Top Stories
-
Siap-siap Ekonomi Semakin Parah, 5 Tahun Kedepan Secara Keseluruhan Akan Berat!
-
Lingkunganmu Menentukan Hidupmu
-
HP Mulai Ditinggalkan di 2026, Ramai-ramai Beralih ke Penggantinya
-
Nasabah Menjerit di DPR: Bank Muamalat Diduga Gelapkan Dana Miliaran
-
China Berlakukan Wajib Steer-By-Wire Untuk Semua Mobil
-
Medan Perang Durian di Tiongkok
Search
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 943
Petugas medis menggunakan pakaian pelindung saat memeriksa kondisi pasien terinfeksi virus corona di ruang isolasi Rumah Sakit Cremona di Italia Utara, 5 Maret 2020. Di Italia korban meninggal akibat virus corona mencapai 366 orang, sedangkan pasien yang pulih 622 orang. LA7 PIAZZAPULITA/Reuters TV via REUTERS
SitindaonNews.Com | Seorang perawat menceritakan bagaimana sulitnya merawat pasien virus Corona atau COVID-19, mulai dari bekas merah di wajah karena terlalu lama memakai masker sampai tidak bisa ke toilet selama 6 jam.
Sementara ada seorang perawat lain jatuh tertidur di laptop pada setelah shift 10 jam tanpa henti.
Bersama dengan dokter dan staf medis lainnya, para perawat berada di garis depan perjuangan Italia melawan virus Corona. Mereka berbagi kisah kelelahan dan kepahlawanan dalam menghadapi penyakit yang telah menewaskan lebih dari 800 orang di negara itu dan menginfeksi lebih dari 12.400.
Dikutip dari Sky News, 12 Maret 2020, perawat muda bernama Alessia Bonari, yang berbagi foto yang menunjukkan bekas masker di wajahnya setelah mengenakan masker pelindung terlalu lama dan ketat, mengatakan dia takut pergi bekerja setiap hari.
"Saya takut karena masker mungkin tidak menempel dengan benar ke wajah, atau saya mungkin secara tidak sengaja menyentuh diri saya dengan sarung tangan kotor, atau mungkin lensa tidak menutupi mata saya sepenuhnya dan ada sesuatu yang ketinggalan.
Perawat Italia Alessia Bonari. Wajahnya memar karena terlalu lama memakai masker ketika dia merawat pasien virus Corona di rumah sakit tempatnya bekerja.[Sky News]
"Saya lelah secara fisik karena alat pelindungnya sakit, jas lab membuat saya berkeringat dan begitu saya berpakaian saya tidak bisa lagi pergi ke toilet atau minum selama enam jam," cerita Alessia.
"Saya lelah secara psikologis, seperti semua kolega saya yang telah berada dalam situasi yang sama selama berminggu-minggu, tetapi ini tidak akan menghentikan kami melakukan pekerjaan kami."
Dalam beberapa hari terakhir, foto perawat lain, Elena Pagliarini, telah menjadi simbol perjuangan tenaga medis melawan virus Corona.
Pagliarini, yang berusia 40 tahun, bekerja di sebuah rumah sakit di Cremona, dikutip dari The Sun. Kota ini berada di utara Lombardy, wilayah yang paling parah dilanda negara itu.
Seorang perawat pingsan karena kelelahan.[Nurse Times/Sky News]
Rekan perawat bernama Francesca Mangiatordi, yang mengambil foto Pagliarini, mengatakan kepada Nurse Times, "Kami telah bekerja tanpa henti selama 10 jam."
"Aku memandangnya dan aku ingin memeluknya, tetapi aku lebih memilih untuk mengabadikan momen itu."
Bonari, dari Grosseto di Tuscany, mendesak warga Italia untuk menghormati isolasi kota yang diberlakukan di seluruh Italia untuk mengekang penyebaran penyakit. Kalau tidak, dia memperingatkan semua upaya staf medis akan sia-sia.
"Kami anak muda tidak kebal terhadap virus corona, kami juga bisa sakit, lebih buruk lagi, kami bisa membuat orang lain sakit.
"Saya tidak mampu membayar kemewahan untuk kembali ke rumah di bawah karantina. Saya harus pergi bekerja dan mengerjakan bagian saya. Tolong kerjakan kewajiban Anda."
Seruan dari Bonari di Facebook, yang terdaftar di kolom Facebook bekerja di rumah sakit Milan, datang setelah dokter membagikan kisah dramatis tentang tantangan yang dihadapi oleh staf garis depan.
Beberapa orang menyamakan virus Corona dengan perang, atau tsunami.
