Top Stories
-
Apa Itu Indeks LQ45, Kriteria dan Daftar Sahamnya
-
Liquiditas Dalam Saham
-
Jangan Pernah Memohon Kesempatan Kepada Siapapun, Ciptakan Kesempatan Untuk Dirimu Sendiri!
-
KPK Ungkap Ketum PP Japto Terima Jatah Bulanan dari Pengamanan Tambang
-
Jangan Pernah Minta Saran Tentang Keuangan Kepada Orang yang Tidak Memiliki Uang Lebih Banyak daripada Dirimu!
-
Berkedok Naikkan PAD, Pemdes Citeureup Pungut Uang ke Perusahaan Jelang Lebaran
-
Trading Smart, Konsisten Cuan!
-
Peneliti dari Pohang Korea Selatan Temukan Inovasi Baru Baterai Silikon yang Dapat Menghapus Ketergantungan pada Bahan Bakar Minyak
-
7 Level Menabung Emas: Panduan Lengkap Membangun Kekayaan dari Sekarang
Search
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1211
Foto: Wanita bernama Ardilla Rahayu Pongoh (ARP) di Sorong, Papua Barat Daya menangis usai dituntut penjara seumur hidup.(Juhra Nasih/detikcom)
Sorong - Ardilla Rahayu Pongoh tega menghabisi nyawa suaminya yang juga anggota Brimob Polda Papua Barat, Brigadir Yones Fernando Siahaan pada 2018 silam. Terungkap, pelaku ternyata sempat keceplosan ke ayah korban menjelang pemakaman.
Ayah Brigadir Yones, Hulman Siahaan mengatakan jenazah anaknya sempat dibawa ke rumah sakit pada hari kematiannya, Rabu, 28 Agustus 2018 silam. Brigadir Yones saat itu awalnya dilaporkan melakukan aksi bunuh diri.
Selanjutnya jenazah Brigadir Yones tak lagi dibawa pulang ke rumah pribadinya, melainkan dibawa ke rumah ayahnya. Ardilla yang juga pelaku pembunuhan pun ikut ke rumah Hulman.
Saat di rumah Hulman itulah Ardilla tiba-tiba keceplos anmengaku kepada ayah mertuanya bahwa bukan dia yang membunuh suaminya. Padahal saat itu Hulman tidak menanyakan sesuatu terkait kematian putranya.
"Dia langsung bilang ke saya, Amang bukan saya yang bunuh, tanpa saya bertanya," kata Hulman kepada detikcom, Jumat (30/6/2023).
Namun Hulman saat itu tidak menyadari dengan pernyataan Ardilla tersebut. Brigadir Yones hingga dimakamkan tetap diduga meninggal karena bunuh diri.
Kondisi mulai berubah karena anak Brigadir Yones yang menyaksikan ayahnya sebenarnya dibunuh oleh Ardilla mulai menunjukkan gestur ketakutan pada saat pemakaman. Anak Brigadir Yones yang saat itu masih berusia 6 tahun juga ketakutan ketika melihat pamannya.
"Saksi anak ini mengalami ketakutan yang luar biasa setelah bapaknya kami kebumikan kami ingat betul malam setelah kami kuburkan, anak nangis berjam-jam dan teriak-teriak tidak ada satupun yang bisa menenangkan dia, termasuk mamanya Ardilla," kata Hulman.
Saksi Anak Bongkar Ayahnya Dibunuh Istri
Anak korban yang terus menangis akhirnya dibawa ke Jakarta. Pihak keluarga menganggap sang anak butuh dihibur agar lupa dengan kematian ayahnya.
Namun setelah tiba di Jakarta, sang anak masih saja kerap trauma, terutama saat melihat pria berperawakan hitam dan tinggi besar. Kondisi ini membuat sang anak dibawa ke Komnas Perlindungan Anak di Jakarta dan saat itulah saksi anak mengungkap bahwa ayahnya dibunuh oleh ibunya.
"Saksi anak menyampaikan kepada interviewers Komnas (Perlindungan Anak) bahwa bapaknya tidak bunuh diri tetapi dibunuh pada malam kejadian," ujar Hulman.
Saat Ungkap Ayah Dibunuh Ibu Selingkuh
Hulman mengatakan cucunya itu kerap menangis hingga kencing di celana usai menceritakan pembunuhan sadis yang menimpa ayahnya. Hingga kini sang anak masih trauma.
"Setelah saksi anak menceritakan hal tersebut saksi anak sering menangis diam bahkan terkencing-kencing di celana dan lari ketakutan kalau melihat maaf orang berperawakan hitam dan tinggi besar, karena orang yang membunuh bapaknya berperawakan hitam dan tinggi besar di Jakarta, bahkan sampai sekarang pun masih tetap begitu," kata Hulman.
Diketahui, saksi anak tersebut juga sudah bersaksi saat sidang kasus pembunuhan Brigadir Yones di Pengadilan Negeri (PN) Sorong. Pasalnya, anak korban secara tak sengaja menyaksikan ayahnya dibunuh oleh ibunya, Ardilla dibantu paman Ardilla, Andi Abdullah Pongoh dan tiga pria yang tak dikenal
Kronologi Pembunuhan Brigadir Yones
Kasus pembunuhan Brigadir Yones berawal dari pertengkaran hebat antara korban dengan istrinya, Ardilla Rahayu Pongoh pada Selasa, 28 Agustus 2018 silam. Pertengkaran tersebut terjadi karena Ardilla ketahuan selingkuh oleh sang suami.
