Top Stories
-
Apa Itu Indeks LQ45, Kriteria dan Daftar Sahamnya
-
Liquiditas Dalam Saham
-
Jangan Pernah Memohon Kesempatan Kepada Siapapun, Ciptakan Kesempatan Untuk Dirimu Sendiri!
-
KPK Ungkap Ketum PP Japto Terima Jatah Bulanan dari Pengamanan Tambang
-
Jangan Pernah Minta Saran Tentang Keuangan Kepada Orang yang Tidak Memiliki Uang Lebih Banyak daripada Dirimu!
-
Berkedok Naikkan PAD, Pemdes Citeureup Pungut Uang ke Perusahaan Jelang Lebaran
-
Trading Smart, Konsisten Cuan!
-
Peneliti dari Pohang Korea Selatan Temukan Inovasi Baru Baterai Silikon yang Dapat Menghapus Ketergantungan pada Bahan Bakar Minyak
-
7 Level Menabung Emas: Panduan Lengkap Membangun Kekayaan dari Sekarang
Search
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 433

Imelda Santi (40), warga Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin melapor ke Polda Sumatera Selatan karena merasa sang suami dijebak polisi atas kasus narkoba.
Imelda datang ke Polda Sumsel bersama kuasa hukumnya pada Senin (10/4/2023). Kasus tersebut terjadi pada 21 Maret 2023.
Saat itu, mereka seperti biasa membuka toko beras milik mereka yang berada di Kecamatan Sungai Lilin. Lalu datang seorang pria tak dikenal membeli beras sebanyak lima kilogram di tokonya.
Selang beberapa menit, datang anggota polisi dan menggeledah toko mereka. Polisi kemudian memeriksa suaminya, Sahabudin (43) hingga ditemukan dia butir pil ekstasi.
Imelda menyebut suaminya tak pergi ke mana pun sehingga ia menduga kuat pil ekstasi yang ada di dalam toko sengaja diselipkan untuk menjebak Sahabudin.
“Saya yakin suami saya dijebak aparat, saya minta keadilan,” kata Imelda, Selasa.
Menurut Imelda, selama ini ia dan suami berdagang sembako di kampung meraka. Sang suami pun sehari-hari berada di toko membantunya berdagang.
“Tidak pernah sekalipun suami saya menggunakan narkoba,” tegasnya.
Sementara itu, kuasa hukum korban Rizal Faisal Ismed menerangkan, kliennya itu saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka atas tuduhan kepemilikan narkoba.
Sumber: FB Kompas.com
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 455

Bosco Odonga berusia enam tahun ketika dia diberikan parang oleh pemberontak Uganda yang dipimpin oleh Joseph Kony. Pemberontak memaksanya untuk membunuh adik perempuannya yang masih berusia lima tahun; Juli. Bosco terpaksa membunuh saudara perempuannya itu. Komandan pemberontak mengarahkan laras senjatanya ke arah Bosco dan berkata: "Tebas dia dan lakukan dengan cepat!" Rasa iba Bosco diringkus oleh tembakan sang komandan ke udara.
Saat itulah hatinya mengecil dan Bosco tidak punya pilihan. Dia mengangkat tangan untuk menarik Juli keluar dari kerumunan, dan adiknya mulai menangis. Lalu dia berbisik kepada adiknya: "Maafkan aku, Juli. Aku harus melakukan ini." Sang komandan menepuk pundak Bosco sekali lagi - akhirnya dia mengayunkan parangnya sambil memejamkan mata.
Juli tewas bersimbah darah karena kaki kecilnya dianggap tidak mampu mengimbangi langkah para pemberontak saat berpindah ke lokasi berikutnya. Ia terlalu lemah untuk menembus hutan dan menyeberangi sungai. Ia menghambat gerak cepat pasukan dan dia harus dihabisi.
Di Afrika sebagian anak "dipetik" paksa sebelum waktunya, diajari mematikan orang lain ketika mereka baru saja belajar tentang kehidupan. Senjata yang dipanggul hampir menyamai tinggi tubuhnya, tapi nyawa musuh adalah sepiring pisang bakar dan sekerat daging rusa. Mereka menukar makan malam dengan regang nyawa, miliknya atau orang lain.