Ketika Italia terus bergulat dengan wabah terburuk di luar Cina, dokter dan perawat masih harus menempuh jalan panjang.
Ketika WHO menyatakan COVID-19 sebagai pandemi, kasus infeksi di Italia terus meningkat menjadi 12.462 menurut data John Hopkins University pada 12 Maret 2020. Sementara, 827 orang di Italia terbunuh oleh virus Corona.
Sumber : tempo.co
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 2641

Pasien saya pernah berkonsultasi seperti ini:
"Dok, saya rasa saya perlu membawa istri saya ke dokter jiwa."
Saya kaget, lalu saya bertanya, "Kenapa Bapak berpikir demikian?"
"Anak saya dah habis dicubit istri saya, belum lagi dipukul dengan rotan. Saya tidak tega melihatnya. Itu termasuk usia satu tahun, Dok."
"Istri saya bagaikan macan ... Padahal dulu istri saya sangat lembut hatinya, marahpun tidak tega," ujarnya lagi.
Saya terdiam, lalu bertanya, "Pak, mohon maaf sebelumnya, saya bertanya dulu, ya, soal kondisi Ibu."
Singkat cerita, saya mendapat informasi bahwa si Ibu ini punya 4 orang anak. Usia anaknya mepet-mepet, terbesar 10 tahun, lalu 8, 5, dan 2 tahun. (Saya dengarnya saja sampai melotot).
Punya pembantu hanya 1, dan si Ibu ini bekerja, jam kerjanya dari jam 7 pagi sampai jam 6 malam.
Biasanya Si Ibu bangun jam 4 pagi untuk masak dan bersih-bersih, lalu lanjut dengan menyiapkan anak-anak sekolah, bahkan Ibu ini harus mengantarkan anak-anak sekolah pagi.
Dan siklus ini berlanjut sampai hari Sabtu. Hari Sabtu si Ibu akan bekerja sampai jam 3 sore.
Pada saat anak pertama, si Ibu ini baik-baik saja. Semakin anak bertambah, keganasannya pun bertambah. Bahkan kalau marah bisa menjerit-jerit dan membanting barang.
Saya melanjutkan pertanyaan saya, "Bapak, kalau boleh tahu, aktivitas Bapak kalau pagi dan sore bagaimana, Pak?"
"Oh, saya bangun jam 6, mandi, makan pagi, lalu berangkat kerja. Sampai di rumah saya jam 6 sore, Dok, mandi, makan, buka kerjaan kantor sebentar, lalu istirahat. Capek dah kerja seharian. Saya gak ngurus anak-anak, Dok. Mereka kan urusan ibunya."
(Iiiih pengen deh nyubit si Bapak. Nyubit pake capit kepiting raksasa ?)
"Mohon maaf sebelumnya, ya, Pak. Sebelum saya merujuk istri Bapak ke dokter jiwa, sebaiknya Bapak bisa melakukan beberapa hal berikut ini."
"Kita tunggu satu bulan, kalau tidak ada perubahan, boleh kita bawa ke psikiater."
"Tolong lakukan ini setiap hari, dan tolong jangan tanya kenapa ... Just do it! (Maksa mode on ?)."
1. Bapak bangun jam 5 pagi, bantuin Ibu mandikan anak-anak dan bagi tugas mengantarkan anak.
2. Gantian, Pak, setiap Sabtu, sesekali Bapak yg "Me Time", sesekali Ibu yg "Me Time".
Kasih Ibu waktu untuk rehat, biarkan sesekali pergi ke salon, nonton, pergi dengan teman, apapun itu yang bisa membuat beliau segar kembali.
3. Kalau memang Bapak punya dana lebih, sebaiknya ditambah pembantu satu lagi, Pak.
4. Diajak kencan berdua, sesekali anak dititipkan.
"Begitu, ya, Pak. Sebulan lagi kita cek ulang."
Selang sebulan, si Bapak kembali dengan wajah yang sumringah.
"Gimana, Pak?"
"Betul, Dok! Istri saya sekarang sudah lebih sabar. Anak-anak juga sangat jarang dipukul. Saya lihat anak-anak saya juga lebih bahagia. Saya rasa gak perlu ke psikiater, ya, Dok. Saya sadar saya salah. Saya kurang berikan waktu istirahat untuk istri saya."
Ia pun lanjut bercerita, "Tapi saya belum sanggup sewa pembantu lagi, Dok. Tapi kata istri saya tidak usah, sanggup kok merawat anak-anak selama saya membantu."