Pertengkaran tersebut terjadi di rumah pasutri tersebut di Jalan Sorong Makbon Perumahan Bambu Kuning, Kelurahan Giwu, Kota Sorong. Pertengkaran tersebut disaksikan anak korban yang masih berusia 6 tahun.
Pertengkaran hebat kedua orang tuanya membuat saksi anak gelisah di kamarnya. Kegelisahan itu membuat saksi anak tak bisa memejamkan matanya hingga malam hari.
Anak Brigadir Yones yang gelisah dan tak bisa memejamkan matanya sejak Selasa (28/8/2018) malam itu kemudian mencoba mengintip dari balik gorden kamarnya pada Rabu (29/8/2018) dini hari. Saat itu anak korban bermaksud mencari tahu kondisi ayah dan ibunya usai pertengkaran hebat tersebut.
Saat mengintip, saksi anak justru melihat paman dari ibunya, Andi Abdullah Pongoh dan 3 orang pria yang tidak diketahui identitasnya. Keempat pria itu disebut berada di area dapur rumah.
"(Saksi anak-anak korban) yang gelisah dan belum tidur lalu melihat dari balik gorden kamarnya yaitu terdakwa II Andi Abdullah dan 3 pelaku lainnya yang tidak dikenali identitasnya sudah berada di rumah," demikian kronologi yang terungkap dalam dakwaan penuntut umum, dikutip dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri (PN) Sorong, Selasa (27/6).
Saat itu Brigadir Yones ternyata ada di dalam kamar mandi rumahnya. Andi Abdullah dan tiga pria yang tidak dikenal itu kemudian menyerang Brigadir Yones saat keluar dari kamar mandi.
"Terdakwa Andi Abdullah Pongoh bersama dengan 3 pelaku yang tidak diketahui identitasnya memegang tangan, kaki dan mencekik leher korban Yones Siahaan dengan cara 1 orang pelaku memegang kedua tangan dari arah depan korban," kata jaksa.
Satu orang pelaku disebut memegang kedua kaki Brigadir Yones. Sementara satu pelaku lainnya mencekik leher korban dari arah belakang.
"Korban sudah tidak bisa bergerak lagi kemudian dari arah belakang terdakwa II Andi Abdullah melayangkan kepal tinju (memukul) dari arah kepala belakang korban hingga korban terjatuh ke lantai dapur dan tidak berdaya lagi," kata jaksa.
Saksi anak yang melihat ayahnya dihabisi pelaku kian terkejut karena ibunya tiba-tiba datang membawa kabel berwarna merah. Sang ibu bersama-sama dengan pelaku lainnya menggantung ayahnya sebagai skenario kematian ayahnya karena bunuh diri.
"Dengan cara memindahkan korban di bawah pintu dapur dengan tetap terlilit kabel Eterna warna merah di leher korban Yohanes Fernando Siahaan," ungkap jaksa.
Hingga akhirnya aksi saksi anak mengintip dari balik gorden ketahuan oleh ibunya. Ardilla yang panik lantas mendatangi saksi anak atau putranya itu.
"Terdakwa I mengancam korban dengan mengatakan, kalau kamu bilang siapa-siapa, kubikin kayak bapakmu, mendengar hal tersebut membuat anak saksi anak menjadi ketakutan dan trauma terhadap terdakwa I. (Saksi anak) langsung naik ke tempat tidurnya lalu pura-pura tidur dan tidak mau melihat lagi terdakwa I," kata jaksa
Sumber: detik.com/sulsel
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 454

IDI JADI DURI BUAT IBU PERTIWI.
Beberapa waktu yll saya menulis ttg bagaimana bagusnya berobat ke negeri Jiran, khususnya Penang karena saya ada 6-7 kasus keluarga yg di selesaikan disana.
Pak Jokowi menyampaikan ada devisa melayang 163 triliun per tahun karena warga Indonesia berobat ke luar negeri.
Hari ini saya dikirimi foto Ikatan Dokter Indonesia demo, seperti gak mau kalah dgn buruh yg selalu ribut soal upah, lha IDI justru banyak masalahnya di tubuh IDI sendiri.
Demonya menolak RUU ombuslaw. Apa yg salah dgn RUU itu, kenapa IDI resinten dan arogan. Apa karena status organisasi ini profesional dan independen. Terus negara gak boleh ikut memberi masukan utk kebaikan. Hebat kali kalian. Mau buat kerajaan dalam negara.

Organisasi dokter Indonesia yg berdiri sejak 24 Oktober 1950 ini sebenarnya punya visi misi yg harusnya sudah tercapai. Karena organisasi ini sudah berusia 72 tahun, sudah kakek-kakek. Tapi kelakuannya merengek-rengek.
Ada 4 poin penting visi misi IDI.
1. Menjadikan IDI sebagai organisasi yg mandiri dan independen.
2. Solid dan berwibawa.
3. Kesejahteraan dokter dan profesional.
4. Menjadikan masyarakat sehat.
Poin 1, mungkin sudah tercapai, tergantung persepsinya.
Poin 2, Solid mungkin iya, berwibawa kayaknya nggak juga.
Poin 3, kesejahteraan dokter yg di perkotaan mungkin iya, karena banyak praktek dan berhubungan dgn pabrik farmasi. Jadi pemasar obat melalui resep.