Hari-hari di belantara Afrika dan di lembah-lembah Arab, adalah kehidupan masa kecil yang jauh dari gemerlap. Di sana hampir 20 juta anak terlibat dalam perang. Anak-anak yang berhasil melampaui perjalanannya, mengalami trauma, depresi, menjadi pecandu Narkoba atau terkena penyakit psikosomatis. Sebagian lagi insomnia karena setiap pejam mata adalah kisah getir, setiap cium adalah bau anyir, setiap dengar adalah bunyi senapan- seluruh hidupnya penuh desing mesiu.
Anak-anak adalah akselerasi, mereka energi masa depan. Mereka memiliki hak waktu untuk bersenda gurau di tanah lapang atau meniup suling di punggung kerbau. Disini, semua itu juga hampir menguap - berganti perang maya di pojok kamar, saling tembak digital bersama teman-temannya di belahan lain. Kepolosan anak-anak mulai hilang, peradaban yang brutal merampasnya agar masa depan datang lebih cepat lalu merasa lebih tua sebelum waktunya.
*Kisah ini diceritakan oleh Bosco di The Guardian dan Time Magazine. Saat ini Bosco menetap di Rusia dan menjadi dokter ahli kardiologi.
Sumber: https://twitter.com/islah_bahrawi/status/1650761316221739010?t=RoVuy9-6gVKuqv7KhnDRcA&s=08
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 491
Foto: Momen keributan pemudik di Pelabuhan Bakauheni karena kesal diserobot kendaraan lain (Istimewa)
Sejumlah pemudik mengamuk karena tidak terima diserobot oleh sejumlah kendaraan saat mengantre di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Lampung. Mereka mengamuk karena sudah mengantre namun diserobot kendaraan lain.
Peristiwa itu terjadi pada Senin (24/4/2023) sore. Video saat sejumlah pemudik itu ngamuk pun beredar.
Dalam video terlihat sejumlah pemudik itu meluapkan kekesalannya kepada petugas yang berjaga di sekitar lokasi. Mereka tidak terima diserobot sejumlah mobil yang masuk kapal mendahului mereka yang sudah mengantre sejak lama.
Di dalam video terlihat ada petugas kepolisian yang mencoba menenangkan para pemudik itu. Namun para pemudik itu tetap meluapkan emosinya.
"Kalau mau ngomong di depan kamera, itu oknum pejabat yang masuk. Kami nunggu sudah lama loh Pak, empat jam," kata salah seorang pemudik yang ikut menyampaikan protes, Adit dalam video itu.
Kepada detikSumut, Adit mengaku kesal karena diserobot sejumlah kendaraan saat hendak masuk ke dalam kapal. Dia menyebut kendaraan yang menyerobot adalah sejumlah mobil yang dikawal sejumlah sepeda motor.
"Empat jam lebih kami tadi ngantre untuk bisa masuk ke kapal. Terus mendekati mobil saya masuk, itu ada tujuh mobil masuk ke dalam kapal di kawal pake motor. Mobilnya tadi Range Rover, Alphard, Inova tadi saya lihatnya," ucap Adit kepada wartawan.
Karena diserobot sejumlah kendaraan itu, sebut Adit, dirinya harus menunggu lebih lama untuk bisa naik ke kapal. Dia harus menunggu kapal lainnya untuk bisa menyeberang dari Bakauheni ke Merak, Banten.
"Iya nunggu lagi, maksud saya itu kenapa kok bisa begitu. Apakah ini oknum atau gimana, jadi minta tolong sama Pak Erick Thohir dan Pak Jokowi untuk diperhatikan," ujar dia.
Adit pun mengaku kesal dengan peristiwa itu. Apalagi, kata Adit, dia diserobot saat waktunya masuk ke kapal.
"Iya sangat menyesalkan, kalau memang mobil itu tadi ikut ngantre sih nggak masalah. Tapi ini detik terakhir main masuk aja, kami di sini sudah ngantri empat jam lebih loh," jelas Adit.
Hingga kini, belum ada keterangan dari pihak PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Bakauheni terkait peristiwa ini.
Sumber: detik.com
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 415
Paku di Dalam Perut Wawan asal Tasikmalaya (Foto: Deden RahadianP)
Kisah almarhum Wawan, warga Bebedahan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Jabar, tentu masih melekat dalam ingatan. Wawan wafat pada 2017 silam.
Kisah Wawan ini sempat ramai, sebab terdapat banyak paku di perutnya. Ia pun merasakan sakit yang luar biasa hingga dirujuk ke rumah sakit.