"Alhamdullilah ... Ya, selama komunikasi dengan Ibu baik, Bapak mau membantu istri Bapak. Saya rasa bisa kok, Pak, merawat anak-anak."
Sebenarnya para suami perlu tahu, bahwa dengan membahagiakan istrinya artinya juga menyelamatkan anak-anaknya.
Apa hubungannya?
Seringkali anaklah yang menjadi korban saat ibunya banyak pikiran dan tertekan.
Peran ibu sangat besar dalam mendidik anak-anak agar mereka tumbuh besar, bertanggungjawab, dan cerdas.
Bersyukurlah para suami mempunyai istri yang bisa tetap menjaga kewarasannya ketika beban hidup begitu berat.
Selalu dengar istri Anda, selalu ringankan tangan untuk membantu pekerjaannya, dan selalu berikan pelukan untuk menenangkannya ?.
Seringkali depresi dan stres istri justru berasal dari orang terdekatnya, loh. Beban istri tidak hanya dari anak-anak saja.
Anak rewel, anak sakit, anak dengan kondisi khusus, anak lebih dari satu ... Banyak.
Ini makin parah dengan beban sikap buruk dari suami, keadaan ekonomi yang sulit, belum lagi jika mendapat mertua, ipar, orangtua yang jahat alias juliiid, banyak tuntutan (perhatian maupun materi), suka ngatur (kaya di sinetron deh tuh ?).
Akhirnya, karena tidak berdaya dan tidak ada pembelaan dari suami, gak bisa balas, ujungnya hanya bisa melampiaskan pada sosok yang lemah, yaitu anak.
Apalagi klo beban ekonomi ibu bergantung total pada suami. Apa-apa minta suami. Mau beli make up minta suami ....
Kebayangkan, sudah stres ... gak bisa merawat diri, dibilang gila lagi! ?.
Berapa banyak kasus penganiayaan bahkan hingga kasus pembunuhan anak berawal dari sini?
Dan ketika itu terjadi, para ibu seringkali dicap tidak punya iman, ibu gila, ibu jahat. Semua menghakimi tanpa memikirkan bagaimana kondisi mental si Ibu.
Dan yang mengerikan, orang gak sadar bahwa dari ucapan dan tindakan itulah yang menjadi pembuka pintu untuk menjadikan seorang ibu menjadi seorang pembunuh bagi anak-anaknya.
Baik pembunuh karakter maupun pembunuhan yang menghilangkan nyawa.
Semua bisa kok dilewati ketika suami berbuat baik pada istrinya, berada di garda terdepan untuk melindungi dan menyayangi istrinya. Menjadi pendamping dan pembimbing. Karena dengan begitu, sesungguhnya seorang suami juga sedang melindungi anak-anaknya.
Dan buat kita semua wanita!!!
Please deh jangan julid!!!
Kalau ada teman yang stres punya banyak anak, jangan menghakimi, terus dibandingkan,
"Iih punya anak 4, gak bisa merawat diri, makin lama makin jelek."
Yang berkomentar hilang ingatan klo dia sendiri cuma punya anak dua dengan dua baby sitter, seorang sopir, dan dua pembantu ... ?.
(Dokter Ika Devi)
***
Memang benar, ya, yang paling berefek menyakiti dan mengubah pribadi seorang ibu, ya, orang terdekatnya.
Ditambah lagi yang mengherankan, yang usil dan sering menghakimi juga sesama wanita:
- ibu sendiri, padahal sebagai ibu juga pasti dia pernah merasakan beban yang berat menjadi seorang ibu.
- ibu mertua, padahal ia juga pernah merasakan menjadi menantu. Tapi tanpa sadar ia juga memperberat kondisi menantunya.
- ipar/saudara perempuan yang sebenarnya sama-sama merasakan beratnya beban hidup tapi malah menambah beban dengan ketidakpedulian dan persaingan.
- teman wanita lainnya, yang justru malah nyinyir mencari kekurangan wanita lain hanya untuk merasa ego bahwa dirinya jauh lebih baik.
Segala hal jadi bahan perbandingan dan dipermasalahkan secara berlebihan: caesar atau tidak caesar, vaksin atau tidak vaksin, asi atau tidak asi, bisa ngupas salak atau gak bisa ngupas salak ??.
Setiap orang itu kan mengalami situasi dan kondisi yang berbeda-beda, jadi jangan disamakan dengan kondisi kita, bisa saja lebih baik atau mungkin lebih buruk.
Pahami dulu, sebelum menghakimi!
Salam waras, Mak ??