Poin 4, kayaknya belum deh. Lha buktinya rakyat Indonesia masih 2 jutaan yg berobat keluar negeri.
Pasca saya menulis ttg berobat ke Penang banyak DM saya terima. Isinya malah nanya dr di Penang, sampai terakhir isunya mahasiswa kedokteran yg ngambil spesialis yg di ajak audiensi Kemenkes diancam IDI. Kalau memenuhi undangan Kemenkes diancam tak lulus.
Puncak nya demo itu kali.
Sampai sekarang yg lucu dan konyol kan sudah lama kita tau, bahwa dr tamatan luar gak diakui IDI. Dr. Gunawan yg praktek di RS Singapura, dia orang Indonesia, perawatnya orang Indonesia, adminnya orang Indonesia, yg berobat orang Indonesia. RS nya di Singapura. Kekonyolan ini hanya karena IDI tak mengakui ybs.
Iki jar pie Dul. Saya orang Indonesia yg bukan dr bukan dukun saja malu dengarnya. Saya kok jadi suuzhon jangan-jangan IDI ini perwakilan RS dari luar negeri yg sengaja membuat orang Indonesia sulit berobat dan tak sembuh di Indonesia agar terbang ke RS Jiran.
Terus konon ngambil dr spesialis di dalam negeri susahnya ampun, ada kesan di persulit, mahal, sampai banyak dr yg stress karena harus melayani permintaan macam-macam dari dr seniornya. Dari mulai karaoke, spa, sampai maaf minta di Carikan PSK. Padahal Indonesia masih kekurangan dr spesialis menurut kemenkes sebanyak 30.000 dr. Yg ada skrg baru 43.000 dari jumlah dr yg baru 124.000 di Indonesia.
Artinya rasio dr spesialis harusnya 60% dari total dr. Skrg baru mencapai 35%, terus ini kapan dicapainya kalau kelakuan seniornya bocor semua. Belum lagi ketimpangan penyebaran dr pada wilayah Indonesia. Di pulau Jawa rata-rata 1: 2.000 atau 1 dr untuk 2.000 orang. Atau 0,05%.

Rata-rata nasional 1 dr utk 2.200 orang. Tapi di Papua 1 dr utk 4.200 orang. Sementara di DKI 1 dr utk 400 orang. Saya pernah dengar di Jakarta 1 puskesman dgn 4 dr. Di Papua 1dr utk 4 puskesmas. Jadi kalau ada yg kritis pada satu puskesmas, saat dr nya sampai yg sakit sudah mati duluan.

Standar who 1 dr utk 1.000 orang, di negara maju saat ini sudah ada yg 3:1.000 malah ada yg menuju 5:1.000.
Rasio dr di Asean
1. Singapura 1,61%
2. Malaysia 1,54%
3. Timor Leste 0,77%
4. Myanmar ,0,74%
5. Philipina 0,60%
6. Indonesia 0,47%
Ini fakta ya yg mulia dr Indonesia. Ini harusnya PR kalian. Jangan kalian mengejar kesejahteraan, rakyat nya penyakitan.
Kesimpulannya IDI jgn dikasi hati. Negara ini butuh dr yg punya hati, bukan dr yg tinggi hati. Merasa menjadi masyarakat kelas utama, padahal ya kalau kaya duitnya dari orang sakit juga.
Pemerintah harus segera bertindak tegas, buat pilot project, mudahkan mahasiswa yg mau kuliah kedokteran, kalau perlu di gratiskan. Karena saat ini universitas kedokteran adalah universitas Borjuis, mahal, anak orang miskin pasti sampai batas kepingin saja utk jadi dokter.
Waktunya mendesak, pemerintahan Jokowi habis sebentar lagi. Ganjar harus siap menghajar organisasi apa saja yg kurang ajar.
DIDALAM TUBUH YG SEHAT, TERDAPAT PIKIRAN YG SEHAT. TAPI KALAU DOKTERNYA SESAT, RAKYAT DAN NEGARANYA SEKARAT.
Iyyas subiyakto
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 534
One of the few women who ruled ancient Egypt, Cleopatra VII was destined to be the last of her dynasty. But while she's often thought to be a great beauty who seduced Julius Caesar and Mark Antony, historians aren't sure what Cleopatra looked like.
PHOTOGRAPH BY CHRISTIE'S IMAGES / BRIDGEMAN IMAGES
She ruled Egypt and seduced the Romans. But who was Cleopatra?
The legendary pharaoh is known for using her political savvy and considerable charm to gain power. But, in truth, there’s little we know for sure about her life.
BYERIN BLAKEMORE
PUBLISHED APRIL 28, 2023
9 MIN READ
Was she beautiful? Debatable. Was she charming? Probably. Was she politically astute and bent on using both her gender and her outsized power to further her needs? Certainly.
Perhaps no historical figure has so enflamed passions—and debates—than Cleopatra VII. Destined to be the last of her dynasty, the Egyptian pharaoh used seduction and political savvy to further the interests of ancient Egypt in the face of Roman expansion.
But though she is one of the best-known women in history, there’s little that historians and archaeologists can say for sure about Cleopatra. Here’s what is known about the legendary, yet mysterious, queen.
Who was Cleopatra?
Born to Egyptian king Ptolemy XII Auletes and an unknown mother in 69 B.C., Cleopatra was a member of an ancient Greek dynasty that had taken over Egypt in 305 B.C.