Tim Jabar X-Files akan mengulas kisah almarhum Wawan yang pernah ramai pada 2017 silam. Kisah itu menyisakan duka dan keprihatinan. Paku-paku itu bersarang di perut almarhum Wawan. Keluarga Wawan kala itu menunjukkan foto rontgen, 48 paku berkarat bersarang di perut Wawan dan tersebar di beberapa titik.
Wawan kesakitan. Paku-paku itu melukai tubuhnya. Bahkan, beberapa di antarannya tembus ke kulit luar. Risiko pendarahan tinggi. Petugas medis langsung membalutkan perban di kulit yang tertusuk paku. Saat foto rontgen ditunjukkan tim detikJabar, Wawan kala itu sudah dirawat dua hari di RSUD Dokter Soekardjo, Tasikmalaya.
"Sudah dua hari dirawatnya. Diagnosa medis sakit dalam perut itu ada paku tajam. Banyak pakunya," kata Nandang yang saat diwawancarai masih berusia 18 tahun di RSUD Dokter Soekardjo pada Selasa, 31 Oktober 2017.
Ini Wujud Paku yang Dikeluarkan Dokter Dalam Perut Wawan Foto: Deden Rahadian
Ada paku di perut, tentu memunculkan banyak spekulasi. Termasuk soal hal-hal yang nonmedis. Keluarga juga mengaku tidak tahu tentang kemunculan paku di dalam perut Wawan. Sudah dua bulanan Wawan merasakan sakit yang begitu luar biasa karena paku.
"Nggak tahu kenapa penyebabnya," ujar Nandang.
Namun, hal-hal nonmedis atau mistis itu dipatahkan dengan hasil pemeriksaan dokter RSUD Dokter Soekardjo. Wawan mengaku kepada dokter telah mengonsumsi paku dalam beberapa bulan terakhir.
Kabid Pelayanan RSUD Dokter Soekardjo Budi Tirmadi menjelaskan paku bersarang di dalam perut ini akibat kebiasaan tak lazim Wawan. Bapak dua anak itu mengaku kerap memakan paku berbagai ukuran saat bekerja di proyek bangunan.
"Sudah dua bulan lebih pasien punya kebiasaan makan paku," kata Budi.
Almarhum Wawan menjalani perawatan selama 11 hari di RSUD. Nyawanya tak tertolong. Wawan meninggal dunia di rumah sakit.
Sumber: detik.com
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 531
Jenazah Soeprayitno setelah tewas dibacok Choirul Anwar dievakuasi ke RSU dr Soetomo (Foto: File detikcom)
SitindaonNews.Com, || Surabaya - Nasib apes dialami Choirul Anwar. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan itu kena gerebek anggota Polsek Rungkut, Surabaya. Hasilnya, sebuah bong bekas pakai ditemukan di rumah kosnya.
Penemuan itu sudah cukup untuk membawa pria kelahiran 1987 itu ke kantor polisi. Di sana, ia lalu dicecar penyidik terkait kepemilikan alat isap sabu di rumah kosnya itu.
Dengan lugu, Anwar menyebut bahwa bong tersebut milik temannya Soeprayitno yang dititipkan kepadanya sebulan sebelum dia ditangkap. Tapi polisi tak begitu saja ucapan Anwar.
Sekitar sebulan sebelum ditangkap, Anwar memang pernah nyabu bersama Soeprayitno. Mereka mengisap sabu di Desa Tambhin, Bangkalan, Madura.
Setelah nyabu bareng, Soeprayitno menitipkan bong yang dipakai di rumah kos Anwar. Tapi, nahas, ia diciduk polisi gegara titipan alat isap serbuk setan itu.
Anwar selanjutnya dites urine di kantor polisi. Hasilnya, Anwar dinyatakan negatif. Tapi polisi tak begitu saja melepaskan Anwar.
Untuk bebas, ia harus menyerahkan uang sebesar Rp 10 juta sebagai jaminannya kepada polisi.
Dengan berat hati, Anwar menyerahkan uang Rp 10 juta agar tak diproses hukum. Anwar pun dibebaskan dari kasus narkoba yang menjeratnya. Belakangan diketahui pemberi informasi dirinya pemakai narkoba tak lain adalah Soeprayitno.
