangan radikalisme yang merasuk, menghantui dan terus menerus ada di dalam diri manusia-manusia pendukung unta gurun ini.
Radikalisme adalah musuh Ahok, karena radikalisme ini tidak suka orang yang berbeda. Radikalisme dan uniformitas adalah dua hal yang berada di satu keping koin.
Radikalisme menuntut kesamaan baik dari sisi agama, suku dan ras. Ini adalah sebuah hal yang terus menerus digoreng sampai gosong oleh pendukung kadal gurun.
Hebatnya, Ahok selama menjabat menjadi gubernur, begitu menahan serangan dengan sangat luar biasa. Mereka ini mempertontonkan kenajisan dalam berpolitik. Politik dicampuraduk dengan agama dan menjadi sangat rusak. Kerusakan itu sudah terjadi.
The damage has been done.
Pilkada DKI Jakarta adalah pilkada terburuk sepanjang masa. Ahok ini menjadi media darling, dan ia menjadi orang yang berhasil membuat tingkat kepuasan warga, tertinggi sepanjang sejarah. Ini adalah pencapaian dari Ahok, yang menyandang gelar double minority.
Artinya, secara umum seluruh rakyat Jakarta sudah sangat puas dengan keberadaan kepemimpinan Ahok. Tuhan memberikan kecintaan warga terhadap Ahok dengan sangat baik.
Ahok bahkan dengan lantang dan berani, melawan radikalisme. Para pemuja kwetiau dan Wan Badut ini dibuat mati kutu dengan kepuasan rakyat Jakarta yang tinggi sekali, bahkan nyaris menembusi langit itu.
Mereka lantas memasang mata super tajam kepada Ahok, agar dicari-cari kesalahannya. Sesuatu yang tidak ia niatkan, akhirnya harus membuat dirinya jatuh dan tidak bisa bangkit lagi.
Ada peranan-peranan radikalisme yang begitu kencang menyusup ke arah Ahok. Bahkan tayangan-tayangannya dijadikan bahan pembantaian karakter Ahok.
Karakter Ahok dibunuh oleh Buni Yani, melalui video yang dipotong. Ini adalah upaya perusakan karakter Ahok yang dilakukan secara terstruktur, sistematis dan masif. Ini adalah hal yang sangat berbahaya untuk demokrasi. Demokrasi terancam dengan ini.
Akhirnya, ibarat bola salju yang terus bergulir, kebencian kepada Ahok ini sudah membuncah, bahkan tidak terpendam sama sekali. Kebencian itu terus dipelihara, untuk sebuah hasrat politik. Politisi baik itu akhirnya harus hancur, hanya karena video beberapa menit yang diedit dan dipotong kata-katanya.
Jadi apa hubungannya dengan pembatalan tayangan ini? Pembatalan ini kemungkinan besar adalah karena adanya tekanan dari kaum radikalis. Bayangkan, video panjang Ahok saja bisa dipendekkan dan langsung dijadikan bahan pembunuhan karakter Ahok. Apalagi wawancara yang Durasinya bisa sampai 1,5 jam?
Jadi demi keamanan Ahok sendiri, maka acara itu harus batal ditayangkan. Ini adalah ulah dari politisasi agama dan politisasi mayat yang dikerjakan sebelum-sebelumnya.
Kebencian kepada Ahok sudah begitu nyata. Padahal kita melihat bagaimana Ahok sudah begitu baik memberikan dirinya untuk berdedikasi kepada warga Jakarta. Jangan sampai Jakarta hancur, hanya karena ulah orang-orang radikalis murni yang ingin NKRI hancur.
Begitulah hancur-hancur.
Sumber: https://seword.com/politik/menguak-peranan-radikalisme-dalam-pembatalan-tayangan-ahok-QBECKK1eKc
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 980

Perwakilan dari petugas dari kantor Badan Komisi Tinggi PBB untuk pengungsi (UNHCR) menemui pencari suaka sebelum dipindahkan dari trotoar kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (11/7/2019). Pemerintah DKI Jakarta memindahkan pencari suaka yang berasal dari Afganistan, Somalia, Sudan dan Pakistan ke lahan bekas Markas Komando Distrik Militer (Makodim) Kalideres, Jakarta Barat.
JAKARTA -- Para pencari suaka asal Afghanistan, Sudan, dan Somalia, telah menempati tenda pengungsian sementara di Kalideres, Jakarta Barat, pada Kamis (11/7) malam. Sebelumnya, lebih dari sepekan mereka tinggal di trotoar Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.
Lurah Kalideres, Jakarta Barat, Muhammad Fahmy mengatakan jumlah pengungsi yang menempati enam unit tenda dari Kementerian Sosial dan Dinas Sosial DKI Jakarta itu sebanyak 998 orang. "Apakah akan bertambah atau tidak, saya belum bisa pastikan. Mungkin Jumat pagi akan ada perkembangan," kata Fahmy saat ditemui di sekitar eks Kodim Jakarta Barat, yang menjadi lokasi pengungsian sementara, Jumat (12/7) dini hari.
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 937

MENCARI PIMPINAN KPK PEMBERANI BERJIWA MERAH PUTIH..
Dalam perbincangan dengan mantan Ketua KPK Antasari Azhar beberapa hari lalu, saya mendapat banyak masukan berharga..
Salah satunya adalah bahwa permasalahan terbesar di KPK bukan ada di pimpinannya, tetapi justru di level tengahnya yaitu di level Satuan Tugas atau Satgas. Satgas ini berisi orang-orang yang sudah bertugas di KPK sekian lamanya.
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 858

SEANDAINYA KPK DIKUASAI KELOMPOK RADIKAL..
Ini mungkin pertanyaan terbesar kita, "Bagaimana seandainya KPK dikuasai kelompok radikal ?"
Virus radikalisme di tubuh negeri ini sudah sangat parahnya. Mereka sudah menyusup kemana-mana, bahkan ke lingkungan TNI yang seharusnya menjadi penjaga negeri. Menteri Pertahanan dengan risau mengabarkan bahwa ada 3 persen anggota TNI yang sudah terpapar radikalisme.
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1892

Suasana persidangan PHI di PN Jakarta Pusat
Perjuangan Panjang Itu Akhirnya Melegakan Ibu Guru Fransisca
"Pak Panitera, sidang kasus no 42 kapan dimulai?", tanya Bu Sisca.
Panitera PHI menjawab tidak pasti. Sudah hampir 7 jam Bu Sisca menunggu tanpa kepastian. Perutnya sudah lapar. Waktu azan Magrib telah tiba. Ia sabar menunggu di ruang pengadilan PHI Jakarta Pusat. Sejak pukul 10.00 WIB. Menanti keputusan hakim dengan perasaan campur aduk. Soal nasibnya. Soal kehormatannya. Soal harga dirinya. Soal martabatnya. Sebagai guru. Sebagai perempuan. Sebagai Ibu.
- Details
- Category: Trending News
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1015

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap tangan Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun bersama lima orang lainnya dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Kepulauan Riau, Rabu (10/7/2019) malam.
Nurdin telah menjabat sebagai kepala daerah provinsi itu sejak 25 Mei 2016. Dari segi karier politik, bisa dibilang Nurdin cukup berpengalaman.