(Should women rule the world? The queens of ancient Egypt say yes)
Though the Ptolemaic Kingdom had adopted some Egyptian religious traditions, it ruled from the largely Greek city of Alexandria. As a result, Cleopatra grew up speaking Koine Greek, though she was reportedly the only one of her lineage to also learn Egyptian. Her life would be inextricably bound to unrest in Egypt—and the politics of the Roman Empire.


Top: This ragment of a bas-relief bears the image of Cleopatra—or at least what the artist believed Cleopatra may have looked like.
G. DAGLI ORTI /© NPL - DEA PICTURE LIBRARY / BRIDGEMAN IMAGES
Bottom: A bronze coin with the profile of Cleopatra wearing a diadem. Coins found bearing her image tell conflicting stories of what Cleopatra might have looked like.
PHOTOGRAPHS BY KENNETH GARRETT, NAT GEO IMAGE COLLECTION
How did she come to rule Egypt?
When her father died in 51 B.C. Cleopatra, then 18, was plunged into a controversy over which of Ptolemy XII’s children should rule Egypt. At first, she ruled jointly with the younger Ptolemy XIII, even marrying him in a nod to Egyptian tradition. But the young king wanted the throne for himself, and civil war soon broke out as they formed factions to help them gain full power. In response, Cleopatra briefly fled to Roman-controlled Syria.
Cleopatra’s father had been sympathetic to—and reliant on—Rome during his rule. The warring siblings were no different, and they quickly aligned themselves with different sides in Rome’s own brewing civil war. From her exile in Syria, Cleopatra turned to Julius Caesar, then a general and politician intent on becoming Rome’s sole dictator, for help regaining her throne.
Cleopatra and Julius Caesar
Despite a dramatic age difference—Caesar was about 30 years older than Cleopatra—and the fact that he was married, they began a romantic relationship, and he pledged his support for her.
In 47 B.C., while fleeing Caesar’s troops, Ptolemy XIII drowned in the Nile River near Alexandria. With Egypt in the hands of Caesar, Cleopatra took back the throne as her own, swiftly married her 12-year-old brother, Ptolemy XIV, and declared him her co-ruler. She gave birth to a child her contemporaries assumed to be Caesar’s son, whom she named Caesarion. (No, this is not the origin of the term “cesarean section.”)
(Egypt's last pharaoh was the 'love child' of Caesar and Cleopatra)
Cleopatra and Caesar’s relationship lasted until his murder on the Ides of March in 44 B.C., at the hands of his enemies in the Senate.
Cleopatra had been on an extended visit to Rome at the time of Caesar’s murder and briefly remained there in the hopes of convincing the Romans to recognize Caesarion as the rightful heir of Roman power. Soon, though, she returned to Alexandria, where she is thought to have had her brother assassinated by poison before taking up her throne once more alongside Caesarion.
Antony and Cleopatra

PHOTOGRAPH BY THE HOLBARN ARCHIVE / BRIDGEMAN IMAGES
Caesar was dead, but Cleopatra’s relationship with Rome was far from over. Roman general Mark Antony—who had ascended to power as one of Rome’s three joint leaders, or triumvirs—demanded a meeting with Cleopatra in an effort to continue the Egyptian-Roman alliance. Eager to maintain Egypt’s close relationship with Rome, Cleopatra traveled to Tarsus in modern-day Turkey to meet him in 41 B.C.
Cleopatra is believed to have arrived in Tarsus in high style on a sumptuous barge. “Cleopatra invested her ocean excursions with carefully chosen costumes, divine associations, expensive textiles and jewels, music, and exotic essences,” writes art historian Diana E. E. Kleiner. The pharaoh meant to impress, and it worked. Almost immediately, she began a torrid love affair with the married Antony, who moved to Alexandria to be with her.
The fall off Cleopatra
But Antony’s infatuation with Cleopatra—and the reputed excesses of their life in the Egyptian seat of power—led to both their downfalls. The Roman ruler plunged into outright war with his co-triumvirs and his own people, who resented what they saw as Egypt’s influence in Roman affairs.
(Inside the decadent love affair of Cleopatra and Mark Antony)
After a battle in 30 B.C., the Egyptian queen realized that Antony’s troops were headed to total defeat. So she barricaded herself in her royal mausoleum and told Antony she planned to kill herself. In response, Antony stabbed himself, eventually dying in her arms.
Cleopatra attempted to negotiate with Octavian, her lover’s former co-ruler, but when she realized he intended to take her captive and parade her in the streets as a prize, she again barricaded herself in her tomb with some servants and killed herself, likely with poison. The rule of her dynasty was over, and Egypt was taken over by Rome.
What we don't know about Cleopatra

Cleopatra's death has been dramatized many times throughout history—most notably in Shakespeare's Antony & Cleopatra—but historians have found little evidence of how her life ended.
PHOTOGRAPH BY TARKER / BRIDGEMAN IMAGES
Legend has it that Cleopatra took her life with the help of a poisonous viper called an asp, but there is no proof. Nor have archaeologists ever found the mausoleum where she, and likely Antony, died. As Chip Brown wrote for National Geographic's July 2011 issue, “Most of the glory that was ancient Alexandria now lies about 20 feet underwater.”
There’s also no way to gauge the accuracy of historical portrayals of the queen, which are deeply contradictory and show the biases of their time. Some extant coins show Cleopatra as a plain-looking woman, while others depict a mirror image of Antony, reflecting their makers’ opinions about the female ruler’s liaison with her Roman lover. Debates also still rage about Cleopatra’s race, although historians point out that not only do we not know for sure but our entire concept of race didn’t exist in Cleopatra’s time.