Dendam kesumat Anwar kepada Soeprayitno pun tumbuh. Anwar dendam karena orang yang mengajaknya nyabu ternyata cepu atau informan polisi. Sehari-hari, Soeprayitno berprofesi sebagai wartawan berita mingguan.
Sepulang dari kantor polisi, Anwar berencana membuat perhitungan dengan Soeprayitno. Ia merencanakan untuk membunuhnya. Lantaran ulahnya ia harus berurusan dengan polisi dan kehilangan uang Rp 10 juta.
Jumat, 10 Mei 2019, Anwar benar-benar membuat perhitungan dengan Soeprayitno. Ia lalu mengambil pisau penghabisan dari atas almari di rumahnya. Selanjutnya ia menyimpan pisau tersebut di jok motor.
Dengan mengendarai motor Yamaha Mio Soul nopol L 2581 SU ia mengajak serta Masyur, kakaknya. Ia mengendarai motor warna putih biru itu dengan membonceng Mansyur dan berangkat dari rumahnya di Wonokusumo, Semampir.
Mereka melaju ke arah rumah Soeprayitno di Tanah Merah. Di rumah itu, Anwar hanya ditemui istri tua Soeprayitno. Saat itu, Anwar mendapat jawaban bahwa Soeprayitno sedang di rumah istri mudanya di gang sebelah.
Sedangkan, Masyur, meski diajak, rupanya tak tahu apa yang hendak dilakukan adiknya itu dengan Soeprayitno. Keduanya pun meluncur ke gang sebelah saat warga sepulang dari melaksanakan salat tarawih.
Benar saja, di sana Anwar menjumpai Soeprayitno yang sedang duduk-duduk di pojokan warung kopi giras. Anwar selanjutnya langsung menghampirinya. Keduanya lalu terlibat adu mulut.
Soeprayitno sempat membantah tuduhan Anwar yang telah memberi informasi ke polisi. Darah Anwar semakin mendidih, ia langsung menuju motor dan membuka jok untuk mengambil pisau.
Mansyur yang mengetahui itu sebenarnya sempat mencegah aksi main hakim sendiri adiknya. Keduanya bahkan saling tarik dan dorong. Mansyur lalu menyuruh Soeprayitno lari.
Anwar selanjutnya mendorong Mansyur sekuat tenaga dan terjatuh. Anwar mengejar dengan motor kemudian menyabetkan pisau ke tubuh Soeprayitno berkali-kali hingga terjatuh ke selokan.
Puas menuntaskan dendamnya terhadap Soeprayitno, Anwar lalu pulang. Sedangkan kondisi Soeprayitno yang berlumuran darah ternyata masih hidup. Ia kemudian ditolong warga dan dilarikan ke rumah sakit.Choirul Anwar saat dirilis di Polres Pelabuhan Tanjung Perak (Foto: File detikcom)
Tapi tiga hari setelah kejadian itu, Anwar ternyata menyerahkan diri ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Ia mengakui semua perbuatannya dan siap bertanggung jawab. Ia dijerat 340 KUHP.
"Motifnya adalah sakit hati dan dendam dengan korban," kata Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak saat itu AKBP Antonius Agus Rahmanto saat itu.
Rabu, 16 November 2019, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menjatuhkan vonis 12 tahun pidana penjara terhadap Choirul Anwar. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan jaksa sebelumnya yakni 20 tahun bui.
"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Choirul Anwar dengan pidana penjara selama 12 tahun," kata hakim ketua Slamet Riadi membacakan amar putusan didampingi hakim anggota Jihad Arkanuddin dan Eko Agus Siswanto.
Sumber: detik.com
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 599

Apakah kamu harus hidup sendirian di muka bumi ini???
"Dimusuhi karena tidak ber-Tuhan"
"Ber-Tuhan, tapi dimusuhi karena Tuhannya beda"
"Tuhannya sama, tapi dimusuhi karena Nabinya beda"
"Nabinya sama, tapi dimusuhi karena alirannya beda"
"Alirannya sama, tapi dimusuhi karena pendapatnya beda"
"Pendapatnya sama, tapi dimusuhi karena Partainya beda"
"Partainya sama, tapi dimusuhi karena pendapatannya beda"
Apakah kamu mau hidup sendirian di muka bumi untuk memuaskan nafsu keserakahanmu??
GBU all.
Sumber: Susan Tampubolon Hansen on FB