Copas: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10221291195620279&id=1559094120
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 791
Siswa disabilitas netra didampingi guru mempraktikan cara menggunakan masker yang benar saat Sosialisasi Simulasi Pencegahan Penyebaran Virus Corona di SLBN A Pajajaran, Kota Bandung, Jumat (6/3).
SitindaonNews.Com | Sejak Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan dua orang positif terinfeksi virus corona (Covid-19) awal pekan ini, masyarakat langsung ramai-ramai memborong masker. Padahal, menurut ahli, orang yang dalam kondisi sehat tak perlu menggunakan masker.
Dr. Pande Putu M.Gizi SpGK AIFO dari Indonesia Sports Medicine Centre, mengatakan, jika orang sehat menggunakan masker, maka cenderung akan semakin mudah terpapar Covid-19. Sebab, penggunaan masker hanya akan membuat seseorang lebih sering menyentuh area muka, padahal tangannya dalam kondisi tidak steril.
"Kalau kita pakai masker, tapi tangan kita tidak bersih, percuma juga. Sama saja. Akhirnya malah terpapar juga," kata Pande ketika memberikan sosialisasi terkait Covid-19 di Kantor Republika, Jakarta, Jumat (6/3).
Lantas siapa saja yang seharusnya menggunakan masker?
Menurut Pande, mengacu pada panduan WHO, masker seharusnya hanya digunakan untuk tiga jenis keperluan. Pertama, bagi orang yang memang sadang sakit, misalnya sedang batuk dan pilek.
Kedua, orang-orang yang sedang merawat mereka yang sedang batuk-pilek. Ketiga, untuk para tenaga medis.
Khusus untuk orang yang dalam kondisi sakit, ia menekankan, agar harus menggunakan masker. Sehingga virus yang ada pada tubuhnya tidak menyebar ke orang lain. "Kalau memang sakit, jangan tidak pakai masker, tolong pakai masker," katanya.
Namun demikian, kepanikan masyarakat akan Covid-19 telah membuat harga masker di pasaran melambung tinggi. Selain itu, kata dia, tak jarang masyarakat yang dalam kondisi sakit malah tak kebagian masker.
"Jadi kalau kita sehat, untuk membantunya adalah jangan beli masker. Sebab, yang sakit tidak sanggup beli masker karena harganya kemahalan," ujar Pande.
Presiden Jokowi mengumumkan dua kasus orang warga Kota Depok positif terjangkit Covid-19 pada Senin (2/3) lalu. Pada Jumat, pemerintah mengumumkan bahwa terdapat dua orang lagi positif terjangkit virus yang pertama kali muncul di China itu.
Sumber: .republika.co.id
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1067

Banyak orang yang masih meremehkan orang-orang dengan pakaian sederhana.
Kejadian terkait pelecehan status sosial ternyata pernah terjadi terhadap pria yang satu ini.
Dikutip dari thevocket.com via suar.grid.id, Sabtu (2/3), seorang pengguna facebook bernama Ismail Ariffin alias Lepat membagikan video saat ia bersama temannya yang bernama Zainal Abidin Awang.
Keduanya saat itu mengunjungi sebuah butik tas bermerk mahal Louis Vuitton di Kuala Lumpur, Malaysia.
Namun ketika memasuki butik, keduanya merasa tidak dilayani dengan baik malah terkesan dianggap kere, kampungan dan rendah.
Bagaimana tidak, karyawan butik melihat Zainal dan Ismail hanya mengenakan kaos oblong, celana pendek dan sandal.
Apalagi Ismail berambut gimbal yang dianggap oleh karyawan butik orang tak berduit.
Padahal keduanya datang ke butik tersebut untuk mencetakkan label nama pada tas yang telah mereka beli tiga hari sebelumnya.
Namun pihak toko malah menolaknya.
Merasa dihina, Zainal kemudian membeli sebuah tas berharga 7.159 dolar AS atau setara Rp101.142.352 secara cash.
Ia kemudian meminta gunting dan memotong tas seharga Rp 100 juta itu di depan karyawan butik sebagai balasan atas penghinaan yang mereka terima.
"Saya minta maaf tapi saya tidak bisa menerima itu ketika teman saya dan ras kita dihina di tanah air kita sendiri," kata Zainal dikutip dari The Star Online.
Karyawan butik hanya bisa melongo melihat kelakuan Zainal, mereka malu karena menilai orang hanya dari penampilannya saja.
Diketahui tas yang digunting oleh Zainal adal tas limited edition Louis Vuitton x Takashi Murakami.
Ismail yang memvideokan kejadian ini lantas mengunggahnya di media sosial yang lantas viral.
Sumber: https://hot.grid.id
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 876