Top Stories
-
ABG 17 Tahun Disekap di Kamar Hotel Jakut, Pelaku WNA Ditangkap
-
Jika Harga Bergerak Hanya 2 Tik. Misal 5400 - 5450
-
Scalping itu Singkat dan Cepat TP. Bukan Menunggu.
-
Pedagang Ramai Jual Fortuner-Pajero Bekas Segini Efek Harga Solar Naik
-
Baca Bid–Offer (Ask)
-
Jangan Menahan Floating Loss Lebih 4% Dalam Scalping.
-
Mindset Cut Los 2 % Adalah Menyelamatkan Modal 98%.
-
Jika Bisnismu Masih Susah Naik, Fokus Hanya Satu Bidang Saja Yang Anda Benar-benar Ahli
-
Jangan Target Cuan Terlalu Tinggi. TP Tipis Tetapi Masuk Berkali-kali.
Search
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 578
Suasana Pasar Jatinegara, Jakarta Timur ramai pengunjung berburu kue lebaran, Kamis (13/4/2023). ANTARA/Siti Nurhaliza
"Ramai banget, lumayan sih orang sudah mulai banyak datang beli macam-macam kue," kata salah satu penjual kue di Pasar Jatinegara Novita (20), Kamis.
Terlihat para penjual kue bersemangat menawarkan dagangannya dan mulai sibuk melayani pembeli.
Dari beberapa kue lebaran dan cemilan ringan yang tersedia, kue nastar, kue keju, kue putri salju dan cemilan ringan menjadi kue yang paling banyak diminati konsumen.
"Banyak sih ada kue lidah kucing, cokelat keju, masih banyak nastar-nastar yang lain. Iyaa snack-snack intinya kue kering itu banyak yang cari," ucap Novita.
Adapun kios-kios kue di Pasar Jatinegara ini mulai buka pukul 07.00 sampai 17.00 WIB. Harga kue di Pasar Jatinegara berkisar Rp170-190 ribu per kilogram untuk kue kering lebaran, sedangkan harga cemilan berkisar Rp50-80 ribu tergantung jenis kue dan ukuran.
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 505
Negeri ini Pernah Diurus Dengan Sepenuh Hati
(Mau bilang pemerintah Pak Harto Korupsi juga nga apa, tapi dibawah ada sedikit Fakta, yang merasa tulisan ini tidak benar gpp, nga usah marah2).
Sekarang juga pak Jokowi ok, hanya saja tidak berani memakai tangan besi untuk melibas penchianat Bangsa(koruptor).
Yang lahir sesudah 1988 baca aja, mungkin nga usah komentar.
Melihat foto ini di timeline, kenangan langsung terbayang bagaimana metode pemilihan Menteri di era Pak Harto berjalan dengan selektif, berwibawa, berilmu dan berintegritas. Hampir tak pernah kita dengar ada Menteri era beliau yang aneh-aneh pernyataannya dan perbuatannya. Semua terdidik dan tertata dengan baik. Koordinasi antar departemen sangat baik, tidak ada yang menjadi Menteri segala urusan.
Pemilihan menteri semua berkompeten di bidangnya, meski zaman itu profesor sangat jarang.. namun kebanyakan mereka bergelar profesor, artinya apa.?? Memang kemampuan akademik menjadi tolok ukur kemampuan, pemikiran, dan kewibawaan.
Di acara kenegaraan baik itu ASEAN atau level dunia, mencari pemimpin kita paling gampang. Kalo foto bersama pasti berada di depan sekali dan posisinya di tengah. Benar-benar dihormati sebagai pemimpin negara besar..
Beralih ke daerah.. Gak ada ceritanya zaman itu anak baru tamat kuliah jadi bupati atau jadi anggota dewan.. politik memang zona org yg mapan berpikir, mapan ekonomi dan mapan pendidikan.. Benar2 diseleksi.
Level Gunernur atau bupati setidaknya kalo kita ingat adalah pensiunan tentara berpangkat Kolonel atau mantan rektor atau pejabat yg sdh berpengalaman puluhan tahun. Jadi bisa menterjemahkan arah pembangunan dari skala nasional ke daerah.
Zaman itu, Politik bukan tempat orang-orang buangan yg gak diterima di dunia kerja, lalu karena banyak duit dan banyak keluarga bisa menjadi anggota dewan dan pemimpin daerah. Bupati/Walikota dan Gubernur benar-benar berkualitas. Masih melekat dalam ingatan kita siapa nama Bupati kita saat itu, bahkan Bupati sebelah-sebelah Kabupaten. Sekarang? Ada yang tahu nama Gubernur Aceh gak??