(Searching for the true face—and the burial place—of Cleopatra.)
Written sources about Cleopatra are also scant. The library of Alexandria was destroyed multiple times, taking contemporary accounts of Cleopatra with it. According to the ancient chronicler Plutarch, whose biography of Antony is one of the most detailed accounts of Cleopatra’s reign, Cleopatra was a woman of “the most brilliant beauty and...at the acme of intellectual power.” But he wrote about the Egyptian queen hundreds of years after her death—and brought a decidedly Roman viewpoint to his work on the queen.
Despite our lack of understanding of Cleopatra’s life, she remains relevant today. From Shakespearean tragedy to Netflix docudrama, she has gained a nearly legendary reputation as a wily politician with an almost superhuman ability to seduce.
Though the former was almost certainly true, we may never know why some of the world’s most powerful men succumbed to Cleopatra’s charms. What is certain is that, more than 2,000 years after her death, the woman who so cannily ruled men—and her people—still manages to enchant and mystify modern audiences.
Source: nationalgeographic
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 592

"Dukun Ahmad Suradji membunuh 42 perempuan selama sembilan tahun. Mati di tangan regu eksekusi."
Pada malam yang sunyi, tepat pukul 22.00 WIB, terdengar letusan dari perkebunan karet di Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut). Kilatan cahaya terlihat dari balik rimbun pepohonan. Suara letusan dan kilatan cahaya itu ternyata berasal dari senapan milik tim eksekutor personel Satuan Brigade Mobil (Brimob) Polda Sumut yang menyalak.
Dari 12 senapan yang dipegang oleh 12 eksekutor, hanya tiga yang berisi peluru tajam dan tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahuinya. Tiga butir pelor melesat mengenai sasaran berjarak 10 meter dengan kecepatan 900 meter per detik, menembus dada kiri seorang laki-laki yang matanya tertutup dan kaki-tangannya diikat di pohon.
Dukun Ahmad Suradji di persidangan
Foto : Istimewa.
Laki-laki yang dieksekusi mati malam itu adalah Ahmad Suradji, warga Desa Sei Semayang, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang. Suradji, yang saat itu berusia 59 tahun, merupakan terpidana mati kasus pembunuhan 42 perempuan di Sumut. Dia menghabisi korban-korbannya itu dengan dalih menambah kesaktian ilmunya. Selain petani, Suradji dikenal sebagai dukun. Kawan dan tetangganya sering memanggilnya Nasib Klewang karena Suradji sering menenteng golok saat bertani.
Ada permintaan terakhir AS, yakni bertemu dengan istrinya dan itu sudah dipenuhi.”
Suradji dieksekusi mati setelah Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menolak pengajuan grasinya bersama terpidana mati lainnya pada 22 November 2007. Perjalanan hidup Dukun AS, begitu semua media massa kala itu menjulukinya, berakhir. Ia membunuh 42 korban selama sembilan tahun sepanjang 1986 hingga 1997.
Dari hasil penyelidikan polisi, semua korban merupakan pasien yang datang ke rumah Suradji di Dusun Aman Damai. Semua perempuan itu ingin mendapatkan ilmu pengasihan atau penglaris dari Suradji. Ia meminta setiap kliennya yang datang membawa kembang telon, kemenyan putih, kemenyan arab (buhur), dan sepasang jeruk purut.
Syarat lainnya, harus bersedia diikat dan dikubur setengah badan di tempat yang sunyi pada malam hari. Syarat lainnya, pasien tak boleh memberitahukan ritual itu kepada orang lain. Korban pertama Suradji adalah perempuan bernama Tukiyem alias Iyem. Korban datang ke rumah Suradji pada Desember 1986 pukul 18.00 WIB.
Iyem ingin mendapatkan kesuksesan hidup dari Suradji. Setelah Iyem mengutarakan maksudnya, dukun itu mengajaknya ke area perkebunan tebu Sei Semayang, yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Saat keluar, Suradji membawa cangkul, tali, dan karung. Sedangkan Iyem membuntutinya di belakang.
Langkah mereka terhenti setelah menemukan lokasi yang cocok untuk ritual ilmu pengasihan itu. Suradji meminta Iyem memegang senter untuk menerangi tanah yang bakal digalinya. Suradji menggali lubang sedalam 1 meter. Panjang lubang sekitar 1 meter dan lebar 70 cm. Karena biasa mencangkul, tak butuh lama bagi Suradji untuk membuat lubang seukuran itu.
Suradji lalu meminta Iyem masuk ke lubang. Kedua kaki dan tangan Iyem diikat tali sambil berdiri. Setelah itu, Suradji naik, lalu menguruk lagi lubang dengan tanah. Tubuh Iyem terkubur mulai kaki hingga dadanya. Sejurus kemudian, Suradji jongkok di hadapan Iyem.
Suradji menyandarkan kepala Tukiyem di atas paha kakinya. Tiba-tiba, tangan kiri Suradji menutup mulut dan hidung wanita itu. Sedangkan tangan kanannya mencekik leher Iyem. Praktis, korban tak bisa berontak karena hampir seluruh badannya sudah terkubur di dalam tanah. Dalam hitungan menit, nyawa Iyem pun melayang, meninggal seketika di tempat itu.
