Top Stories
-
HP Mulai Ditinggalkan di 2026, Ramai-ramai Beralih ke Penggantinya
-
Nasabah Menjerit di DPR: Bank Muamalat Diduga Gelapkan Dana Miliaran
-
China Berlakukan Wajib Steer-By-Wire Untuk Semua Mobil
-
Medan Perang Durian di Tiongkok
-
Pesan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 oleh Ketua DPC Garda Kamtibmas Kota Medan
-
Kasus Gagal Ginjal Meledak di Dunia, Ini Penyebabnya
Search
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 618
Perilaku Konsumen

Prilaku konsumen
Oleh: Wawan Suwandi
Mungkin anda pernah baca buku consumer behaviour atau prilaku konsumen. Atau anda pernah mengikuti training broker pasar uang atau financial planner. Yang bertugas menawarkan program investasi atau asuransi kepada clients. Pasti disitu diajarkan cara mempengaruhi konsument. Diantaranya adalah bagaimana meyakinkan orang lewat emosi rakus. “ Kemarin client kami ikut program investasi yang kami tawarkan. Sudah sukses beli rumah seharga sekian miliar. ( tunjukan photo rumah dan clients itu).
Ada juga salah satu clients teman saya. Uang pensiunnya dipakai untuk program investasi ini. Dia senang sekali. Di masa pensiun uang yang tidak seberapa. Ternyata telah membuat dia aman secara financial. Walau dia sakit, semua biaya ditanggung asuransi dan uangnya tidak berkurang. Bahkan terus bertambah. ( biasanya diperlihatkan photo CEO perusahaan yang plamboyan dan berhati mulya.)
Perhatikan cerita diatas. “ Beri orang ilusi tentang kekayaan. Kalau tidak, beri orang illusi rasa aman. Keduanya, akan menjadikan dia dungu. Tidak sulit memindahkan uangnya ke kantong anda.” Itu berlaku kepada produk apa saja. Termasuk politik. Makanya, seorang Ustad tidak ragu memprovokasi orang untuk membeli saham A. Madoft menggunakan tokoh Gereja untuk meyakinkan yayasan amal dan kampus untuk berinvestasi dalam programnya. Banyak pemilik merek yang menggunakan artis tenar dan kaya sebagai bintang iklan. Targetnya, orang yang ingin merasa kaya ketika membeli merek.
Kalau anda perhatikan jutaan subscribe artis tenar dan influencer di Youtube, itu sebagian besar orang yang terobsesi dengan kehidupan glamour atau kehidupan orang kaya. Mungkin saja mereka tidak begitu. Tetapi tanpa disadari alam bawah sadar ikut like and subscriber. Artinya alam bawah sadar orang memang penuh dengan emosi dan mimpi kaya dan aman. Tanpa upaya keras kepada diri sendiri, sulit untuk menghilangkan atau mengendalikan fantasi akan emosi dan rasa aman dalam jiwa itu. Dan itulah hebatnya ilmu consumer behaviour.
Apakah efektif teori Consumer Behaviour itu? Ketua Satgas Waspada Investasi OJK Tongam L Tobing memperkirakan kerugian masyarakat akibat penipuan investasi bodong di Indonesia mencapai Rp 92 triliun sepanjang 10 tahun terakhir. Jumlah uang sebesar itu tidak kecil loh. Ada ratusan ribu atau mungkin jutaan orang jadi korban. Belum lagi, puluhan juta like and subcriber Youtube itu. Walau penonton tidak diminta keluar uang secara langsung, namun secara tidak langsung penonton sudah menyumbang uang kepada mereka.
Jadi bagaimana menghindari jebakan consumer behaviour itu? Ada pepatah China. Orang pintar dan berilmu dia cenderung tidak mempengaruhi anda untuk mengikutinya, tetapi mengajak anda berpikir. Orang kaya tidak menunjukan kekayaanya, tetapi menanamkan nilai moral kekayaan lewat kesederhaan. Hiduplah sederhana dan jadilah diri anda sendiri, tentu tahu batasan diri anda. Belilah karena kebutuhan, bukan keinginan. Karena apapun di dunia ini tidak ada yang rumit. Yang rumit itu karena bokek tapi keinginannya beli mercy.
Sumber: https://www.facebook.com/100014725653904/posts/1314804749020368/