Dulu, mba tutut bisa jadi menteri setelah berusia 49 tahun itu pun sebelumnya pernah jadi anggota MPR RI. Jadi kalo pun disebut Nepotisme tapi memang bermutu.
Perasaan sekarang “dipilih langsung” oleh RAKYAT.
Lantas, di tubuh kesatuan dan pemerintahan. Siapa jadi apa karena bapaknya ada di lingkaran kekuasaan.
Akh.. Benar-benar kangen zaman Pak Harto..
Dimana Zaman tak boleh ada sekolah swasta kaya, seragam SD sampai SMA diciptakan di jaman Pak Harto, tujuannya agar satu, si kaya dan si miskin bisa satu kelas dalam tujuan pendidikan.
Zaman dimana masa2 swasembada pangan bahkan bisa ekspor, kita bisa hidup tenang gak mikirin habis beras, negara agraris bukan hanya slogan, semua dikelola dan dijamin oleh pemerintah..
Zaman pak Harto, Pak Tani dikasih tamu mimbar dialog rutin dalam kelompencapir bukan diboongi kasih subsidi pupuk dan traktor lalu ditarik lagi..
Zaman pak Harto, kalo ke sawah ya panen raya bersama semua Menteri menunjukan pada dunia bahwa Indonesia adalah negara besar. Maka setiap kali acara kenegaraan mencari posisi Soeharto paling gampang, paling depan dan tengah...
Era sekarang mah beda, ke sawah pas dekat pemilu saja sampe masuk-masuk lumpur, giliran udah jadi boro2 mikirin petani.. petani panen malah dihajar dibuka keran impor...
Zaman Pak Harto masuk UI, masuk UGM murah banget, jaman sekarang pendidikan na'uzubillah mahal banget, anak SD saja bisa puluhan juta masuk ke sekolah swasta yang status sosialnya tinggi, pendidikan dibawa ke komoditifikasi status sosial, jaman Pak Harto pendidikan dibawah negara, kualifikasi ada di tangan negara, sehingga yang maju sekolah-sekolah negeri. Kita masih ingat asal nama SMA 1 adalah sekolah terbaik
, lalu ada sekolah-sekolah terbaik
negeri di segala penjuru, si kaya dan si miskin bersekolah di tempat yang sama.
Jaman anak tukang becak kuliah sudah biasa, jaman sekarang anak tukang becak bisa lulus dokter dianggap mukjizat dirayakan besar-besaran, sistem pendidikan dirampas hanya untuk orang kaya.
Jaman Pak Harto puskesmas di mana-mana, sistem pengobatan teratur, posyandu dijadikan gerbang besar kesehatan publik, ibu-ibu PKK dijadikan volunteer atas kinerja negara di bidang kesehatan, tapi di jaman sekarang, para dokter dan suster diajarkan bagaimana cara berbisnis, tidak ada lagi gairah dalam berbisnis. Di zaman sekarang inilah tragedi kesehatan berlangsung, bayi mati ditolak di rumah sakit, anak remaja mati ditolak rumah sakit, padahal rumah sakit menjamur dimana-mana.....
Zaman Pak Harto pendidikan, kesehatan dan papan menjadi tugas layanan negara di jaman demokrasi liberal pendidikan, kesehatan dan papan menjadi alat kapitalis dalam menguras kerja rakyat. Tak ada pertanggungjawaban negara sama sekali atas ruang publik.
Zaman Pak Harto, selalu dekat dan santun dengan Ulama.. Maka memang negeri ini adem. Karena diurus dengan serius.
Disalin dari akun FB Peter F. Gontha
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 502
Foto: Iistimewa/dok. Chaswanah
SitindaonNews.Com, || Anak penjual sayur keliling ini sungguh brilian. Dia ditolak di 2 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) namun malah keterima di 3 kampus luar negeri (LN).
Takdir itu jatuh kepada Chaswanah Aini (18), siswi SMAN 3 Malang, warga kecamatan Pakis, Malang, Jawa Timur. Hidupnya dipenuhi keterbatasan, namun Chaswanah tak menyerah mengejar mimpinya untuk berkuliah di luar negeri.
"Memang mimpi itu sempat saya kubur dalam-dalam karena selama ini hanya ibu saya sendiri yang bekerja berjualan sayur keliling untuk menghidupi 3 anaknya. Bapak meninggal sejak saya masih usia 9 tahun," ungkap Chaswanah diwawancara detikJatim, Rabu (5/4/2023).
Bahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, Chaswanah sempat bekerja sebagai private tutor selama 3 tahun saat dirinya duduk di bangku SMP dan juga pernah bekerja di Learning Management System selama 6 bulan.
"Kalau saya ngajar privat tutor itu awalnya banyak temen yang kesulitan memahami materi dan saya bantu. Ternyata apa yang saya lakukan didengar pelanggan sayur ibu saya dan diminta ngajar privat anaknya," tuturnya.
Chaswanah mulai mewujudkan mimpinya selangkah demi selangkah saat kelas 11. Saat itu dia mencoba mendaftar melalui jalur beasiswa. Chaswanah sadar tak ada mimpi yang tercapai dengan instan, semuanya mesti melalui proses.
"Untuk mengurus pendaftaran, berkas dan mengikuti ujian seleksinya itu memang memakan waktu panjang. Tapi saya tetap mencoba untuk mengikuti setiap tahapannya," kata dia.
Di pertengahan jalan mendaftar beasiswa ke luar negeri, Chaswanah juga memutuskan untuk mendaftar Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Brawijaya (UB) adalah pilihannya.
"Daftar UB itu saya ambil jurusan manajemen dan di ITB itu ambil jurusan bisnis manajemen. Ya sayangnya saya tidak diterima di kedua perguruan tinggi itu," ujarnya.
Kini dia tidak bersedih lagi karena ditolak UB dan ITB. Melalui Beasiswa Indonesia Maju (BIM), Chaswanah diterima di 4 program yang ada di 3 universitas luar negeri dan 1 sekolah terlepas. University of Toronto Canada, Mcmaster University Canada, Monash University Australia, dan DeGroote School of Business Canada.
Anak kedua dari 3 bersaudara itu mengaku jika disuruh memilih dirinya akan memutuskan untuk masuk ke University of Toronto Canada. Mengingat kampus dengan program Social Sciences and Humanities yang diambil sesuai dengan keinginannya sejak awal.
"Tapi saya bener-bener nggak menyangka, pada akhirnya mimpi untuk kuliah di luar negeri bisa tercapai. Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan ini," sambungnya.
Dia berhasil meraih mimpi, dia juga merasa bersyukur dan senang telah mendapatkan dukungan dari keluarganya untuk melanjutkan studi S1 ke luar negeri. Saat ini dirinya pun masih menunggu tahapan akhir Letter of Government (LOG). Jika tidak ada halangan selama prosesnya, Chaswanah mulai aktif dalam perkuliahan pada September 2023 mendatang.
"Ibu saya mendukung sekali. Bahkan berhasil lolos saat mendaftar ke universitas luar negeri ini tentu tidak lain berkat doa dari ibu saya," tandasnya.
Sumber: detik.com
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 398
GEREJA & MASJID BERDAMPINGAN
Di tengah banyaknya penolakan rumah ibadah non Muslim, datang kabar gembira dari Bupati Lumajang, Thoriqul Haq yang justru melanjutkan pembangunan gereja dan masjid secara berdampingan di Desa Tempeh Tengah, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang.
Read more: Bupati Lumajang Thoriqul Haq Lanjutkan Pembangunan Gereja Berdampingan Dengan Masjid
- Details
- Category: News of the Day
- By ZA Sitindaon
- Hits: 373
Ilustrasi - Flu Burung atau H5N1. ANTARA/HO-Sutterstock.
Senegal melaporkan wabah flu burung H5N1 yang sangat menular di sebuah peternakan unggas di wilayah barat laut negara tersebut, menurut Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (WOAH) pada Jumat (31/3).
Wabah terjadi pada 18 Maret di salah satu peternakan yang berada di desa Potou dekat Kota Louga, tidak jauh dari Taman Nasional Langue de Barbarie, lokasi wabah H5N1 terdiagnosis pada 12 Maret, kata WOAH mengutip otoritas Senegal.
"Kemungkinan besar ada hubungan epidemiologis antara kedua wabah tersebut," kata badan PBB yang berbasis di Paris itu.
Wabah H5N1 telah membunuh 500 burung di kawanan 11.400 hewan, dengan hewan sisanya dimusnahkan, kata WOAH.
Flu burung telah menyebar ke seluruh dunia tahun lalu sehingga menyebabkan lebih dari 200 juta burung mati, harga telur melambung dan meningkatkan kekhawatiran di kalangan pemerintah tentang penularan virus ke manusia.
Sumber: Antara