Peti jenasah dukun Ahmad Suradji setelah dieksekusi
Foto : Khairul/Detikcom Medan
Suradji melakukan ritual lain dengan air liur korban yang sudah tidak bisa bergerak. Setelah itu, tubuh korban diangkat kembali. Ia membuka ikatan tali di kaki dan tangan Iyem, membuka seluruh pakaiannya hingga telanjang. Lalu Suradji menguburkan kembali korbannya di tempat itu juga. Esok paginya, Suradji beraktivitas seperti biasa, bertani. Seolah-olah tak ada kejadian apa pun. Ia bergaul seperti biasa dengan tetangganya.
Motif dan pola pembunuhan yang sama dilakukan Suradji terhadap korban-korban berikutnya. Korban kedua Suradji bernama Yusniar alias Niar, yang dibunuh pada sekitar Maret 1987. Korban ketiga adalah seorang perempuan bernama Tomblok sekitar 1988. Lalu korban lainnya di antaranya adalah Rusmina alias Popi (Agustus 1989), Diduk dan Rusmiani alias Anis korban (Juni 1992), Sulianti alias Yanti (Juni 1992), Irdayanti (28 Oktober 1992), Sadiem (17 Desember 1992), dam Kunyil (Januari 1993). Seluruhnya diketahui ada 42 perempuan yang telah dibunuh secara keji oleh Suradji.
Korban terakhir Suradji bernama Sri Kemala Dewi, yang dibunuh pada 23 April 1997. Dari kasus inilah kebiadabannya terbongkar. Empat hari setelah pembunuhan, warga Dusun Aman Damai dibuat geger ketika seorang pemuda menemukan mayat tanpa busana di ladang tebu. Mereka terkejut ternyata mayat itu adalah Dewi, yang dikabarkan menghilang tiga hari sebelumnya.
Polsek Sunggal pun menurunkan tim untuk menyelidikinya. Awalnya polisi mencurigai Tumin, mantan suami Dewi, karena keduanya sering bertengkar. Tapi polisi tak cukup banyak bukti. Pada satu kesempatan, polisi mendapatkan secercah petunjuk baru. Seorang warga bernama Andreas mengaku sempat mengantarkan Dewi ke rumah Suradji untuk berkonsultasi sebelum dikabarkan hilang.
Polisi kemudian mendatangi rumah Suradji. Pria itu mengakui Dewi memang pernah datang ke rumahnya. Namun, selepas Magrib, Dewi pulang ke rumahnya sendiri. Karena tak cukup bukti, polisi menghentikan penyelidikan. Polisi mendalami sejumlah laporan orang hilang dalam beberapa tahun terakhir.
Ternyata, dari sekian banyak orang yang dilaporkan hilang itu, terdapat satu benang merah. Kebanyakan dari mereka merupakan pasien Suradji. Polisi pun lalu menggeledah rumah Suradji. Di sana ditemukan sejumlah pakaian dan perhiasan perempuan, salah satunya milik Dewi. Suradji beserta ketiga istrinya pun ditangkap, yaitu Tumini, Tuminah, dan Ngatiyah.
Rekonstruksi pembunuhan dukun Ahmad Suradji
Foto : dok. ANTV
Lewat proses interogasi yang panjang, akhirnya muncul pengakuan dari mulut Suradji. Dia mengaku membunuh Dewi. Polisi tidak berhenti di situ. Suradji didesak terus. Dari yang semula hanya mengaku membunuh Dewi, Suradji akhirnya mengaku telah membunuh 16 perempuan. Hingga kemudian ia mengaku lagi telah membunuh 42 wanita. Hal itu membuat polisi terperangah.
Perbuatan itu dilakukan dengan dalih untuk mendapatkan kesaktian. Pembunuhan berantai ini dilakukan dari 1986 hingga 1997. Bahkan Suradji mengaku menerima bisikan gaib untuk membunuh 72 perempuan. Istri tertua Suradji, yakni Tumini, ikut membantu perbuatan suaminya. Suradji dan Tumini akhirnya mendekam di penjara.
Kisah Suradji dan korban-korbannya itu ditulis dalam buku ‘The Bastard Legacy: Warisan Legendaris Para Bedebah’ karya Jonathan pada 2015. Juga majalah Intisari edisi Juli 2017 dengan judul ‘Demi Ilmu Sakti, Suradji Membunuh 42 Wanita di Ladang Tebu’.
Suradji disidangkan di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, Sumut, pada 22 Desember 1997. Masyarakat berbondong-bondong menonton jalannya sidang. Saking banyaknya pengunjung, pihak Pemda Deli Serdang menyiapkan tenda besar serta empat televisi monitor bagi pengunjung yang tak kebagian tempat duduk di ruang sidang. Sidang pun dijaga empat peleton polisi.
Dalam persidangan, Suradji menolak laporan berita acara pemeriksaan polisi. Dia membantah tudingan telah membunuh 42 wanita. Pengakuan bahwa dirinya telah membunuh 42 wanita disebabkan oleh paksaan selama proses interogasi. Tumini, yang bersekutu dengan Suradji, pun membantahnya. Semua tuduhan jaksa dianggap sebagai kebohongan besar.
Persidangan pun berlangsung alot dan dilakukan maraton. Hakim berkeyakinan lain. Hakim yang diketuai Haogoaro Harefa menjatuhkan putusan pada 27 April 1998 dan menghukum Suradji dengan hukuman mati. Putusan hakim di tingkat banding dan kasasi tidak mengubah hukuman mati dukun Suradji itu.
