Top Stories
-
Siap-siap Ekonomi Semakin Parah, 5 Tahun Kedepan Secara Keseluruhan Akan Berat!
-
Lingkunganmu Menentukan Hidupmu
-
HP Mulai Ditinggalkan di 2026, Ramai-ramai Beralih ke Penggantinya
-
Nasabah Menjerit di DPR: Bank Muamalat Diduga Gelapkan Dana Miliaran
-
China Berlakukan Wajib Steer-By-Wire Untuk Semua Mobil
-
Medan Perang Durian di Tiongkok
Search
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 578
Warga India mandi dengan kotoran sapi
SitindaonNews.Com | India saat ini tengah dihadapkan pada ledakan kasus COVID-19. Kasus COVID-19 di India diketahui tercatat sebanyak 23,7 juta kasus.
Sebaran kasus COVID-19 tertinggi terdapat di Maharashtra sebesar 5,23 juta kasus. Disusul Karnataka sebesar 2,05 juta kasus, Kerala mencatat 2,01 juta kasus, Uttar Pradesh tercatat ada 1,56 juta kasus.
Di tengah kasus COVID-19 yang meningkat di India, orang-orang di sana berinisiatif melumurkan kotoran sapi ke tubuh mereka untuk mencegah COVID-19.
Dilansir dari laman Dailystar, dilaporkan bahwa beberapa di negara bagian Gujurat barat telah berbondong-bondong ke tempat penampungan sapi untuk melumuri tubuh mereka dengan kotoran sapi.
Mereka percaya itu akan membantu meningkatkan kekebalan mereka dan menghentikan mereka tertular virus. Jika mereka sudah terjangkit virus corona, mereka percaya bahwa praktik tersebut akan membantu pemulihan mereka.
Tetapi tindakan warga India itu dibantah oleh presiden nasional Asosiasi Medis India, Dr JA Jayala. Dia menyebut tidak ada bukti ilmiah yang konkret bahwa kotoran sapi berfungsi untuk meningkatkan kekebalan terhadap COVID-19.
"Ada juga risiko kesehatan yang terlibat dalam mengolesi atau mengonsumsi produk ini, penyakit lain dapat menyebar dari hewan ke manusia," kata dia.
Meskipun sapi tidak dianggap sebagai dewa dalam agama Hindu, sapi dianggap sebagai simbol suci kehidupan dan bumi yang harus dilindungi dan dihormati. Mereka mengeringkan kotoran tersebut sebelum dicuci bersih dengan susu atau buttermilk.
Untuk diketahui, orang-orang telah menggunakan kotoran sapi selama berabad-abad untuk membersihkan rumah mereka. Karena menurut mereka kotoran tersebut memiliki manfaat terapeutik dan antiseptik. Tetapi dokter mengatakan tidak ada bukti apa pun bahwa kotoran hewan akan bermanfaat dalam memerangi virus pembunuh
Sumber: viva.co.id
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 552
Ilustrasi kamar pasien Covid-19
SitindaonNews.Com | Jumlah warga yang terkonfirmasi positif COVID-19 di Aceh sejak awal Mei 2021 terus bertambah, sehingga ruang perawatan di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh nyaris penuh.
Rata-rata pasien yang dirujuk di RSUZA merupakan pasien COVID-19 yang memiliki gejala berat disertai penyakit komorbid.
“Tingginya kasus positif yang dirujuk ke rumah sakit menunjukkan meningkatnya kasus COVID-19 dengan gejala berat dan disertai penyakit komorbid,” kata Juru Bicara Satgas COVID-19 Aceh, Saifullah Abdulgani, Senin 10 Mei 2021.
Saat ini kapasitas perawatan penderita COVID-19 di Aceh sebanyak 747 tempat tidur, termasuk rumah sakit lapangan RSUZA Banda Aceh, yang diresmikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Letjend TNI Doni Monardo pada 20 April 2021 lalu.
Kapasitas rumah sakit rujukan COVID-19 yang mencapai 747 tempat tidur itu, meliputi 82 tempat tidur Ruang Intensive Care Unit (RICU), dan 665 tempat tidur isolasi rumah sakit, yang menyebar di seluruh Aceh. Paling banyak di RSUZA Banda Aceh, yakni 15 tempat tidur RICU, dan 70 tempat tidur isolasi.
Untuk kapasitas RICU RSUZA yang saat ini terpakai sudah mencapai 11 tempat tidur, atau 73,3 persen dari 15 kapasitas yang ada. Sedangkan kapasitas ruang isolasi yang sedang terisi sebanyak 53 tempat tidur, atau 75,7 persen dari kapasitas tempat tidur yang tersedia.
Menurut Saifullah, tingkat pengisian tempat tidur rumah sakit rujukan utama, RSUZA Banda Aceh, perlu mendapat perhatian Satgas Penanganan COVID-19 kabupaten/kota, khususnya dalam manajemen rujukan pasien COVID-19.