Sementara itu, Tumini divonis penjara seumur hidup. Suradji dan Tumini dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Tanjung Gusta, Medan. Suradji mengajukan permohonan grasi kepada Presiden Megawati Soekarnoputri pada Agustus 2004. Baru pada era SBY, permohonan itu dijawab dan ditolak.
Menjelang pelaksanaan hukuman mati, Suradji mengajukan permohonan terakhir ke pengadilan untuk bertemu dengan keluarganya, termasuk Tumini. “Ada permintaan terakhir AS, yakni bertemu dengan istrinya dan itu sudah dipenuhi,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung DB Nainggolan kepada wartawan di kantornya, Jakarta, 11 Juli 2008
Sumber: https://news.detik.com/x/detail/crimestory/20211118/Kisah-Pembunuh-Berantai-Dukun-Suradji/
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 609
Sosok AKBP Achiruddin Hasibuan yang dipecat dari Polri. (Istimewa/ Instagram @achiruddinhasibuan)
Kapolda Sumut Irjen Panca Putra Simanjuntak mengumumkan hasil sidang kode etik AKBP Achiruddin. Panca menyebut mantan Kabag Bin Ops Ditnarkoba itu dijatuhi sanksi PTDH (pemberhentian tidak dengan hormat) dari Polri.{jcomments off}
"Berdasarkan pertimbangan, komisi sidang sudah memutuskan perilaku melanggar kode etik profesi Polri. Sehingga majelis komisi etik memutuskan untuk dilakukan PTDH," ujar Panca, dilansir detikSumut, Selasa (2/5/2023).
Sidang kode etik ini digelar sejak pukul 10.00 WIB tadi. AKBP Achiruddin terlihat memasuki ruang sidang di Bidang Propam Polda Sulut dengan seragam lengkap, ditambah topi serta masker.
Saat digiring dari Direktorat Tahti menuju Bid Propam Polda Sumut untuk menjalani sidang kode etik lanjutan sekitar pukul 14.30 WIB, AKBP Achiruddin sempat menyampaikan harapan agar dirinya mendapat keadilan.
"Semoga keadilan berjalan, makasih ya," ujarnya sambil berjalan menuju Bid Propam.
Setelah itu, dia juga menyampaikan agar kasus tersebut cukup hanya dirasakan sendiri. "Cukup kurasakan sendiri," ungkap dia.
Sumber: detik.com
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 673

Peristiwa pemerkosaan massal yang terjadi pada Mei 1998 bukan mitos. Sampai saat ini para korban tidak pernah mendapatkan keadilan.
Kerusuhan Mei yang terjadi 13 Mei hingga 15 Mei 1998 di Jakarta menciptakan suasana kacau. Salah satu yang terjadi selain pengrusakan, penjarahan adalah pemerkosaan massal yang menimpa perempuan etnis Tionghoa.
Selama tiga hari kerusuhan, pengaduan kasus pemerkosaan yang masuk Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK) mencapai ratusan orang. Atasnya banyak aduan yang masuk, tim ini kemudian membentuk Tim Relawan untuk Kemanusiaan Perempuan (TRKP). Sebanyak 152 laporan Kasus dari 12 Mei-2 Juni 2022 berhasil dihimpun.
TRK adalah kelompok relawan yang dibentuk pasca peristiwa penyerbuan kantor PDI di Jalan Diponegoro pada 27 Juli 1996 yang dikenal dengan peristiwa "Kudatuli", akronim dari kerusuhan dua puluh tujuh Juli.
TRK dibentuk oleh aktivis Sandyawan Sumardi atau Romo Sandy yang berisi pada aktivis dari Institut Sosial Jakarta, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), dan wartawan.
Dalam buku karangan berjudul Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia (2018) terbitan PT Pustaka Alvabet yang ditulis Samsu Rizal Panggabean, TRK saat itu terjun ke lapangan untuk mengusut peristiwa tersebut lebih lanjut.
Salah satu tim relawan TRK adalah yang sangat sibuk ketika itu adalah Ita Fatia Nadia. Dari buku tersebut, tergambarkan bagaimana ia kalang kabut menerima laporan terjadinya perkosaan. Ia diminta oleh Romo Sandy menuju Jakarta utara karena ada peristiwa serupa di sana. Tidak berselang lama, Romo Sandy kembali menelepon Fatia untuk wilayah Glodok Jakarta barat.

Fatia kemudian mendapatkan panggilan bahwa di depan Trisakti terjadi penyerangan terhadap perempuan oleh sejumlah orang dengan menggunakan mobil. Selanjutnya ia pergi ke Grogol dan temannya pergi ke Jakarta utara.
Setibanya di di Grogol, Fatia mendapat telepon bahwa terjadi lagi kasus perkosaan di Jembatan Lima, Jembatan Dua, Jembatan Tiga, dan Pluit. Di Bandara Soekarno-Hatta, ia melihat banyak korban perkosaan dalam keadaan panik dan stres. Mereka akan berangkat ke luar negeri karena takut dan untuk berobat. Beberapa diantaranya menggunakan kursi roda.
Jumlah laporan perkosaan yang dihimpun mencapai 152 kasus, sebanyak 20 diantaranya meninggal. Rinciannya pemerkosaan 103 orang, pemerkosaan dan penganiayaan 26 orang, perkosaan dan pembakaran 9 orang, dan pelecehan seksual 14 orang.
Pemerintah kemudian membuat Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk pemerintah Indonesia telah mengkonfirmasi laporan dengan hasil berbeda. Hasilnya tim menemukan 85 orang korban kekerasan seksual, 52 orang di antaranya korban pemerkosaan.
Verifikasi kasus perkosaan yang dilakukan TGPF bersumber dari fakta dari korban dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebanyak 15 orang dan fakta dari keluarga, saksi, psikolog, serta pendamping sebanyak 37 orang.
Fatia sendiri tidak mempersoalkan perbedaan catatan jumlah korban tersebut karena situasi saat itu sedang kacau.
Komnas Perempuan juga memperkirakan jumlah korban pemerkosaan Mei 1998 lebih dari laporan TGPF. Alasannya trauma perempuan korban dan keluarga membuat mereka bungkam sehingga tidak semua pemerkosaan didokumentasikan tim ini.
Menurut Fatia, aksi perkosaan ini menjadi modus untuk meneror masyarakat di dalam perubahan politik dengan menggunakan tubuh perempuan. Korban pertama dalam perkosaan massal 1998 adalah seorang perempuan keturunan Tionghoa.
"Negara punya kewajiban untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat Indonesia, khususnya kepada korban. Penjelasan ini yang menjadi tanggung jawab negara untuk menciptakan rasa adil dan mencegah peristiwa terulang kembali," kata Fatia dalam konferensi pers virtual Senin (17/5) lalu.
Tuntutan Penuntasan
Nyatanya tak semua tindak perkosaan saat itu bisa didokumentasikan TGPF, sehingga angka sesungguhnya kemungkinan lebih banyak dari yang dilaporkan. Tim Relawan untuk Kekerasan Terhadap Perempuan, Ita Fatia Nadia, bahkan telah mengundurkan diri dari sejak permulaan.
"Saya didesak sekali untuk bisa membawa saksi korban, kalau tidak ada saksi korban itu tidak ada perkosaan. Sementara menurut saya, para korban perkosaan ini mereka adalah perempuan Tionghoa," kata dia.
Dalam tradisi Tionghoa, kata Fatia jika seseorang sudah diperkosa, hal tersebut menjadi aib yang besar untuk keluarga dan komunitas. Oleh sebab itu, dua korban perkosaan keturunan Tionghoa di Jembatan Tiga dan Jembatan Dua, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Menghadirkan saksi korban pemerkosaan yang merupakan perempuan Tionghoa ini menurut Ita adalah salah. Korban pemerkosaan tidak seharusnya dipamerkan ke publik. "Tetapi bagaimana kita melindungi korban, bagaimana kita menjaga korban dan di situ banyak kita harus percaya pada pendamping korban bahwa memang terjadi perkosaan," ujar dia.
Salah satu korban juga yang banyak diketahui adalah Ita Martadinata. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sudah mengetahui, karena Ita Martadinata satu-satunya korban yang bersedia untuk bersaksi.
Anehnya beberapa hari sebelum Ita Martadinata hendak menyampaikan kesaksiannya, ia meninggal. Sampai sekarang penyebab kematian Ita Martadinata sendiri masih misterius.
Atas kematian Ita, semakin menguatkan dugaan perkosaan dilakukan secara sistematis. Fatia mengatakan, tidak mungkin perkosaan hanya dilakukan dalam waktu 3 menit atau 5 menit, terlalu lama. Diduga modus yang dilakukan oleh para pelaku adalah mereka datang, merusak, menjarah, dan memperkosa.
Komnas Perempuan dalam siaran pers 13 Mei 2022, juga memperkirakan jumlah korban pemerkosaan Mei 1998 lebih dari laporan TGPF. Alasannya trauma korban perempuan dan keluarga membuat mereka bungkam sehingga tidak semua pemerkosaan didokumentasikan TGPF. Komnas Perempuan juga menyoroti pemenuhan hak perempuan korban yang belum terpenuhi setelah 24 tahun.
Komnas Perempuan menyatakan, para korban pelanggaran HAM kini mulai menua dan sebagian lagi telah meninggal. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mendapatkan keadilan menurut Komnas Perempuan.
"Negara masih bergeming terhadap tuntutan penuntasan pelanggaran HAM berat masa lalu sementara para korban menua dalam penantian keadilan," tulis Komnas Perempuan melalui rilis 13 Mei 2022.
Komnas Perempuan mendorong pemerintah untuk memberi perhatian khusus terhadap mereka. Terutama dalam memberikan layanan kesehatan fisik, psikis, dan bantuan ekonomi yang amat dibutuhkan dalam menjalani masa tua.
Bagi Fatia tragedi pemerkosaan pada Mei 1998 yang selalu disangkal jangan sampai terlupakan. "Merawat ingatan adalah membawa kita memanggil kembali memori-memori dari para korban peristiwa Mei 98 untuk diingat terus-menerus," ujar dia.
"Bangsa ini masih berutang kepada sejumlah perempuan yang diperkosa pada Mei 98 hanya karena untuk saya katakan tumbal dari pergantian kekuasaan di negeri ini," imbuh dia.
Fatia pun menegaskan, negara dan juga masyarakat luas masih memiliki tanggung jawab untuk tetap merawat ingatan tragedi Mei 98. Melawan tindakan pemerkosaan harus jadi gerakan sosial agar hal tersebut tidak terulang di masa depan.
Sumber: FB KataKita