Sebelum merujuk pasien, ia meminta harus memastikan ketersediaan tempat tidur di rumah sakit rujukan utama tersebut, agar pasien dapat ditangani dengan baik.
“Pasien COVID-19 yang kondisi medisnya dapat ditangani di RSUD kabupaten/kota sebaiknya tidak dirujuk ke RSUZA. Rujukan pasien Covid-19 harus dilakukan secara selektif,” katanya.
Ia memprediksi kasus baru positif COVID-19 diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa pekan ke depan, dan perlu diantisipasi dengan ketersediaan tempat perawatan atau ruang isolasi di RSUD kabupaten/kota. Kata dia optimalisasi fungsi ruang perawatan yang ada merupakan solusi jangka pendek yang perlu dipertimbangkan.
“Jangan menantang virus corona, dan segera disiplinkan diri dan keluarga dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin,” katanya.
Jumlah kasus COVID-19 secara akumulatif di Aceh telah mencapai 11.830 kasus. Para penyintas, yang sembuh dari COVID-19 sebanyak 10.061 orang. Pasien masih dirawat 1.295 orang, dan penderita yang meninggal dunia sudah mencapai 474 orang
Sumber: viva.co
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 1012

SitindaonNews.Com | Sebuah penelitian baru memperingatkan bahwa pria botak dua kali berisiko mengalami COVID-19 yang parah. Penelitian itu menyimpulkan bahwa para pria botak menghabiskan waktu dua kali lebih lama di rumah sakit selama COVID-19, dibandingkan para pria yang berambut lebat.
Selain itu, para pria botak juga menjalani perawatan intensif dalam jumlah yang lebih tinggi.
Dilansir laman The Sun, para peneliti mengatakan, kerentanan pria terhadap COVID-19 sebagian besar dipengaruhi oleh hormon seks pria yang disebut dengan androgen. Pria yang lebih sensitif terhadap androgen lebih berisiko mengalami COVID-19 yang parah.
Mereka juga kemungkinan besar mengalami kerontokan rambut, yang disebut dengan androgenetic alopecia, yang mempengaruhi sekitar setengah pria di usia lebih dari 50 tahun.
Kondisi umum ini juga mempengaruhi wanita tapi dengan cara berbeda, yaitu menyebabkan penipisan di mahkota kepala di atas usia 65 tahun.
Androgenetic alopecia sebelumnya dikaitkan dengan beberapa kondisi meliputi penyakit jantung dan diabetes.
Sebuah tim dari para dokter Amerika Serikat mengukur sensitivitas pria terhadap androgen dengan menghitung zat kimia yang disebut dengan CAG. Kadar yang tinggi mengindikasikan bahwa pria lebih berisiko mengalami kerontokan rambut.
Dari 65 pria yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19, mereka dengan kadar CAG tinggi mengalami akibat lebih buruk dari COVID-19 dalam 60 hari setelah masuk rumah sakit.
Mereka menghabiskan waktu 45 hari di rumah sakit, dan 70,6 persen masuk ICU. Sebagai perbandingan, pria dengan kadar CAG rendah menghabiskan rata-rata 25 hari di rumah sakit, dan 45,2 persen masuk ICU.
Peneliti utama Dr Andy Goren, kepala petugas medis di Applied Biology, Inc, California, mengatakan bahwa kadar CAG bisa digunakan untuk mengetahui pria yang berisiko masuk ICU.
Dia mengatakan, studi ini menambah bukti bahwa variasi pada gen AR dan kerentanan terhadap androgen pada tingkat tertentu mengimplikasikan keparahan pada infeksi COVID-19.
Androgen dipercaya bertindak sebagai gerbang untuk meningkatkan kemampuan virus menyerang sel. Ini juga bisa menjelaskan kenapa lebih banyak pria meninggal karena COVID-19 dibanding wanita.
Sumber: viva.co.id
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 724
Bill Gates dan Melinda Resmi Bercerai
Dunia dikejutkan dengan pengumuman perceraian pasangan suami istri terkaya di dunia, Bill Gates dan Melinda Gates.
Keduanya telah menjalani pernikahan selama 27 tahun dan memiliki tiga orang anak. Mereka juga memiliki sebuah yayasan swasta bernama Gates Foundation.
Perceraian akan menimbulkan pertanyaan baru tentang nasib kekayaan Bill Gates, yang sebagian besar belum disumbangkan ke Gates Foundation. Bill Gates, seorang pendiri Microsoft, merupakan salah satu orang terkaya di dunia dengan uang dimilikinya sebesar US$124 miliar atau Rp1.785 triliun.
Kekayaan yang melimpah memberi mereka akses ke tingkat tertinggi di pemerintahan, bisnis, dan sektor nirlaba.
Yayasan Bill dan Melinda Gates memiliki dana abadi sekitar US$50 miliar atau Rp722 triliun, yang mana memiliki pengaruh besar dalam berbagai bidang. Mulai dari kesehatan global hingga pendidikan anak usia dini.
Selama satu tahun terakhir, Bill dan Melinda Gates terlihat teratur mengomentari perjuangan di seluruh dunia melawan pandemi COVID-19, karena yayasan mereka menghabiskan lebih dari US$1 miliar atau Rp14 triliun untuk memerangi wabah tersebut.
"Gates Foundation adalah entitas filantropi paling penting dan berpengaruh di dunia saat ini karena Gates Foundation adalah yayasan keluarga. Perceraian mungkin berdampak besar bagi yayasan dan pekerjaannya di seluruh dunia," ujar Rob Reich, profesor ilmu politik di Universitas Stanford, Amerika Serikat (AS).
Yayasan itu menampung 1.600 staf di seluruh dunia, memberikan sekitar US$5 miliar atau Rp72 triliun setiap tahun di bidang-bidang seperti kesehatan dan pembangunan masyarakat global, menurut situs New York Times, Selasa, 4 Mei 2021.
Gates Foundation juga memanfaatkan keahlian dan hubungannya untuk memainkan peran penting dalam merumuskan tanggapan global terhadap pandemi COVID-19, berinvestasi sejak dini pada kandidat vaksin dan membantu membentuk Covax, inisiatif global yang mengorganisir pembelian vaksin untuk 92 negara miskin dan lusinan negara lainnya.
Sumber: viva.co
- Details
- Category: Lifestyle & Health
- By ZA Sitindaon
- Hits: 556

"Peraturan BPOM itu dengan tegas melarang visualisasi kental manis yang disetarakan dengan pelengkap gizi layaknya produk susu pertumbuhan."
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) siap mendukung pelaksanaan Peraturan BPOM No 31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan yang waktu penyesuaiannya akan berakhir pada April 2021 mendatang.
“Semua jenis produk makanan termasuk kental manis aman dikonsumsi selama produk tersebut digunakan sesuai peruntukan golongan umurnya,” ujar Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes, dr Rr Dhian Probhoyekti, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu.
Dia menambahkan kental manis secara komposisi mengandung gula yang cukup tinggi sementara kandungan gizi seperti vitamin dan mineralnya sangat rendah dibandingkan susu bubuk atau susu formula lainnya.
“Jadi untuk anak-anak yang masih memerlukan zat gizi untuk pertumbuhannya dan perkembangannya secara optimal, maka makanan yang tepat adalah yang kandungan gulanya sesuai dengan usia anak tersebut, bukan kental manis. Hal itu untuk mencegah terjadinya obesitas,” tambah dia.
Peraturan BPOM itu dengan tegas melarang visualisasi kental manis yang disetarakan dengan pelengkap gizi layaknya produk susu pertumbuhan, termasuk yang diseduh dan disajikan sebagai minuman tunggal.
Peraturan BPOM juga mewajibkan produsen Kental Manis untuk mencantumkan tulisan “Tidak untuk menggantikan ASI, tidak cocok untuk bayi sampai usia 12 bulan, dan tidak untuk menjadi satu-satunya sumber asupan gizi” dengan teks warna merah pada kemasannya. Namun yang tak kalah penting adalah, tayangan di televisi tidak boleh menampilkan anak di bawah usia lima tahun sebagai pemeran tunggal dalam iklan komersil produk kental manis.
Dia mengaku selalu bergandengan tangan dengan BPOM, termasuk untuk penegakan PerBPOM No.31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, utamanya terkait gizi anak.
“Itu sudah kita lakukan dan kita dukung. Peraturan tersebut menyebutkan bahwa iklan dan label kental manis dilarang menampilkan anak di bawah lima tahun, kemudian dilarang menggunakan visualisasi bahwa kental manis disetarakan dengan susu lain atau sebagai pelengkap gizi. Dilarang memvisualisasi kental manis dalam air di gelas yang disajikan sebagai minuman tunggal. Untuk iklan dilarang ditayangkan pada jam anak-anak. Ini sebenarnya sudah menjadi komitmen kita bersama dengan BPOM untuk melakukan hal ini,” terang dia.
Dia menjelaskan kandungan gula pada kental manis itu lebih dari 50 persen, sedang anak berusia satu hingga tiga tahun itu cuma membutuhkan 13-25 gram atau setara dengan dua sendok makan sehari.
Kemenkes mendorong masyarakat untuk tetap menerapkan standar emas pemberian makan bayi dan anak-anak yaitu, inisiasi menyusui dini (IMD) segera setelah bayi lahir dalam satu jam pertama, dilanjutkan dengan rawat gabung.
Kemudian memberikan makanan pendamping ASI kepada anak di atas 6 bulan, dan terus melanjutkan pemberian ASI sampai usia anak dua tahun atau lebih.
Sumber: antaranews.com